Wacana Pembukaan Destinasi Wisata Disambut Positif Pelaku Usaha


Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Pelaku usaha di kawasan wisata menyambut baik wacana pembukaan destinasi wisata oleh Pemkab Gunungkidul. Pasalnya, adanya pandemi corona membuat sektor usaha yang digeluti ikut terkena dampaknya.

Pemilik kedai lobster Pak Sis di Kawasan Pantia Timang, Desa Purwodadi, Tepus, Gunungkidul Wasiman mengatakan, dampak dari corona terpaksa menutup usaha hampir selama dua bulan. Penutupan tidak lepas kebijakan pemerintah yang menutup kawasan obyek wisata buat mengurangi risiko penyebaran virus. “Praktis usaha ikut berhenti, tapi mulai beberapa waktu lalu sudah mulai buka dengan fashion pemesanan secara on-line atau menjual lobster buat pangsa ekspor,” kata Wasiman, Rabu (3/6/2020).

Menurut dia, buat usaha di kedai praktis masih ditutup oleh karena destinasi wisata belum dibuka. Wasiman pun mengaku senang dengan adanya wacana buat membuka kembali obyek wisata. “Kami tunggu itu. Katanya, akhir Juni dapat dibuka dan aku berharap hal tersebut dapat direalisasikan,” ungkapnya.

Sebelum destinasi benar-benar dibuka, Wasiman juga akan mempersiapkan buat membuka kedainya kembali. Ia pun berkomitmen menaati protokol kesehatan dalam rangka pencegahan corona. “Kebetulan tempat kami sudah ada fasilitas cuci tangannya. Jadi, tinggal mempersiapkan protokol kesehatan lainnya,” katanya.

Disinggung mengenai ketersediaan air, Wasiman mengaku tidak mempermasalahkan oleh karena sejak beberapa tahun lalu sudah teraliri pasokan air dari PDAM. “Tahun lalu tetap lancar, meski masuk kemarau. Mudah-mudahan tahun ini juga tidak ada masalah berkaitan dengan pasokan air bersih,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan, pihaknya sudah mulai mempersiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) buat pembukaan destinasi wisata. Menurut dia, SOP ini sangat dibutuhkan agar pembukaan obyek dapat berlangsung aman sehingga tidak menjadi penyebab penyebaran corona.

Asti menjelaskan, pembukaan objek harus mengacu pada standarisiasi protokol kesehatan pencegahan corona. Selain menyediakan fasilitas cuci tangan buat pengunjung, juga berencana meyediakan klinik buat pemeriksaan. “Harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sehingga saat dibuka benar-benar aman,” katanya.

Menurut Asti, anggaran pembuatan tempat cuci tangan akan dianggarkan dalam APBD. Namun sebelum anggaran dapat dicairkan, para pelaku wisata dapat ikut berpartisipasi dalam pembuatan. “Yang sederhana saja oleh karena yang terpenting dapat digunakan buat cuci tangan,” katanya.

Disinggung mengenai pembukaan objek, Asti mengakui tidak serta merta langsung dibuka semuanya. Hal ini karena harus ada uji coba terlebih dahulu sebelum diterapkan secara menyeluruh di setiap destinasi. “Kita coba dulu. Nanti kalau berhasil, objek lain akan dibuka. Mudah-mudahan akhir Juni dapat dilakukan uji coba,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *