Alami Keterancaman, Butuh Kolaborasi Selamatkan Terumbu Karang di Indonesia Timur : Mongabay.co.id

  • Kondisi karang di kelompok kerja Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang yaitu di perairan Indonesia timur mengalami keterancaman, di mana kelompok tutupan karang semakin berombak.
  • Butuh kolaborasi bermacam-macam pihak untuk memuaskan kondisi terumbu karang secara nasional, yang menyeret-nyeret pemerintah lokal, masyarakat, pengelola dan akademisi.
  • Target banyak transplantasi di KKPN sendiri untuk tahun 2020 adalah 1000 orde web spider dan 12.000 pcs putaran karang dengan peningkatan persentase tutupan karang beralih sebesar 10-30 persen.
  • Upaya restorasi dan rehabilitasi akan bergerak andaikata didukung oleh SDM yang mulus, kualitas air, lokasi jauh, berpangkal sedimentasi, monitoring yang sering, keterlibatan masyarakat semua fragmen.

 

Terumbu karang di kelompok kerja Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, yang meliputi 8 cacah konservasi di Indonesia timur, mengalami kondisi keterancaman, lunas itu berkah sektor tanah atau berkah aktivitas manusia. Saat ini tutupan karang berpaling haluan 18,55% – 59,8%.

Kondisi paling sukar ditemukan di Taman Nasional Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan meluap terumbu karang mencapai 53.063 hektare dengan nilai tutupan hanya sebesar 18,55 persen.

“Jika dilihat dari presentasi tutupan berdasarkan tingkat aktivitas pemanfaatan kawasan terlihat jelas kalau kegiatan penangkapan ikan dan pariwisata menyebabkan tekanan yang cukup besar bagi ekosistem terumbu karang,” ungkap Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Ikram Sangadji, subur pembahasan daring yang dilaksanakan BKKPN Kupang, Jumat (12/6/2020).

Menurutnya, andaikata dibandingkan oleh meluap kerusakan antara kedua sektor penyebab kerusakan, diketahui bersua perbedaan yang cukup padat di mana kerusakan akibat kegiatan manusia berguna lebih munjung.

“Sebagai contoh kegiatan pariwisata. Semakin tinggi kegiatan wisata di suatu kawasan maka akan semakin tinggi pula tekanan kerusakan ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan budaya serta perilaku wisatawan,” katanya.

baca : Sisi Positif Wabah Corona Bagi Terumbu Karang Indonesia

 

Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Kapoposang, Pangkep, Sulsel. BKKPN Kupang mengamalkan transplantasi terumbu karang di TWP Kapoposang dengan objek rehabilitasi seluas 500.000 m2, dan restorasi sebesar 4.090.000 m2 untuk 5 tahun ke depan. Foto: BKKPN Kupang

 

Selain itu, aktivitas penangkapan ikan juga memberikan tekanan yang lambat belah karang, kian dengan bersisa adanya aktivitas destructive fisihing di beberapa kelompok, yang menyebabkan kerusakan yang cukup meluap.

Menghadapi kondisi ini, Ikram berhasrat adanya kolaborasi bermacam-macam pihak secara nasional, yang menyeret-nyeret pemerintah lokal, masyarakat, pengelola cacah berwisata dan akademisi.

Menurutnya, untuk mengurangi kerusakan akibat aktivitas manusia melalui potongan mitigasi tertentu, upaya pemulihannya lebih singkat dibandingkan kerusakan akibat sektor tanah, dengan berkesan mempertimbangkan sektor pemanfaatan cacah tersebut.

“Fungsi restorasi dan rehabilitasi ini tentunya untuk mengembalikan kondisi dan memberikan suatu penyadartahuan bagi masyarakat sebagai bentuk pengelolaan berkelanjutan,” katanya.

Hanya berkelanjutan, subur pengelolaan ekosistem terumbu karang yang pailit akibat ulah manusia kadang menghadapi situasi dilematik, berkah subur prosesnya akan bersaing langsung dengan kepentingan manusia itu sendiri.

Saat ini bersua beberapa kolaborasi yang umum digarap subur lingkup KKP beriringan dengan ICCTF Bappenas dan Conservation International yang menyerang di Laut Sawu dan Suaka Alam Perairan (SAP) Aru Tenggara.

“Kami berharap dari target capaian tersebut bisa mencapai 30 persen dari nilai target tiap tahunnya. Tentunya akan kami lakukan evaluasi tiap tahun guna mencapai dan mendapatkan suatu pengelolaan dan pemulihan ekosistem yang maksimal.”

baca juga : Begini Tantangan Konservasi Terumbu Karang di Saat Pandemi

 

Seorang penyelam umum menyelam di perairan Pulau Kapoposang yang berisi areal TWP Kapoposang. Foto : BKKPN Kupang

 

BKKPN Kupang juga umum mengamalkan kegiatan transplantasi terumbu karang di Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang dengan objek rehabilitasi seluas 500.000 m2, dan restorasi seluas 4.090.000 m2 untuk lima tahun ke depan.

“Target ini kami sampaikan untuk memberikan informasi terkait upaya yang akan kami lakukan dan menjelaskan bagaimana besarnya kebutuhan dukungan dari berbagai pihak dalam pengelolaannya,” tambahnya.

Target banyak transplantasi di wilker BKKPN Kupang sendiri untuk tahun 2020 adalah 1.000 orde web spider dan 12.000 pcs putaran karang dengan peningkatan persentase tutupan karang beralih sebesar 10-30 persen.

perlu dibaca : Menumbuhkan Karang dan Memberdayakan Masyarakat di Kapoposang

 

Pentingnya Rehabiltasi dan Restorasi

Menurut Syafyuddin Yusuf, lihai kelautan berpangkal Universitas Hasanuddin, kerusakan terumbu karang adalah fenomena global yang bertindak-berfungsi di seluruh bidang dengan perkiraan kerusakan mencapai 75 persen. Untuk mengatasi seksi ini upaya yang pandai dilakukan melalui rehabilitasi dan restorasi.

Restorasi adalah upaya mengubah ekosistem yang pailit menjabat ekosistem pengganti namun tidak bisa ke cara aslinya. Sementara rehabilitasi merupakan suatu tindakan untuk menempatkan mudik sebagian atau seluruh gaya atau karakteristik fungsional berpangkal suatu ekosistem yang telah runtuh.

“Dalam hal ini restorasi merupakan upaya mengembalikan suatu kondisi menjadi kembali baik namun tidak dapat mengembalikan seperti suatu keadaan semula,” jelasnya.

menarik dibaca : Destructive Fishing Masih Marak Terjadi di NTT, Kenapa?

 

Terumbu karang dan biota laut di perairan Nusa Penida, Bali. Foto : Marthen Welly/Hope Spot

 

Menurutnya, sejumlah alasan kenapa restorasi harus dilakukan antara lain berkah telah bertindak-berfungsi evolusi ekosistem berpangkal ekosistem alami yang mengalami degradasi, untuk memberikan kesempatan pemulihan ekosistem, memajukan pola pikir masyarakat dan memajukan dan mempertahankan kaum dana laut.

“Tujuan restorasi dipengaruhi oleh batasan ekonomi, hukum, sosial dan politik. Dalam hal ini terdapat beberapa pendekatan implementasi program rehabilitasi ekosistem yaitu pendekatan kebijakan, sosial, teknis dan biaya,” jelasnya.

Untuk rehabilitasi terumbu karang dibiarkan pada kondisi sekiranya itu atau ditinggalkan sangat berkelanjutan, dengan harapan akan menghasilkan suatu kondisi yang lebih lunas, mengingat talen kembali yang dimiliki terumbu karang.

“Hanya saja terdapat juga faktor yang mempengaruhi seperti sampah dan gelombang yang mungkin akan mengganggu proses rehabilitasi dengan transplantasi sehingga perlu dilakukan suatu monitoring berkelanjutan oleh pengelola.”

Menurutnya rehabilitasi akan bergerak andaikata didukung oleh SDM yang mulus, kualitas air, lokasi jauh, berpangkal sedimentasi, monitoring yang sering, keterlibatan masyarakat semua fragmen.

“Dengan berhasilnya kegiatan rehabilitasi dapat menciptakan suatu peluang dan manfaat berupa pemanfaatan wisata, ekosistem yang pulih, menciptakan habitat baru serta melimpahnya ikan karang,” tambahnya.

baca : Menata Kembali Terumbu Karang dan Kehidupan Ekonomi Masyarakat Pulau Bontosua

 

Proses penanaman medium tanam beradat orde ‘spider’ di Pulau Bontosua, Pangkep, Sulsel. Metode ini dinilai jauh lebih tokcer dan berfaedah dibanding metode restorasi terumbu karang lainnya. Foto: Rison Syamsuddin/Mongabay Indonesia

 

Pengalaman Restorasi

Dalam pembahasan ini berikut hadir pula Saipul Rapi, Marine Suistainable Programme Manage, PT. Mars Symbioscience Indonesia.

Ia berujar sejumlah program restorasi terumbu karang dan pemberdayaan masyarakat pesisir yang dilakukan PT. Mars di Pulau Badi dan Bontosua Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, subur beberapa tahun perdana.

“Tujuan Mars melakukan rehabilitasi terumbu karang adalah mendukung pengembangan mekanisme berkelanjutan dalam rantai pasokan secara luas dari sumber daya laut dengan menciptakan contoh nyata bagaimana perubahan itu bisa diwujudkan,” jelas Saipul.

Selain itu, program rehabilitasi dan restorasi Mars juga berniat untuk melebarkan model dukungan yang terus-menerus yang bisa direplikasi untuk mendukung proses perubahan dengan sikap bahwa sumber daya laut yang dikelola untuk kepentingan masyarakat pulau dan pesisir.

Menurut Saipul, sejumlah manfaat yang diharapkan berpangkal restorasi ini adalah meningkatkan atau mengefisiensikan eksploitasi perikanan, menyediakan fasilitas alternatif gres perikanan, manajemen rehabilitasi petak, mengalihkan lokasi penangkapan berpangkal terumbu karang, restorasi habitat terumbu karang, menyekat erosi pantai, pemecah ombak, kaum pemijahan, pembesaran dan feeding biota, lokasi penelitian serta mereduksi over eksploitasi stok ikan.

“Rehabilitasi yang dilakukan di bawah air berbasis pada ilmu pengetahuan terkait sosial ekonomi dan kelimpahan biomassa ikan, sedangkan untuk kegiatan di atas air yaitu menciptakan suatu solusi berdasarkan ilmu pengetahuan, sosial ekonomi alternatif, perikanan berkelanjutan dan kerjasama,” paparnya.

perlu dibaca : Ketika Terumbu Karang Tumbuh Kembali di Pulau Badi

 

Kondisi karang di Pulau Badi, Pangkep, Sulsel yang pailit berkah sektor eksploitasi dan pembiusan untuk penangkapan ikan. Foto: PT Mars Symbioscience Indonesia

 

Terkait manfaat rehabilitasi belah masyarakat dan ekosistem pesisir, serta kenaikan kelimpahan dan biomassa ikan setelah dilakukannya kegiatan restorasi, menurut Saipul, kini tengah subur upaya penggalian keterangan di bidang.

“Dalam hal ini, Mars memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan oleh akademisi guna mengetahui jawaban dari pernyataan tersebut. Data tersebut dijadikan sebagai dasar dalam mengetahui tingkat pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan restorasi di daerah ekosistem target sebagai suatu bentuk survei awal.”

Mars juga telah mengamalkan beberapa metode seakan-akan memajukan gedung ikan dan biorock yang berniat untuk memuaskan karang beralih di perairan tersebut.

 

biota laut, ekologi pesisir, ekowisata, featured, kapoposang, kerusakan lingkungan, kesejahteraan nelayan, Konflik Sosial, nusa tenggara timur, Pangkep, pencemaran lingkungan, perikanan merusak, perikanan tangkap, sulawesi, sulawesi selatan, Terumbu Karang, wisata selam

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *