Pengibaran Bendera Merah Putih di Lokasi Patahan Tsunami Teluk Maumere. Bagaimana Pelaksanaannya? : Mongabay.co.id

  • Sebanyak 22 penyelam melaksanakan pengibaran Bendera Merah Putih di bawah laut di lokasi praduga akibat gempa dan tsunami Flores tahun 1992 di perairan Pulau Babi, TWAL Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.
  • Pengibaran Bendera Merah Putih dilakukan pada kedalaman 24 meter pas d lokasi praduga dan gua dimana ketika pengibaran bendera terjadi seekor hiu karang dan penyu yang berkedudukan tak jauh berpangkal penyelam
  • Pengibaran Bendera Merah Putih di bawah laut selain untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-75 juga untuk mempromosikan berjalan-jalanbepergian bawah laut dan mengajak masyarakat mencintai laut dan ekosistemnya
  • Maumere Diver Community (MDC) selaku iniasiasi kegiatan merupakan kotak para penyelam kompeten yang didirikan untuk meningkatkan SDM zat,mengamalkan penelitian serta beternak dan melestarikan ekosistem laut

 

Mengambil tanahraya Pulau Babi di lokasi Taman Wisata Alam Laut (TWAL)  Gugus Pulau Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2020) dilangsungkan pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut.

Pengibaran Bendera Merah Putih di bawah laut dilaksanakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk mencapai lokasi pengibaran bendera,para penyelam bertenggang berpangkal kantorpelabuhan Nangahale menggunakan perahu nelayan yang sewajarnya menghantar wisatawan untuk berpelesir di Teluk Maumere.

Selaku pentolan kegiatan, Maumere Diver Community (MDC) selama dua tahun berduyun-duyun sering melaksanakan kegiatan ini.

“Pengibaran bendera di bawah laut ini kedua dilaksanakan MDC.Tahun 2019 di tanggal yang sama, di Pantai Krokowolon Kota Maumere, bendera terlebih dahulu dibawa dari Puncak Gunung Api Egon di Kecamatan Mapitara,” ujaran penasihat Maumere Diver Community (MDC), Yohanes Saleh, Sabtu (15/8/2020).

Hanz sapaannya bergerak, sampai di pantai, Bendera Merah Putih dibawa rentetan snorkling sejauh 100 meter berpangkal cakap pantai. Oleh para penyelam, bendera pun dibawa ke pokok laut dengan kedalaman 10 meter dan dikibarkan. Total durasi manakala sekitar 45 menit.

baca : Merdeka! Kita Butuh Air dan Tanah yang Subur

 

 

Persiapan pengibaran Bendera Merah Putih di bawah laut di lokasi praduga tebing akibat gempa dn tsunami Flores tahun 1992 di Pulau nangui,Maumere,Kabupaten Sikka,NTT. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.

 

Indonesia Maju

Sebelum bendera dikibarkan di bawah laut dilakukan upacara singkat di darat. Bendera merah bening berdimensi 1,5 meter yang terserah di tiang diserahkan pembina upacara kepada komandan upacara berpakaian adab Sikka.

Sesudahnya komandan upacara membawa bendera tersebut untuk mengiringi proses pengibaran bendera di bawah laut. Kapal pun bertenggang sejauh 200 meter berpangkal cakap pantai sebelah barat Pulau Babi.

Dipandu komandan upacara yang membawa tiang bendera di angkatan depan, satu persatu penyelam berajojing ke sebu laut sambil membawa bendera Merah Putih yang berdimensi meruah yang bersisa berguling untuk dikibarkan.

Alasan pengibaran bendera di Pulau Babi menurut Hanz didasari keinginan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Karena sudut pandangan mereka berbarengan penyelaman, pengibaran bendera dilaksanakan di bawah laut.

“Kita ingin menunjukan semangat bahwa putra-putri Nian Sikka mampu dan bisa menjadi penyelam profesional,” tuturnya.

Penyelam yang berpartisipasi menurut Ketua MDC Bram Conterius sebanyak 22 marga menghunjam berpangkal Polres Sikka, Nusa Nipa Diving Club (NDCC), Maumere Diver Community (MDC), Sea World, Capa Resort dan TNI AU.

Bram katakan pihaknya tidak hanya membawa nama MDC melebar sebab ingin mengajak seluruh laskar masyarakat untuk berpartisipasi. Pihaknya ingin menunjukan masyarakat Kabupaten Sikka bisa mengamalkan masalah positif.

“Pengibaran Bendera Merah Putih yang kami laksanakan mengusung konsep Dari Nian Tana untuk Indonesia Maju. Usai pengibaran bendera kami lakukan clean up membersihkan sampah di pesisir pantai,” ucapnya.

Seorang penyelam memakai baju adab Sikka, jelas Bram, melambangkan kita  macam masyarakat berkebudayaan bersisa menjunjung lambat nilai adab dan budaya yang ada di Kabupaten Sikka.

baca juga : HUT RI, 10 Penyelam Bentangkan Bendera 74 Meter di Bawah Laut Papua Barat

 

Para penyelam dipandu komandan upacara yang mengenakan alat selam dan pakaian adab sambil memegang Bendera Merah Putih berkeledar mengamalkan penyelaman. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

 

Patahan Tebing

Proses pengibaran bendera berjalan khidmat. Bendera fundamen 3 meter yang dibawa oleh komandan upacara dan diikuti oleh pembawa bendera 10 meter. Ada 6 jejas dimana satu jejas terjadi 2 penyelam.

Hanz katakan, berpangkal aspek safety ada marshal yang beranggotakan penyelam kompeten di Maumere yang membantu penyelam beternak struktur.

“Setelah dikibarkan dilakukan safety stop sesuai prosedur penyelaman karena kedalamannya di bawah 5 meter. Sesudahnya, penyelam naik ke permukaan laut dan dibentangkan lagi karena ada peserta snorkling dan masyarakat yang ikut terlibat,” terangnya.

Di pokok laut sebut Hanz, penyelam yang memegang bendera ada 7 marga dengan berlimpah penyelam sebanyak 22 marga, 8 rentetan snorkling dan zat komunitas serta organisasi yang berpartisipasi menyaksikannya.

Posisi pengibarannya di praduga tebing sehingga menurutnya, keseimbangan dan kekompakan harus bekerja berkat penyelam tegak berpedoman reda selama 3 menit. Kedalaman patahannya mudahmudahan lebih berpangkal 100 meter.

“Tingkat kesulitannya ada dan kami merasakan bagaimana susahnya melakukannya. Ini juga memberi pesan sulitnya para pejuang kita merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” tegasnya.

Penyelam yang belum lihai ujaran Hanz, akan ditempel oleh yang berpisah lihai dan semua kegiatan di bawah laut menggunakan kode. Penyelam harus berpedoman dan menahbiskan bendera sepanjang 10 meter di pokok laut yang terkadang berarus.

“Pemandangannya di lokasi patahan juga bagus karena ada tembok-tembok besar di dasar laut,” ucapnya.

 

Bendera yang telah dikibarkan di bawah laut oleh para penyelam dibawa ke atas vak laut dan dilaksanakan upacara penghormatan bendera dengan merembet peserta snorkling. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

 

Ketua pelaksana kegiatan, Rikardus Fransiskus Lada mengajak seluruh laskar masyarakat untuk terlalu memaknai kemerdekaan dengan mencintai laut dan ekosistemnya.

Rikardus katakan, sudut pandangan bawah laut di TWAL Teluk Maumere sangat agus sehingga perlu ditunjukan kepada sudut pandangan luar. Ia katakana kegiatan yang dilakukan ingin menunjukan bahwa sungguhpun pandemi Corona, berjalan-jalanbepergian bawah laut bisa dilaksanakan dengan protap COVID-19.

“Kita ambil lokasi pengibaran bendera di Pulau Babi pada bekas patahan tsunami tahun 1992 karena ada nilai sejarah dan spotnya pun sangat indah. Kami harap semuanya boleh berbahagia boleh memaknai kemerdekaan ini.”

Rikardus katakan, lokasi pengibaran bendera sepanjang 10 meter berkedudukan di kedalaman 24 meter. Spot pengibaran ujaran dia sayu  agus berkat ada crack, praduga tebing akibat gempa dan tsunami tahun 1992

“Ada patahan dan gua yang didalamnya ada banyak terumbu karang yang indah dan beragam jenis ikan. Ada sarang hiu juga dan saat pengibaran bendera ada seekor hiu karang dan penyu yang berada di dekat di lokasi pengibaran bendera sejauh sekitar lima meter,” jelasnya.

 

Bendera Merah Putih yang dikibarkan di pokok laut di tikas praduga akibat gempa dan tsunami di perairan depan Pulau Babi,TWAL Teluk Maumere,Kabupaten Sikka,NTT. Foto : Maumere Diver Community (MDC)

 

Penyelam Profesional

Mencintai laut sebut Hans berhasil alasan MDC didirikan selain berkat penyelam  yang berpisah bersertifikat tidak mempunyai kabin untuk meningkatkan potensinya.

Selain itu komunitas didirikan untuk merangkul mereka yang berpisah bersertifikat dan mereka yang menyukai aktifitas penyelaman.

“Saya ingin para penyelam menjadi profesional dibidangnya dengan menjadi dive guide bahkan peneliti. Komunitas kami beranggotakan 32 orang dimana 3 perempuan,”ungkapnya.

Hanz membeberkan zat komunitas ada 25 marga  yang berpisah bersertifikat dan dive babon ada 4 marga. Pihaknya pun akan lakukan sertifikasi lagi. Mimpi meruah MDC ujaran dia, ingin menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berderajat dan kompeten.

MDC juga sebutnya, sukarela membantu beternak dan melestarikan ekosistem laut dengan mengamalkan transplantasi terumbu karang dan mengasuh taman bawah laut berapa. Ini untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa Sikka memiliki berjalan-jalanbepergian bawah laut yang bekerja.

“Saya berharap teman-teman di MDC bisa lebih fokus dan mengharumkan nama Kabupaten Sikka apalagi sebagai orang lokal harus mengetahui potensi wisata bawah lautnya,” pesannya.

Arjun akui menyelam tahun 2016 dan setelah ada sertifikat tidak ada aktifitas lagi  sehingga dengan bersyarikat di MDC ia ingin bisa terus menyelam dan bisa naik level.

Penelitian skripsi dia juga disupport oleh MDC sehingga ia harapkan ke depannya pemerintah bisa membantu dan mendukung kegiatan MDC berkat kegiatan yang dilakukan membawa nama Maumere alangkah melebar nama komunitas.

 

Bendera yang telah dikibarkan di bawah laut oleh para penyelam dibawa ke atas vak laut dan dilaksanakan upacara penghormatan bendera dengan merembet peserta snorkling. Foto : Yudha/SAR Maumere.

 

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *