Sambut New Commonplace, Destinasi Wisata di Sleman Tak Mau Tergesa-gesa


Harianjogja.com, SLEMAN – Meskipun antusias dengan rencana dibukanya kembali destinasi wisata di generation new commonplace, pelaku wisata di Sleman tak mau gegabah. Mereka mengaku tak tergesa-gesa dan terus mempersiapkan diri menyambut wisatawan yang datang sesuai protokol kesehatan.

Ketua Discussion board Komunikasi (Forkom) Desa Wisata Sleman Doto Yogantoro mengatakan hingga kini persiapan menyambut kedatangan wisatawan di generation new commonplace terus dilakukan. Bahkan sebelum benar-benar dibuka, destinasi wisata akan menggelar simulasi operasional destinasi wisata sesuai protokol kesehatan.

“Persiapan masih kami lakukan pada Juni ini. Nanti rencananya ada simulasi [sebelum destinasi wisata dibuka]. Simulasi rencananya digelar setelah tanggal 10 Juni. Kami bersama kementerian juga akan membuat movie dokumenter,” katanya saat dihubungi Harian Jogja, Rabu (3/6/2020).

Ketua Pengurus Desa Wisata Pentingsari ini mengatakan sejumlah fasilitas seperti westafel bagi wisatawan, sarana dan prasarana di homestay, lokasi kuliner hingga atraksi yang disajikan akan disesuaikan dengan protokol Covid-19. Buat operasional, kata Doto, ia masih menunggu aturan dari pemerintah.

“Kami ikuti aturan pemerintah, terapkan protokol dan tidak terburu-buru. Kita harus menjadikan new commonplace ini sebagai budaya masyarakat sebelum [diterapkan] ke wisatawan,” katanya.

Ketua Desa Wisata Pulesari Didik Irwanto mengatakan distinasi wisata Pulesari masih menata SOP mulai SOP bagi wisatawan, SOP petugas dan kesiapan lainnya sebelum beroperasi. Termasuk protokol sarpras kesehatan. Jika seluruhnya sudah siap, kata Didik, mereka akan menggelar simulasi yang akan digelar sekitar Juli atau setelah masa tanggap darurat di DIY selesai.

“Persiapan penerapan New Commonplace Pariwisata baik terkait dengan kesehatan, keamanan, pelayanan hingga masalah kebersihan. Ini masih Kami siapkan,” katanya.

Didik mengaku, para pelaku wisata dan warga antusias dengan rencana pembukaan kembali destinasi wisata. Meskipun begitu, mereka juga tak ingin buru-buru beroperasi jika semua persiapan tidak sesuai dengan protokol kesehatan penanganan Covid-19. “Meski antusias menyambut new commonplace tetapi kami tidak mau buru-buru. Kalau persiapan belum sesuai dengan regulasi tentu kami belum beroperasi,” katanya.

Menurut Didik, destinasi wisata seperti desa wisata merupakan wisata berbasis masyarakat. Sebelum membuka kegiatan pariwisata di masa pandemi Covid-19, maka desa wisata harus tetap memerhatikan protokol kesehatan pariwisata dan juga kondisi masyarakat.

“Membuka operasional desa wisata di masa pandemi saat ini dapat menjadi harapan bagi warga dan juga dapat menjadi malapetaka jika persiapan yang dilakukan warga tidak matang. Kuncinya terletak pada rembug warga dalam menyikapi kondisi saat ini,” kata Didik.

Sebelumnya, Kepala Dispar Sleman Sudarningsih mengatakan Dispar terus menggodok standar operasional prosedur (SOP) bagi pengelola wisata saat mereka menerima wisatawan di sela-sela pandemi Covid-19. Aturan tersebut akan ditetapkan oleh Dispar DIY buat diterapkan secara seragam oleh masing-masing kabupaten dan kota. “Berdasarkan jadwal, five Juni SOP sudah selesai dibahas. Setelah itu, ada uji coba penerapan SOP di destinasi wisata sebelum benar-benar diterapkan,” katanya, Selasa (2/6).

Menurut Ningsih, penerapan new commonplace pariwisata salah satu bertujuan buat menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, pengelola wisata tetap menekankan pada aspek kesehatan. “Misalnya, setiap pengunjung wajib menggunakan masker, menjaga jarak dan diperiksa suhu badannya dengan thermogun. SDM di masing-masing destinasi wisata juga disiapkan,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *