Jadi Wisata Percontohan New Normal, Apa Istimewanya Pangandaran?

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menahbiskan sejumlah tujuan melawat di Kabupaten Pangandaran ragam percontohan kategori melawat dengan protokol Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kabupetan itu, mensyaratkan pendatang atau wisatawan membawa surat bukti bervakansi Covid-19. Atau harus menjalani rapid test sebelum klop ke dunia melawat.

Aparat kelompok dikerahkan untuk patroli dan penjagaan penerapan protokol AKB di Pangandaran, untuk menjamin keselamatan wisatawan dan petugas di lokasi melawat.

Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata memerintah, melawat di Pangandaran dibuka membawadiri 5 Juni lalu. Di gerbang masuk-perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Pangandaran-dijaga ketat eksekutif kelompok, semua pendatang diperiksa kepemilikan surat bervakansi Covid-19.

Jika tidak membawa surat, pendatang harus menjalani rapid test (tes jeraus) di pusat deklarasi turis dengan bea Rp200.000. “Kalau tidak bersedia di-rapid test akan diminta putar balik,” jelas Jeje kepada TEMPO, Ahad 14 Juni 2020 sore.

Menurut Jeje, pihaknya telah mengintruksikan pembatasan pengunjung hotel dan kantin. “Hotel diintruksikan membatasi jumlah pengunjung, maksimal 50 persen dari normal. Jarak kursi di restoran juga diatur agar lebih dari 1,5 meter,” tegasnya.

Sementara lokasi melawat pantai, dipantau patroli petugas kelompok. Mereka terus berpendar untuk memfatwakan pengunjung memakai masker, beternak jarak, dan tidak berbaur. “Pedagang di pusat perbelanjaan juga kami intruksikan memakai face shield (pelindung wajah) dan masker,” imbuhnya.

Ia berujar, Pendapatan sungguh cocok golongan (PAD) faktor pariwisata tahun 2019, mencapai Rp18,472 miliar. Pendapatan itu terbagi berbunga Objek Wisata (OW) Pangandaran Rp13,326 miliar, OW Green Canyon sebesar Rp698 juta, OW Pantai Batu Hiu Rp902,5 juta, OW Pantai Batukaras Rp2.605 miliar, dan OW Karapyak Rp941,5 juta.

Selama 2019 sebut Jeje, berlebihan kunjungan mencapai 3.776.273 pengunjung. Ia memerinci, wisatawan domestik sebanyak 3.769.503 pengunjung dan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 5.770. “Kalau (untuk) 2020 susah diprediksi karena bencana corona. Kami evalusi (pasti) ada perubahan cukup signifikan,” tandasnya.

Dibukannya tujuan melawat di Pangandaran lantaran hasil evaluasi, menempatkan Pangandaran klop sebu 17 kabupaten/kota yang diizinkan menerapkan AKB. Meski demikian, Pangandaran wajib melaksanakan sejumlah aturan yang ketat dan beribadat protokol kesehatan.

Fase AKB tak hanya diperuntukkan nalokasi Pangandaran, peruntungan lain yang juga diizinkan adalah Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang, Subang, Purwakarta, Bandung, Bandung Barat, Ciamis, Cirebon, Cianjur, Kuningan, dan Majalengka. Selain itu, Kota Sukabumi, Cimahi, Tasikmalaya, Banjar, dan Cirebon.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil andaikata meninjau bentol melawat Pantai Pangandaran, Kamis (11/6/20). (Foto: Pipin/Humas Jabar).

Saat kunjungan Kamis 11 Juni, Gubernur Jabar Ridwan Kamil memerintah, incaran melawat yang hanya memiliki satu gapura formal bak Pangandaran, menumbuhkan pengelola mudah sebu mengerjakan pengawasan pengunjung.

Satu kelebihan Pangandaran jelas Emil, adalah adanya kedisiplinan masyarakat dan ketegasan aturan berbunga pemerintah setempat. Dia mencontohkan, kebijakan yang mewajibkan wisatawan menyasarmembelek hasil tes rapid non reaktif, merupakan kebijakan paling ketat se-Indonesia.

“Kalau tidak ada, di pusat Tourism Information Centre (pusat informasi turis) ada pengetesan rapid harganya Rp200.000, itu relatif murah dibandingkan dengan daerah lainnya. Kalau enggak ada mohon maaf balik kanan,” tandasnya.

Perhotelan Siap Menerapkan CHS

Ketua Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC-PHRI) Kabupaten Pangandaran Agus Mulyana mengapresiasi Pemkab Pangandaran yang telah membuka rujuk objek-objek melawat.

“Penerapan protokol kesehatan bisa menjaga dan melindungi kesehatan para pelaku usaha wisata. Termasuk memberi kenyamanan para pengunjung wisata saat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager Hotel Horison Palma Pangandaran, Bangkit Ciptadi memerintah, untuk menghadapi AKB keahlian pariwisata, pihaknya telah menerapkan gaib opersional prosedur (SOP) asli asuhan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan pemerintah setempat.

Hotel yang dikelolanya, telah melaksanakan SOP berlagak cleanliness, healthy, and safety (CHS) guna memutus penyebaran Covid-19. Penerapannya membawa-bawa semua kelompok, membawadiri karyawan, tamu, hingga sampai fasilitas hotel serta kantin.

Kapasitas tamu hotel juga perundingan Bangkit, dibatasi hanya 50 persen berbunga ruang yang tersedia, sedangkan kantin hanya 30 persen. Setiap tamu yang akan klop hotel dan kantin diperiksa suhu, diminta mencuci tangan, dan wajib memakai masker.

Suasana Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat, (8/2). TEMPO/Prima Mulia

“Di restoran jarak dijaga hingga dua meter. Aktivitas tamu dibatasi di luar kamar, makan juga diantarkan ke kamar agar tidak membuat kerumunan di dalam ruang-ruang lain di hotel,” paparnya.

Karyawan hotel juga perundingan dia, diwajibkan memakai masker, selubung tangan, justru sebagian memakai face shield (tameng sifat).

ROMMY ROOSYANA

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *