Protokol New Customary Belum Kelar, Banyaknya Wisatawan dari Zona PSBB

Melihat kondisi ini, Satuan Tugas buat Penanganan Dipercepat Covid-19 sangat menyesal. Bahkan, seorang perwira biasa dari sejumlah elemen secara rutin berpatroli di kawasan wisata. Mereka mengajukan banding dan melarang pertemuan massal.

Sayangnya, intensitas patroli petugas gabungan tidak sebanding dengan daerah wisata dan jumlah wisatawan mencapai ribuan orang. Sepanjang akhir pekan, daerah-daerah di kecamatan Trawas dan Pacet dibanjiri oleh para wisatawan.

Bahkan, didominasi oleh orang-orang dari kota Surabaya dan Sidoarjo yang notabene masih termasuk dalam wilayah PSBB. “Yang jelas adalah bahwa kami berpatroli buat mengajukan banding,” kata juru bicara Ardi Septianto buat Satuan Tugas Pengobatan Covid-19 kepada Kabupaten Mojokerto.

Dia mengatakan bahwa dalam beberapa minggu terakhir dia mengakui, intensitas wisatawan ke daerah Kabupaten Mojokerto telah meningkat akhir pekan ini. Fenomena ini tidak mampu dipisahkan dari kurangnya pemahaman tentang istilah ‘new commonplace’Alias ​​sistem khusus yang baru.

negara new commonplace itu harus didukung oleh kebiasaan baru yang mendukung pencegahan dan penyebaran Covid-19. Sayangnya, di lapangan, kata Ardi, istilah itu dipandang sebagai pembenaran buat melakukan kegiatan seperti sebelum wabah. ’Komunitas salah mengartikan new commonplace,” dia berkata.

Padahal, katanya, pandemi Covid-19 belum berakhir. Pemerintahan baru harus dijalankan sesuai dengan aturan protokol kesehatan. “Yang jelas adalah memakai topeng, menjaga jarak dan menghindari keramaian,” lanjutnya. namun, tiga banyak prosedur protokol kesehatan utama masih harus diikuti.

Protokol kesehatan terpengaruh new commonplace di kawasan wisata? Ardi mengatakan protokol belum secara resmi dikantongi. Pemerintah pusat bahkan bersaing buat membuat protokol kesehatan di daerah buat merumuskan protokol sesuai dengan kondisi daerah mereka.

” Dari pusat tidak ada protokol new commonplace. Kabupaten sendiri masih menyusun protokol, ”jawabnya. Khususnya di kawasan wisata, protokol kesehatan yang dikembangkan masih dalam perdebatan. Sebab, sejumlah sudut pandang tertentu tidak menemukan titik kesepakatan.

Demikian pula, dalam hal kesehatan, keberadaan wisata bahari menghadirkan tingkat kerentanan tinggi terhadap penularan Covid-19. Tim kesehatan mengatakan bahwa wisata bahari, kecuali Banyu Panas (Padusan), mampu ditularkan. Sebab ditransmisikan oleh tetesan. Saat Anda bepergian dalam air, tetesan ini sering keluar, “jelasnya.

Dia mendesak publik buat tidak datang ke kerumunan. Adapun tempat wisata. Ini buat mencegah transmisi Covid-19. Kami merekomendasikan bahwa penduduk Kabupaten Mojokerto menunda rencana mereka buat tur. Sebab jika Anda pergi ke tempat wisata, semuanya tercampur. Belum tentu semuanya sehat. Padahal, saat ini banyak OTG (orang tanpa gejala), ” kata Ardi.

Sementara itu, bagaimanapun, kawasan wisata yang belum dibuka akan menambah dampak ekonomi bagi penulis. Di masa depan, ini akan mempengaruhi pendapatan lokal (PAD).

“Situasinya adalah dilema. Namun, yang jelas adalah bahwa pemerintah kabupaten telah meminta bisnis pariwisata buat menggunakan protokol kesehatan Covid-19 standar,” kata pria yang juga kepala dari kantor komunikasi dan informasi (Diskominfo) kabupaten Mojokerto.

(mj / fen / ris / JPR)

.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *