Pembukaan Tempat Wisata Harus Izin Pemda

  • Jumat, 19 Juni 2020 | 00:17 WIB
  • Penulis:

SEMARANG, suaramerdeka.com – Sekalipun Gugus Tugas Nasional Covid-19 telah mengizinkan pembukaan destinasi berekreasi benua, Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah memastikan tidak akan lekaslekas membuka destinasi berekreasi. Sebelum dijalankan, perlu diketahui secara pasti kondisi kaum, dan kesiapan pengelola memenuhi protokol kesehatan dan mengantongi izin berasal kelompok tugas Covid-19 setempat. “Untuk buka operasional tetap lihat pandemi setempat dan ada izin. Kesimpulannya jika ada destinasi wisata yang buka secara umum tanpa memeroleh rekomendasi dari ketua gugus covid setempat, yang diketuai kepala daerah, maka dinyatakan ilegal,” rasioncak pembicaraan Kepala Disporapar Jateng Sinoeng N Rachmadi, kemarin.

Disporapar Jateng telah menggerakkan semacam kebanyakan operasional prosedur (SOP) “Njagani Plesiran” seolah-olah tindak menyimpang berasal Instruksi Gubernur No 2/2020 tentang Tata Cara Memasuki Masa Peralihan yang meliputi tujuh poin, termasuk pariwisata. “Sejak pandemi, seluruh destinasi wisata ditutup sampai batas waktu tidak ditentukan. New normal ini, bukan berarti kembali seperti semula,” tegas Sinoeng. Menurutnya, ada sejumlah tata krama yang harus dipenuhi pengelola destinasi berekreasi. Salah satunya berbuat simulasi atau panduan sebelum dibuka pulang. Simulasi itu untuk mengarahkan kesiapan destinasi berekreasi berkualitas unit ticketing, pembatasan jarak, ketersediaan hand sanitizer, antiseptic, serta tikas pengelola berkualitas memandu pengunjung untuk bertakwa protokol kesehatan.

“Mereka tidak serta merta buka sebelum melakukan simulasi atau latihan. Selanjutnya, adalah izin dari satgas gugus Covid-19 setempat untuk melihat kondisi daerah apakah kategori merah, kuning, atau hijau. Sejauh ini yang direkomendasikan adalah yang masuk kuning dan hijau,” kata dia. Contohnya adalah simulasi Candi Borobudur. Simulasi ini menurut Sinoeng untuk menyongsong pembukaan operasi. “Borobudur ticketing tamat selesai, ada virtual dan touchscreen, serta ticket box. Pengunjungnya juga dibatasi, maksimal 50 persen berasal kapasitas lihai. Borobudur masa, pengunjungnya rata-rata 14 ribu-15 ribu, maka pada waktu dibuka, pengunjung dibatasi maksimal 7.000 rumpun,” ungkap dia.

Selain itu dibuka secara berjimat, tidak setiap hari. “Kami juga mengutamakan wisatawan lokal. Maka tagline wisata Jawa Tengah, ”Ke Jateng Aja”. Tidak punya target untuk wisatawan asing, kami utamakan wisatawan lokal,” putih dia.

Siapkan Fasilitas

Perlunya sejumlah persiapan bertepatan pelaksanaan protokol kesehatan sebelum pulang berbahasa dibenarkan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, Otros Trianto. Saat ini pihaknya tengah berbuat persiapan jelang dibukanya pulang bulan-bulanan berekreasi religi Gunung Tidar. Pihaknya waktu ini tengah menyiapkan sejumlah benua mandi tangan di gapura berisi dan beradu serta di kawasan makam.

Otros bercerita, persiapan tidak hanya seputar harta protokol kesehatan, tapi juga personel. Personel ini berharga guna berjaga-jaga wisatawan agar berkesan bertakwa protokol kesehatan. “Kami juga perlu menyiapakan penempatan personel untuk mengatur pengunjung. Lalu membuat tanda pembatas tempat duduk, pengadaan pos kesehatan baik di bawah maupun di tengah gunung, hingga pelatihan penerapan protokol kesehatan bagi petugas,” ujarnya, kemarin.

Lebih menyimpang dikatakan, pihaknya juga berlebihan membutuhkan sarana protokol kesehatan yang lengkap, diantaranya thermo-gun, benua mandi tangan, alat penghambat awak (APD) hingga face shield. “Kami juga belum bisa buka pada malam hari. Jika disetujui, akan dibuka mulai pukul 07.00 WIB-16.00 WIB,” ucapnya. “Destinasi wisata harus disiapkan dengan baik dan matang, jangan tergesa- gesa. Tempat wisata kita ada Taman Kyai Langgeng, Gunung Tidar, juga museum-museum. Termasuk alun-alun dan Taman Badan. Harus diketatkan, jangan asal buka dulu,” jelasnya.

Sekda Kota Magelang Joko Budiyono memaparkan, beberapa persiapan telah dilakukan oleh pengelola Taman Kyai Langgeng untuk memperhatikan wisatawan. Persiapan meliputi menyiapkan fasilitas mandi tangan di 50 telau, menggerakkan tanda pembatasan pengunjung dan merumuskan langkah maksimal bertimbun kunjungan. “Di dalam area Taman Kyai Langgeng jumlah pengunjungnya harus dibatasi. Ini masih dirumuskan berapa kapasitanya. Nanti bergantian. Misalnya, kalau di dalam sudah ada 1.000 orang, maka wisatawan yang masih di luar harus menunggu,” ungkapnya. Namun demikian, kebijakan pembukaan obyek berekreasi tak tak serta merta menggerakkan bertimbun pengunjung menjabat naik. Di obyek berekreasi religi makam Sunan Muria di lereng Muria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kawasan kunjungan berlebihan genting minim.

Kepala Desa Colo Destari Andryasmoro bercerita, berjalinan makam Sunan Muria bergerak dibuka biji Juni. Simulasi kunjungan wisatawan juga telah dilakukan untuk memastikan protokol kesehatan dilaksanakan. Namun, kawasan kunjungan peziarah hanya sekitar sepuluh persen berasal hari lihai sebelum pandemi. Selain makam Sunan Muria, Pemkab Kudus menunjuk Taman Sardi seolah-olah dua bulan-bulanan berekreasi percontohan pengelolaan pariwisata di era lihai ahijau (new lihai). Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah bercerita, simulasi kunjungan wisatawan telah dilakukan



Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *