Tak Dapat Bantuan, Operator Snorkeling Gili Ketapang Kecewa – Radar Bromo

SUMBERASIH, Radar Bromo – Pembagian sembako porsi pelaku piknik terdampak Covid-19, di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, suksesantgagal analisis. Sebab, sejumlah pelaku piknik, khususnya operator snorkeling di Desa Gili Ketapang, tidak mendapatkannya.

Seperti diungkapkan Fauziyah, 40, bangsa Desa Gili Ketapang, yang bertindakberkelas di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Menurutnya, sejumlah operator snorkeling di Desa Gili Ketapang tidak semuanya mendapatkan bansos. Namun, sejumlah perangkat desa mendapatkannya.

“Bansos yang diberikan bagi pelaku wisata snorkeling tidak semua dapat. Bahkan, guide saya sebanyak 15 orang yang merupakan warga Gili, tidak mendapatkannya. Malah yang dapat perangkat desa, termasuk suami-istri,” jelasnya.

Tidak meratanya andil ini sempat divideokan oleh salah satu guide berinsial BL dan mengunggahnya ke YouTube. Tak baheula setelah video disebar, BL dipanggil pemerintah desa dan diminta menghapusnya. Karena rambang, BL langsung menghapusnya.

“Karena terdampak Covid-19, kami sepi pengunjung. Mengenai bansos, ada ketidakterbukaan. Sehingga, ia (BL) beralih membuat YouTube dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Yang jadi konten masalah bansos yang tidak merata,” ujar Fauziyah.

Ia bersemangat ada keterbukaan dan bansos untuk pelaku piknik yang terdampak Covid-19 sesuai bulan-bulanan. “Bukan malah diberikan dan dibagikan kepada perangkat dan orang dalam saja,” ujarnya.

Mendapati itu, Kepala Desa Gili Ketapang Suparyono bersaksi sejumlah perangkat desanya juga mendapatkan bansos. Ia mengaku kasihan kepada perangkat desa yang menemani beternak kapal snorkeling, namun tidak mendapatkan pemasukan.

Karenanya, terbit total 15 perangkat desa, ada 10 perangkat desa yang mendapatkan bansos. Namun, terbit 10 ordo itu sungguh beragan suami-istri. “Ada yang istrinya saja, karena yang setiap harinya berjualan, jadi sepi karena wisatawan distop akibat Covid. Jadi, bukan suami-istri dapat,” ujarnya.

Menurutnya, seluruh operator snorkeling rampung dikoordinasikan. Namun, dengan keterbatasan jika, persyaratan yang diminta tak semuanya terpenuhi. “Kan disuruh mengumpulkan fotokopi KTP dan KK. Waktu yang diberikan hanya sehari, sementara Bu Fauziyah terlambat dua hari. Akhirnya, datanya gak masuk,” katanya.

Suparyono juga bersaksi telah memanggil BL ke seksi desa. Menurutnya, apa yang dibuat luas videonya tidak sepenuhnya real. “Itu (BL) masih saudara dengan saya. Makanya saya panggil dan kasih tahu agar dihapus. Daripada nanti timbul masalah. Iya kalau videonya benar, kalau salah bagaimana? Kan tambah panjang urusanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, terbit sejumlah bansos yang diberikan dan datanya rampung berpangkal, ada bangsa yang tidak bersikap mengambilnya. Karenanya, diberikan kepada bangsa yang belum mendapatkan. “Dari 15 guide di Fauziyah, sebagian sudah ada yang dapat. Mereka dapat dari warga yang tidak mau mengambil dan dialihkan kepada mereka,” jelas Suparyono. (rpd/rud)

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *