HPI Minta Kapal Pesiar tidak Berlabuh di Perairan Taman Nasional Komodo – Cendana News

MAUMERE — Dampak merebaknya pandemi Corona memperkuat ditutupnya aktivitas di bervariasi obyek bertamasya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Taman Nasional Komodo (TNK), di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Pulau Flores.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT, Agustinus Bataona kapan ditemui di rumahnya, Minggu (14/6/2020).Foto : Ebed de Rosary

Meski sangat, tubrukan baiknya ekosistem lautnya pulang rujuk dan terbebas berbunga aneka sampah, serta pengrusakan terumbu karang akibat banyaknya kapal berwisata yang bersauh.

“Sebelum Covid-19 kita sulit menemukan lumba-lumba yang bergerombol di perairan Taman Nasional Komodo, tapi saat ini mudah sekali,” sebut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT, Agustinus Bataona, Minggu (14/6/2020).

Agustinus menyebutkan, beberapa penyelam lebih lebih menemukan penyu dan juga pari manta. Lautnya pun lebih mukhlis dan neto tidak ada aktivitas kapal berwisata di perairan ini.

Pemandu bertamasya ini pun berazam agar ke depannya dimulai kapan era New Normal dan aktivitas pariwisata dibuka pulang, maka harus ada larangan nalokasi kapal bertamasya untuk diam di perairan ini.

“Alam bawah laut di perairan TNK sudah mulai bagus sehingga tentunya harus ada larangan terhadap kapal pesiar untuk berlabuh di perairan ini. Semua kapal pesiar harus sandar di dermaga yang disiapkan,” sarannya.

Ketua Harian Gabungan Pengusaha Pariwisata Tirta dan Bahari (Gahawisri) Labuan Bajo, Aprita Prima Yuda montok ulasan online memohon agar ada pelatihan nalokasi para penyelam di Labuan Bajo.

Menurut Aprita, pelatihan berilmu dan bersertifikat ini perlu dilakukan nalokasi para penyelam kendati bisa melaksanakan survey berkala bertepatan kesehatan laut dan biotanya bagaikan koral, karang, ikan dan lainnya.

“TNK juga terkenal sebagai salah satu tempat penyelaman terbaik di dunia sehingga pemasangan mooring buoy di perairan Taman Nasional dapat dilakukan guna mendukung upaya konservasi,” harapnya.

Dengan sangat tutur Aprita, kapal-kapal bertamasya yang mengomong di TN Komodo tidak perlu melemparkan jangkar yang akan memperkuat kerusakan pada karang dan biota laut.

Sebagai destinasi bertamasya premium tutur dia, maka hal-hal yang bersambung dengan keramahan tempat lopak bekerja perihal yang mendesak untuk dilakukan bagaikan pengurangan penggunaan plastik begitu pakai bagaikan botol air minum, kantong plastik dan lainnya.

“Sebagai sebuah tempat wisata premium maka hal-hal yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan harus menjadi prioritas untuk diperbaiki agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Gusti Rinus berperi, bertepatan bervariasi permasalahan yang harus dibenahi, Pemda Manggarai Barat kelar melaksanakan termasuk juga fokus pada protokol kesehatan.

Kementerian Pariwisata dan Badan Otoritas Pariwisata (BOP) Labuan Bajo tutur Gusti, telah menyiapkan 3 tahapan yakni kalau tanggap darurat yang kapan ini polos dilaksanakan.

“Pada akhir Juni atau awal Juli sampai Desember 2020 ada tahap pemulihan. Sementara bulan Januari sampai Desember 2021 merupakan tahap penataan kembali destinasi,” terangnya.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *