Alamnya Eksotik, Tibubiu Dikembangkan Jadi Desa Wisata

TABANAN, BALI EXPRESS – Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, akan dikembangkan berprofesi desa berpelesir dengan segala potensi tanah yang eksotik, laksana kelompok pantai, persawahan, hingga muara bengawan.

Anggota DPRD Tabanan asal Desa Tibubiu, I Ketut Arsana Yasa, bercakap, selama ini Desa Tibubiu dikenal dengan Pantai Pasut yang ada di Banjar Pasut, Desa Tibubiu. Namun, sejatinya Desa Tibubiu juga memiliki kelompok persawahan Subak Sungsang yang tak bertekuk lutut indahnya.

Menurutnya kelompok Subak Sungsang ini secara berdansa temurun dan hingga seumpama ini merupakan lokasi yang tertata untuk jogging, maupun berperahu. “Tapi itu belum digarap secara maksimal, dan saya yakin jika itu digarap masyarakat atau wisatawan yang ingin berolahraga ringan, bisa menikmati suasana yang luar biasa,” paparnya, Minggu (9/8).

Ditambahkannya, waktu berfungsi subak yang selama ini dimanfaatkan laksana jogging track tersebut panjangnya sekitar 4 sampai 6 kilometer membawadiri pantai. Dan, sejauh ini berfungsi subak tersebut berkesudahan bertimbun yang menggunakan untuk satuan berperahu maupun jogging, terlebih sebelum pandemi Covid-19. “Digunakan dari Belumbang sampai ke Pantai Pasut, banyak pengunjung lokal yang sudah tahu, tapi ada juga travel dan vila yang mempromosikan rute ini kepada wisatawan. Sekarang tinggal finishnya saja agar disambut dengan kuliner. Misalnya ada yang menjual es kuud di Pantai Pasut, sehingga perekonomian warga juga meningkat,”jelasnya.

Politisi yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan itu, menyebutkan, tak hanya pantai, Desa Tibubiu juga memiliki muara Sungai Yeh Ho sepanjang 1,5 kilometer. Dengan kondisi airnya pada musim kemarau laksana seumpama ini akan terlihat penaka danau. Dan, setiap akhir pekan muara bengawan ini berprofesi salah satu tanah favorit porsi para pemancing. “Lebih dari 200 orang yang memancing di sana, entah dapat ikan atau tidak, tapi viewnya itu yang perlu dikembangkan,” melantur pria yang akrab disapa Sadam tersebut.

Oleh berkah itu, pihaknya telah mengajukan usulan penataan ke Dinas PUPRPKP Tabanan yang nantinya akan terus dikawal ke Balai Penanganan Abrasi Sungai. Pihaknya mengusulkan penyenderan di sepanjang sempadan bengawan, sehingga lulus tanah layak untuk masyarakat dan wisatawan. Apalagi di muara Sungai Yeh Ho tersebut berbetukebetulankebetulan untuk berpelesir air. “Sepanjang jembatan yang menghubungkan Tibubiu Kelod dan Desa Beraban sekitar 1,5 kilometer sampai ke Pantai Pasut dengan lebar 150 meter bisa dijadikan wahana air, sehingga perlu digarap secara serius, agar kedua desa, baik Desa Tibubiu dan Desa Beraban bisa menjadi Desa Wisata,” imbuhnya. 

Sejatinya, celotehan dia, perencanaan Desa Wisata tersebut telah dibahas sejak tahun lalu bekerjasama dengan Universitas Warmadewa. Selain pembuatan site plan perencanaan dilakukan step by step dan bekerja sama dengan masyarakat.

Untuk seumpama ini, pengunjung yang berusul ke Pantai Pasut tidak dikenakan upah untuk lebih mempromosikan berpelesir yang ada. Di era new kering ini, Pantai Pasut yang sempat ditutup untuk formal berkesudahan bertolak dibuka per tanggal 1 Agustua 2020, namun dengan meninggalkanbekas²jejaknlurus menerapkan protokol kesehatan Covid-19. “Kita buka akses ke pantai, tapi dengan pengawasan ketat, ada tempat cuci tangan dan pengunjung yang tidak menggunakan masker kita minta untuk pulang,” tandasnya.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *