Nasib Karyawan Obyek Wisata Tutup karena Corona, Jual Kayu Bakar untuk Bertahan Hidup

 

KULON PROGO, KOMPAS.com – Empat kubik kayu bakar bersaf-saf dan berjubal ceria  di samping kantor Samani  (55 tahun) di Pedukuhan Kalibiru, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon (kecamatan) Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kayu itu payah reguler dan normal bernenek-moyang tungku pembakaran.

Samani bahwasanya bercita-cita berjebah berusul tumpukan balak itu pada musim pandemi coronavirus diseases 2019 (Covid-19) serupa sekarang. 

Baca juga: Obyek Wisata TSTJ Solo Akan Dibuka, tapi Hanya untuk Usia 18 Tahun ke Atas

Hasil berusul menjual balak setidaknya sedikit-sedikit bisa menambal penghasilan dirinya yang hancur simultan dengan obyek wisata Kalibiru yang tidak bertindak sementara jika.

Nilai jualnya memang tidak berlimpah, tapi lumayan. 

“Satu kubik Rp 100.000. (Situasi normal) bisa dua kubik tiap dua minggu. Bisa sampai tujuh kubik di hari besar. Sekarang tidak ada yang beli lagi. Tetangga saja yang kadang membeli untuk hajatan, harganya berbeda, bisa Rp 80.000, ini sebagai gotong royong kita,” rasioncak pembicaraan Samani asalkan menerangkannya lewat-pergi-berkalang-tanah telepon, belum kolot ini.

Samani tukang ceduk komplek Kalibiru. Ayah berusul satu marga ini bisa mengantongi  setidaknya Rp 1.370.000 per bulan berusul aktivitas seakan-akan penjaga komplek obyek melawat. Ia sipilcakap mengomong delapan jam berisi satu mungkin shift kerja.

Semasa mengomong, Samani juga nyambi menjual balak bakar dengan raut berburu di kebun-kebun, memotong gagang, menyianginya, mengumpulkan di kantor, lalu menjualnya. 

Ia panen pada sekiranya hari berlimpah. Pelanggan berpijak adalah para pengusaha gula merah dan gula semut membeli balak ini. Mereka berkehendak balak bakar untuk tungku memasak gula. 

“Panas api kayu bakar dianggap bagus untuk memasak gula,” rasioncak pembicaraan Samani.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *