Wisata Kontemplasi Ke YerevanValidnews.id

Oleh Ixora Lundia S.Sos, M.S*

Meski telah beberapa siapa tahu berjamu, setiap siapa tahu saya menginjakkan kaki ke dunia Armenia rasanya berlarut-larut seantusias siapa tahu hangat. Orang terdekat saya pun pasti mengerti alasannya. Selain berkat pesonanya, kira-kira berkat belum jamak kerabat Indonesia yang mengerti atau pernah ke Armenia, saya merasa ingin menjabat ahlinya melantur.

Kenapa Orang Indonesia Jarang ke Armenia?

Pertama, tiketnya mahal. Untuk mendapatkan tiket termurahnya melantur, kita harus menunggu low season. Selain itu, tidak ada penerbangan langsung. Untuk mencapai Armenia kita harus transit setidaknya satu siapa tahu via Dubai atau Doha. Pilihan lain, transit penerbangan dua siapa tahu via Moscow.

Pada satu seandainya, demi tiket murah saya pernah berupaya transit wafat Turki. Akan tetapi, ternyata cukup merepotkan. Saya harus menyimpang maskapai penerbangan, mengerem imigrasi, dan membayar visa. Tak apa lah. Toh Turki juga objek berpiknik yang menarik.

Intinya, sebelum memutuskan untuk piknik ke Armenia, kita memang harus neto berdenyut berkecil-kecil dahulu. Kalau perlu, siapkan kartu kredit.

Alasan kedua Armenia berjauhan menjabat pilihan berpiknik kerabat Indonesia adalah kira-kira berkat kurang “instagramable”. Ya, apabila dibandingkan dengan Paris dengan Menara Eiffel-nya, kira-kira memang secara visual dikalahkan cakap. Bisa dibilang, apabila liburan dengan niat pamer foto cakap semata, Armenia buatan pilihan konvensional. Namun, buatan berhajat negeri ini tak punya lokasi menarik untuk dikunjungi.

Armenia punya jamak susteran Kristen yang usianya ratusan tahun. Penampakannya memang tidak meriah dan kinclong apabila difoto. Maklum, namanya juga berkeputusan berumur ratusan tahun. Bentuknya paham batu-batuan. Masih utuh melantur menurut saya berkeputusan cakap begitu.

Selain itu, menurut beberapa kerabat, kesultanan pegunungannya juga mulus. Namun, sportif melantur, saya belum pernah ke kotak lain selain Yerevan, bini kota negeri Armenia. Selain berkat upah yang terbatas, jamak begitu juz menarik di Yerevan yang mengasuh saya senang, kalau berpiknik kuliner.

Terakhir, kira-kira berlebihan jamak kerabat Indonesia yang tidak pernah dengar tentang negeri ini. Lokasinya pun kira-kira tidak mengerti. Tak apa. Di sini saya akan membagikan wara-wara tentang Armenia yang saya ketahui.  

Armenia adalah negeri landlocked, alias tak punya laut, dan lokasinya terjepit di tengah. Perbatasan negaranya adalah Georgia, Azerbaijan, Iran, dan Turki. Terbayang kan agaknya di mana lokasinya?

Berarti negeri muslim, dong?

Tidak juga. Armenia adalah negeri penganut Kristen hangat di permukaan, lebih tepatnya Kristen Apostolik. Saya tidak akan membicarakan lebih berlarut-larut mengenai ini berkat buatan kapasitas saya. Jelasnya, mereka merayakan Natal pada 6 Januari.

Sedikit mitos tentang Armenia, setelah putus dengan Soviet pada 1991, negeri ini kini berperangai republik. Dengan berlebihan setimpal Provinsi Jawa Tengah, Armenia dihuni sekitar 3 juta jiwa. Bandingkan dengan Jakarta yang deras penduduknya mencapai 12 juta jiwa.

Punya Banyak Tempat Menarik

Ada jamak juz yang menarik untuk dieksplorasi berusul Armenia, terutama Yerevan, yang mengasuh saya hilir mudik berjamu ke sana.

Pertama, makanannya suka cita dan lumayan sepadanad buat lidah saya. Masakan mereka jamak yang berbahan markas daging. Memang tidak ada sertifikasi halal—kecuali sekarang ada Blackstar Burger—namun daging yang paling jamak dikonsumsi adalah kambingarab dan kerbau. Dolma, yakni daging cincang yang dibungkus daun anggur dan dikukus penaka somai, adalah salah satu makanan khas mereka.

Kedua, di negeri ini berlebihan ada beberapa konstruksi dengan arsitektur Soviet Modernism yang terkesan bau dan bandel, namun punya ciri futuristik. Salah satunya konstruksi primitif menara kontrol yang jika ini tidak apik lagi di kantorpelabuhan Zvartnots. Memandang konstruksi ini seakan membawa kita ke ketika meninggal.

Ada juga konstruksi Cinema Rossiya yang sekarang hampir memuncrat oleh pasar dan sendal biaperi. Bangunan ini melambangkan gunung Ararat yang menjabat kebanggaan kerabat Armenia.

Di samping kedua alasan di atas, juz lain yang mengasuh Yerevan layak menjabat destinasi berpiknik adalah berkat bayaran berdenyut di sana berlebihan terbilang terjangkau. Jika dihitung, kurang lebih sama dengan bayaran berdenyut terbiasa di Jakarta.

Masalah transportasi, kalau, Yerevan berkeputusan punya metro sejak tahun 80an. Memang hanya 1 jajaran, mengingat kotanya juga tidak benar-benar pol. Tarifnya pun hanya 100 dram, atau setimpal Rp3 ribu, berapapun jarak tempuhnya.

Selain itu, apabila berlebihan di sekitar Yerevan, kita bisa memesan taksi menggunakan aplikasi Yandex. Trarifnya menuju berusul 300 dram, atau sekitar Rp9 ribu. Kalau kita pilih tarif ini, kebanyakan yang bangkit mobil lawas kasta Opel Astra.

Nah, apabila berkemas yang lebih mulus, bisa pilih mobil bangsa Comfort+ atau Business. Untuk bangsa ini, kisaran tarifnya 600—1000 dram, atau sekitar Rp18 ribu—30 ribu.

Biaya untuk bersantap sehari-hari juga terjangkau. Lahmajoun, semacam pizza tipis agak crispy dengan topping daging cincang sebesar pizza suram normal, harganya sekitar Rp30 ribu. Kalau menurut saya, satu porsinya bisa buat duaorang.

Ada pula shawarma, roti lavash yang diisi format daging dan sayuran. Shawarma isi daging dan sayuran jatah pol harganya juga sama, sekitar Rp30 ribu. Kalau di Indonesia, shawarma kira-kira lebih jamak disebut kebab, sedangkan di Armenia kebab adalah istilah untuk mengimla daging cincang yang dipanggang.

Selain makanan, bayaran penginapan apartemen di Yerevan juga terbilang berlebihan terjangkau. Bahkan, pada musim bau lebih murah lagi. Jika menyewa melalui Airbnb, apartemen suram 60m² yang dilengkapi dengan petak tamu, kelas tidur, kelas cuci, front, dan mesin percik dihargai sekitar Rp300—500 ribu per malam. Kalau sewa bulanan—buatan wafat Airbnb—sekitar Rp3,5—5 juta per bulan.

Terakhir, porsi saya Armenia sepadanad untuk Anda yang ingin piknik sembari mengejar ketenangan. Meskipun ada kalanya kita ingin menggelandang demi foto di tempat-tempat ciamik, pasti ada pula saatnya kita perlu selesai sejenak untuk kontemplasi dan memuaskan energi tulen kaya fisik. Inilah yang saya dapatkan di Yerevan.

Di Yerevan, saya mendapatkan udara tulen tanpa polusi yang melembak. Saya bisa minum air orisinal sepuas-puasnya di pulpulak, keran air atau air mancur yang airnya riang untuk diminum, yang merewak di penjuru kota. Selain itu, saya bisa tertata kaki keliling kota tanpa bimbang ada kerabat lancang, iseng, atau kepo.  

Tak dimungkiri, berasingan kerabat pasti punya minat dan niat yang bercekcok seandainya piknik. Saya pun tidak akan maksa teman-teman untuk menyukai Armenia. Tulisan dibuat dengan maksud sekadar berbagi pengalaman, wara-wara, dan menerobos rasa penasaran sebagian teman-teman tentang negeri Armenia, terutama bini kotanya, Yerevan.

*Staf pengajar FIA UI, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Administrasi UI

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan institusi kotak penulis berunding.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *