Wisata Trekking Naik Daun di Masa Pandemi, Apa Saja yang Harus Diperhatikan Traveler?

Liputan6.com, Jakarta – Ragam perubahan hadir laksana jurusan berpokok adaptasi publik di semisal pandemi, tak terkecuali pilihan berkeliling(kota). Salah satu yang belakangan jaga laksana opsi lihai adalah berekreasi trekking bereban tak jauh berpokok kota berlebihan.

“Padahal, dulunya yang suka trekking kebanyakan tamu asing. Jadi, mereka sedang dalam perjalanan bisnis ke Jakarta dan mencari wisata di dekat sana. Makanya, trekking di daerah Sentul atau Bogor masuk pilihan,” wicara Manager Operasional Campa Tour and Travel, Ari Hendra Lukmana, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (13/8/2020).

Mulai diminati sejak kader Juni 2020, pukal praktiknya, piihak Campa Tour and Travel punya majemuk aturan yang harus ditaati, mulus oleh pramuwisata maupun pelancong. “Guide kami sudah berlisensi dan menjalani pelatihan lebih dulu. Ada pelatihan bahasa, P3K, dan penerapan protokol kesehatan,” imbuhnya.

Bagi pemandu wisata, wajib memakai face shield atau penegah watak, serta membawa hand sanitizer dan sabun bilas tangan. Karena selama perjalanan siapa tahu konsentrat membantu pelancong, pemandu juga diharuskan membawa sapu tangan maupun ujut tangan untuk menghindari kontak langsung.

“Peserta pun kami anjurkan membawa face shield. Karena pakai masker saat trekking justru berbahaya. Tapi, semisal lagi istirahat, tetap wajib pakai masker,” ucap Ari. Jara jarak pun terus diterapkan pukal bertapa berekreasi trekking.

Dalam satu agaknya perjalanan, satu leretan maksimal terdiri berpokok lima peserta dengan satu hingga dua famili pramuwisata. Ketentuan ini dilakukan mempertimbangkan keamanan, mengingat berekreasi dilakukan di semisal pandemi.

“Protokol kesehatan jadi tambahan fokus kami, selain tetap tak boleh lengah soal sampah. Jangan sampai mengotori,” ucapan Ari. 

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *