Kasepuhan Ciptagelar Enggan Jadi Destinasi Wisata

SUKABUMI, AYOBANDUNG.COMKampung Adat Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat mengabar kesultanan bertempat mereka dijadikan destinasi pariwisata. Mereka menilai konsep pariwisata kurang bersih memiara nilai budaya dan tradisi yang kini diemban Ciptagelar.

Juru bicara Kasepuhan Ciptagelar, Yoyo Yogasmana berkata, wisatawan berjalan berpangkal tahun 2001, dimana apabila itulah nama Kasepuhan Ciptagelar dipakai dengan mengemban misi atau tugas menyebarluaskan ajaran leluhur soal kehidupan dan keseimbangan kerajaan.

“Ngagelarkeun tatanan karuhun nyaeta nu teu nyaho ngamimitian nyaho, nu poho inget deui, nu teu saimbang dilengkepan deui tinas sisi tatanan ka tradisian atawa kaadatan ngarah dina teu nyaho jadi teu nyaho, nu teu boga jadi boga, dina teu bisa jadi bisa. Naon anu digelarkeun, menginformasikan kasaimbangan kahirupan, apal kana ngeusian tugas kamanusaan dina ngisian kahirupan di alam,” terangnya apabila Ayobandung.com menyambanginya pekan lalu.

Meski tidak memiliki keterangan tertulis, Yoyo berkata secara kasat mata tiap pekan ratusan suku luar berpangkal ke Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar dan 10.000 suku lebih apabila acara tatakrama Seren Taun.

Tujuan berpangkal mereka bermacam ragam, ada yang sekedar ingin bersilaturahmi, menimba ilmu dan penelitian apalagi ada pula menganggap Kampung Gede bagaikan tujuan berekreasi. 

Konsep berekreasi yang digaungkan pemerintah ini kemudian membawa kekhawatiran ras Kasepuhan Ciptagelar hingga mereka tidak ingin menghunjam pukal salah satu destinasi wisata unggulan. 

Bagi ras tatakrama Kasepuhan Ciptagelar, kilau ekonomi lapangan pariwisata sungguh bekerja sasaran standar tugas mereka. Mereka risau konsep berekreasi ini merusak karakter ramah masyarakat yang menganggap bisa segala dibeli oleh uang.

Belum lagi persoalan sampah plastik yang dibawa wisatawan nyaris sama dirasakan dengan masyarakat tatakrama Kanekes, Baduy. Selama ini penanganan sampah tinggal sebatas dibakar belum ada upaya pemerintah untuk memberikan orde penanganan sampah yang bersih potong Ciptagelar.

“Sampah plastik ini kan dibawa wisatawan, cara sementara ya dibakar. Pemerintah belum memberikan sistem pengolahan sampah yang tepat,”ujarnya.

Sejatinya, ras Kasepuhan Ciptagelar lumrah menjalankan tugas leluhur menjaga keseimbangan manusia pukal mengisi kehidupan di kerajaan.

“Sebelum pemerintah menetapkan Lockdown, Kasepuhan Ciptagelar sudah menerapkan Blockdown akhir Februari 2020. Tetamu tidak boleh masuk karena kami tidak kemana-mana, yang dikhawatirkan paparan dari luar,”ucap Yoyo disinggung asalkan pandemi Coronavirus Disease (Covid-) di Ciptagelar.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *