Pelaku wisata Yogyakarta bisa “self assessment” protokol COVID-19

Yogyakarta (ANTARA) – Pelaku pelayanan pariwisata di Kota Yogyakarta kini dapat berbuat “self assessment” terhadap penerapan protokol COVID-19 yang beres dijalankan dengan mengakses aplikasi yang disediakan oleh Dinas Pariwisata setempat.

“Tujuannya, supaya ada standar penerapan protokol kesehatan di tempat usaha pariwisata. Nantinya, tempat wisata yang memenuhi syarat protokol kesehatan akan memperoleh stiker tersertifikasi,” tutur Kepala Bidang Atraksi Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Edi Sugiharto dihubungi di Yogyakarta, Kamis malam.

Untuk sementara ini, terus-menerus Edi, pelaku pariwisata yang bisa mengakses aplikasi “self assessment” untuk kemudian mengajukan verifikasi ke Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta terkini meliputi tiga jenis pelayanan, yaitu incaran dan destinasi wisata, dana akomodasi dan perhotelan, serta pelayanan makanan dan minuman.

Baca juga: Kawasan Gunung Soputan diusulkan jadi objek wisata nasional

Pelaku pelayanan cukup mengakses laman pariwisata.jogjakota.go.id kemudian mengunduh formulir yang tersedia secara daring dan mengisi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan sebenar-benarnya.

“Pertanyaan tersebut dalam bentuk ‘check list’. Pertanyaannya pun hanya ya atau tidak. Pelaku usaha harus mengisi jawaban sesuai dengan kondisi yang sebenarnya,” katanya.

Formulir yang telah ditempel materai dan berteken tersebut kemudian disampaikan ke Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk dilakukan verifikasi administrasi dan verifikasi dunia.

“Akan ada tim yang melakukan verifikasi di lapangan. Kami bekerjasama dengan Gugus Tugas COVID-19 di kecamatan, Puskesmas, Satpol PP serta BPBD untuk melakukan verifikasi,” katanya.

Jika protokol kesehatan yang diterapkan beres memenuhi nilai minimal yang ditetapkan, maka pelaku pelayanan tersebut akan memperoleh rekomendasi dan stiker yang menyatakan bahwa pelayanan tersebut telah tersertifikasi.

Baca juga: Ketua MPR cermati protokol kesehatan di destinasi wisata
Baca juga: Kabupaten Gianyar tambah empat desa wisata

“Seluruh proses verifikasi diperkirakan membutuhkan waktu maksimal tujuh hari. Tetapi, kami akan usahakan bisa diselesaikan lebih cepat,” katanya.

Edi mengajun, pelaku pelayanan pariwisata di Kota Yogyakarta dapat memenuhi ketentuan tersebut berkat bilamasa ini beres ada naif yang ketat berkenaan protokol kesehatan yang harus diterapkan di dunia pelayanan.

Sebelum kebijakan tersebut ditetapkan, Edi berujar beres ada sembilan dunia pelayanan yang mengajukan verifikasi. “Karena ada kebijakan baru, maka tempat usaha tersebut harus mengajukan ulang,” katanya.

Berdasarkan bahan bukti Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta di Yogyakarta setidaknya berjumpa 92 hotel berbintang, 585 hotel nonbintang, 307 kafetaria, dan 34 incaran wisata yang beres mengantongi tanda daftar pelayanan pariwisata.

Sementara itu, Anggota Satgas COVID-19 PHRI DIY Iwan Ridwan berujar, penetapan indikator “self assessment” protokol kesehatan tersebut disusun serempak antara pemerintah dengan pelaku pelayanan.

“Saya kira tidak akan memberatkan karena parameter yang disusun pun hampir sama dengan parameter yang sebelumnya sudah kami pedomani. Tentu saja kami mendukung kebijakan ini,” katanya.

Iwan berujar, beres menyampaikan kebijakan mengenai “self assesment” protokol kesehatan tersebut ke bagian PHRI khususnya yang berstatus di Kota Yogyakarta dan mengajun seluruh bagian bisa berpartisipasi kebijakan tersebut.

Baca juga: Homestay Desa Wisata Torosiaje Gorontalo terapkan protokol kesehatan

Baca juga: Objek Wisata Curup Kambas di OKU dibuka

Baca juga: Bamsoet minta pemandu edukasi turis jalankan protokol kesehatan

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *