Potensi Gelombang Kedua COVID-19 Besar

Bandung

Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 (GTPP Jabar) menyayangkan euforia masyarakat yang membanjiri kerajaan berpesiar lir lingkaran Puncak, Kabupaten Bogor dan sekitarnya pada akhir pekan kemarin. Kerumunan jalur tersebut dinilai memperbesar peluang terjadinya gelombang kedua COVID-19 di Jabar.

Juru Bicara GTPP Jabar Berli Hamdani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional tingkat provinsi diperpanjang dan berlebihan bekerja hingga 26 Juni 2020.

Berli yang juga Kepala Dinas Kesehatan Jabar menegur mudik mengenai risiko penularan COVID-19 di tengah kerumunan, justru lingkaran Bogor meresap ke molek zona kritis yang bertarung dengan DKI Jakarta yang lulus episentrum COVID-19.

“Kejadian seperti ini, terjadi kerumunan massa yang luar biasa. Sebagian besar tidak menggunakan masker, tentunya meningkatkan resiko penularan. Juga memperbesar peluang terjadinya gelombang kedua pandemi COVID-19 di Jabar, tentu itu tidak kita inginkan,” rasioncak pembicaraan Berli seandainya dihubungi detikcom, Senin (15/6/2020).

Pengawasan pergerakan lalu lintas masyarakat pun telah dilakukan oleh korps GTPP dengan menyangkut-nyangkutkan TNI-Polri, relawan, ASN, Non-ASN. Namun diakuinya berlebihan ada keterbatasan sumber daya manusia.

“Pastinya tidak akan berdampak tanpa partisipasi aktif dan disiplin masyarakat,” katanya.

Informasi mengenai kemacetan di golongan Puncak ini terbit di media santun. Beberapa akun media santun juga mengunggah foto ramainya lalu lintas di Puncak.

Camat Cisarua, Deni Humaedi menyuarakan golongan Puncak sempat dipadati keluarga pada pagi hari. Kendati demikian, ia memerintah kondisi seandainya itu finis melandai kiamat pemberlakuan orde satu arah.

Deni menyuarakan rest bilangan berprofesi flek kumpul keluarga. Hal ini berbuat berkat golongan berpesiar Puncak berlebihan ditutup pasca penerapan pembatasan santun berskala melimpah (PSBB).

“Karena kan tempat resmi belum buka, Gunung Mas belum buka, itu di pinggir jalan yang pertama kumpul mereka itu di rest area, mereka di pinggir parkir di situ,” rasioncak pembicaraan Deni.

Deni bersemangat pengendalian kendaraan juga dilakukan di Jakarta. Pasalnya, rasioncak pembicaraan Deni, mobilitas masyarakat lari arah Puncak tidak bisa hanya diserahkan ke pemerintah wilayah.

“Mohon artinya kita juga diimbau di media itu agar dari Jakarta sendiri melakukan pengendalian mobilitas penduduknya juga, jangan dilepas ke kita,” ujarnya.

(yum/mud)

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *