Pengunjung Wisata Pacet Membeludak

Kepala polisi Pacet, AKP Toni Hermawan, mengungkapkan bahwa kesegaran dan keindahan Pacet menarik wisatawan buat berkunjung setelah beberapa bulan mengikuti peraturan pemerintah buat berdomisili di rumah. Oleh karena, selama musim pandemi ini, keadaan kawasan wisata alam sepi dari pengunjung. “Akhir-akhir ini, hanya sibuk seperti itu. Pada hari Minggu minggu lalu. Tetapi kebanyakan orang adalah hari Minggu. Mungkin mereka bosan dikarenakan lama berdomisili di rumah.” apakah dia menyatakan.

Menurutnya, sejauh ini pemerintah belum menerapkannya new commonplace. Sejumlah tempat wisata masih belum terbuka. Dengan demikian, pihaknya membuat keputusan buat menutup akses memasuki pariwisata bersama agar tidak menumpuk pengunjung. “Antisipasi akumulasi pengunjung yang nongkrong di Joint. Jadi kami membuat batasan di sini, ” katanya.

Menurut Jawa Pos Radar Mojokerto, sejumlah petugas Muspika Pacet membawa relawan buat menutup akses ke jalur akses Cangar, Batu. Tepatnya di sebelah barat bundaran Pacet. Ratusan pengunjung menyetir dua dan roda empat dia juga harus berbalik. Oleh sebab ada begitu banyak pengunjung, ada kemacetan di bundaran. Kendaraan tampaknya meluncur di sepanjang jalan. “Banyak pengunjung datang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Mungkin mereka datang ke sini buat mencari tempat yang keren. Inilah sebabnya kami mendesak mereka buat tidak bergaul. Tetapi jika itu hanya berjalan, tidak apa-apa, “katanya.

Tidak hanya itu, petugas juga menindak pengendara yang tidak mengenakan topeng. Mereka segera dipecat dan dihukum. Suka pompa dan menghafal Pancasila sebagai pelatih. “Ini hanya pembinaan buat pergi ke mana-mana dengan topeng demi kesehatan bersama,” kata ketua tim Kelompok Kerja Pencegahan Sub-Distrik Covid-19. oleh Pacet Zainul Arifin.

Menurut Zainul, situasi dan kondisi saat ini tidak memungkinkan buat tur yang bisa menyebabkan transmisi Covid-19. Selain itu, pariwisata masih belum terbuka. “Masih belum ada instruksi pemerintah. Tetapi banyak orang memasuki Pacet ini dan jalannya sudah penuh. Terutama persendiannya. Jadi kami terpaksa tutup. Demi kebaikan semua, “katanya.

Sementara itu buruk satu seorang pengunjung, Zaenal, warga Gresik, mengaku sengaja makan. Tidak bosan tidak pernah meninggalkan rumah selama pandemi Covid 19 Maret 2020. Bahkan Zaenal dihukum dikarenakan tidak memakai topeng. Petugas memintanya buat menghafal Pancasila. ‘Setelah makan di tempat ini sebelumnya. Bosan di rumah. Terus lupa memakai topeng. Jadi daku diminta berhenti dulu dikarenakan memakai topeng yang sama dan disuruh menghafal Pancasila, ” kata Zaenal.

Pengemudi lain, Prasista, warga Gondang, di kabupaten Mojokerto, yang tidak mengenakan topeng, juga dikenai hukuman yang lebih berat. Dia harus melakukan push-up dikarenakan dia mengabaikan protokol kesehatan. Rencananya adalah pergi ke saudara perempuan Malang. Tapi tidak, akhirnya kembali. Dan daku disuruh melakukan push-up. Intinya, daku benar-benar tidak menggunakan topeng di tengah pandemi Covid-19, ” kata Prasista. (Hin)

(mj / ris / ron / JPR)

.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *