Covid-19, Kunjungan Wisata Jabar Turun 80%

Batu itu menyerupai kursi yang terletak di Desa Ciputat, Desa Kutamanah, Kabupaten Sukasari, Kabupaten Purwakarta, yang akan ada ratusan tahun yang lalu dan dikaitkan dengan legenda Sangkuriang. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)


BANDUNG, AYOPURWAKARTA.COM – Kunjungan wisatawan ke objek wisata provinsi Jawa Barat turun 80% disebabkan pandemi Covid-19. Kantor yang relevan menyatakan bahwa ini berlaku buat kunjungan wisatawan lokal dan asing.

“Kecenderungan itu terjadi secara seragam dalam akumulasi di 27 kabupaten di provinsi Jawa Barat,” kata Rabu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Dedi Taufik di Bandung (10/6/ 2020).

Dedi mengatakan industri pariwisata adalah yang paling terpukul sejak pandemi Covid-19 dan sejumlah rencana pembangunan yang telah menjadi program strategis akan berlanjut pada 2021.

“Selama pandemi ini, kami telah menerapkan beberapa strategi mitigasi bencana di sektor pariwisata dengan beberapa pendekatan. Yaitu, tanggap darurat, pemulihan dan normalisasi. Ketiga fase ini akan dilakukan,” katanya. -dia berkata.

Dia mengatakan bahwa periode tanggap darurat telah dilakukan melalui pemfokusan ulang anggaran dan bahwa periode pemulihan harus dimulai pada Juni dan berlanjut hingga Desember 2020 dengan mencapai produktivitas sesuai dengan instruksi Presiden Republik Indonesia disertai dengan kewaspadaan dan disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Dia mengatakan bahwa jika semuanya berjalan dengan baik, maka fase normalisasi mampu fokus pada Januari 2021.

“Sekitar seminggu yang lalu, penyelidikan lapangan, beberapa pemerintah daerah menyiapkan teknik teknis buat menerapkan protokol kesehatan yang ketat buat sanksi atau pembatasan kapasitas di lokasi wisata dan sejenisnya,” katanya. .

“Tetapi pembukaan pariwisata di daerah tertentu mampu terjadi kemudian setelah 14 Juni, sesuai dengan tren dalam kasus Covid-19,” lanjut Dedi.

Menurutnya, objek wisata Kabupaten Pangandaran telah membuka tempat wisata pada five Juni 2020 tetapi banyak syarat yang harus dipenuhi, yaitu bahwa wisatawan yang memasuki Pantai Pangandaran harus memiliki sertifikat kesehatan dan “tes cepat”.

“Seluruh implementasi akan dievaluasi secara menyeluruh. Dan fashion ini akan diadopsi oleh pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut, tetapi masih dalam pembahasan,” katanya.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Subang belum memutuskan buat membuka pariwisata, sementara di Kabupaten Bandung Barat hanya akan membuat perjanjian sanksi antara pemangku kepentingan pariwisata dan para bupati.

Pada saat yang sama, rencana pengembangan sektor pariwisata, yang merupakan program strategis di Jawa Barat, harus ditangguhkan dan dilanjutkan tahun depan.
Dia menunjukkan dengan buruk satu prioritas diberikan buat pembangunan di Pangandaran.

“Di Pangandaran, yang saat ini sedang dibangun, pada 2021, akan diprioritaskan lagi buat menyelesaikan pembangunannya. Geopark Ciletuh di Sukabumi juga akan dilanjutkan pada 2021,” katanya.

.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *