Sambut New Normal, Sektor Wisata Perlu Jalani Prinsip 3A

Pariwisata merupakan satu-kesatuan, dimana jumlah permukaan yang saling berserah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — New formal meninggalkan diterapkan di beragam bagian, termasuk melawat. Menghadapi itu, pelaku industri melawat harus memerhatikan prinsip 3A dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar berucap, pariwisata merupakan satu-kesatuan, dimana jumlah permukaan yang saling berserah. Untuk menghidupkan balik bagian melawat, perlu prinsip 3A, yaitu Access (Akses), Amenity (Fasilitas), dan Attractiveness (Daya tarik) seperti bandingan ukur penerapan new formal.

Sapta beroperasi, permukaan Akses mencangkup moda transportasi. Penggunaan alat-alat penunjang serta pengaplikasian protokol kesehatan gawat berarti diterapkan untuk melindungi penyebaran virus. “Bukan hanya di tempat-tempat seperti bandara, terminal maupun stasiun, kabin pesawat, gerbong kereta juga dek kapal perlu disterilkan,” pikiran Sapta, Rabu (17/6).

Amenity atau fasilitas juga menjabat tempat lopak yang tidak dapat diabaikan. Berbagai fasilitas akomodasi njenis penginapan hingga kantin perlu menerapkan protokol kesehatan yang bersih dengan potongan penerapan new formal. Hotel perlu menerapkan protokol kesehatan yang perdana, meninggalkan berpangkal potongan check in dan pembayaran yang touchless serta fasilitas sekat yang juga harus didesinfeksi. 

Restoran juga tidak bisa lagi menyajikan menu jamuan makan (buffet). “Harus diatur adanya social distancing agar risiko penularan Covid-19 dapat ditekan semaksimal mungkin,” ujar Sapta.

Terakhir adalah Attractiveness atau daya tarik. Menurut Sapta, daya tarik melawat berserah pada fokus berpisahpisahan situs melawat. Salah satunya daya tarik tambo yang ditawarkan Museum Fatahillah atau Monumen Nasional (Monas).

Untuk menyiasatinya, penyelenggara harus menerapkan protokol kesehatan untuk menjamin minimnya resiko penyebaran virus antar pengunjung. Yang bisa dilakukan salah satunya mengurangi kuota pengunjung dengan menerapkan pemesanan tiket online.

“Yang agak sulit mungkin tempat tempat wisata publik sehingga perlu adanya sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat,” pikiran Sapta.

 

 

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *