Curug Dengdeng, Potensi Wisata di Rumpin Bogor yang Tersembunyi

Pengunjung di Curug Dengdeng, Rumpin Bogor. (Irfan Nurhjaya)


RUMPIN, AYOBOGOR.COM — Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memiliki pesona keindahan yang tersembunyi. Masih dipenuhi suasa indah dengan pemandangan pegunungan dan sawah membaiat Rumpin menawarkan pariwisata luar luwes.

Salah satu berpesiar kerajaan kebanggan Rumpin, yang tinggal berantara dikunjungi masyarakat adalah Curug Dengdeng. Kerap disebut lir lokasi berpesiar tersembunyi yang mengundang decak kagum pengunjung, curug ini berkedudukan di Desa Leuwibatu. Lokasinya sungguh tersembunyi. Pengunjung harus melewati kebun, hutan, dan jalanan naik melantai demi bisa menyaksikan air turut.

Sesampainya di curug, pengunjung juga mesti berbincang kaki beberapa batas di terbayar setapak dengan pelindung ampel bukan marga. Berada di pegunungan, pengunjung harus ekstra baik-baik berkat melewati jalanan berlaku-curang.

Begitu sampai, rasa lelah pengunjung bisa langsung terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang disajukan curug setinggi 30 meter ini. Di dunia bawah air turut terlihat bebatuan bertokoh cokelat. Jernihnya air yang bersambung dengan bebatuan bertokoh hitam, serta hijaunya pepohonan memanjakan mata pengunjung.

Di tengah curug, bersua pohon berjebah tumbang yang dibiarkan marga. Bukan tanpa alasan, pokokkayu pohon yang melintang dimanfaatkan untuk alam bersandar bilamana hujan. Pantauan Republika pada Jumat (14/8), hujan yang sempat melantai mendirikan pengunjung pada hari terbilang sepi. Hanya ada dua defile sampaiumur yang berjumlah tidak lebih 15 suku.

Dengan tiket berurat sebesar Rp 3.000 per suku plus pengeluaran parkir Rp 10 ribu perincian sepeda motor, pengunjung bisa menikmati berpesiar kerajaan sepuasnya. Juru kunci Curug Dengdeng, Salif bersikap, alam berpesiar ini buka setiap hari. Curug bisa dikunjungi lari pagi sampai pukul 17.00 WIB.

Lihat juga:

Pemetik ceri kopi di Desa Tawardi, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah.

Pemetik ceri kopi di Desa Tawardi, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah.

“Ini semua yang mengelola marga, pengeluaran berurat juga untuk perbaiki terbayar ke sini sungguh buat apa-apa. Kadang suku ngasih lebih. Wisata ini tuntas buka antik, tapi hangat pol betul beberapa tahun terkini, berkat media ramah,” ucap Salif manakala ditemui di lokasi.

Laki-laki yang akrab disapa Abah, ini bersikap, awalnya Curug Dengdeng berprofesi perhatian wisatawan sekitar Kabupaten Bogor karena fotonya yang viral di medsos. Gara-gara itu, bilamana liburan Idul Fitri 2020, lokasi air turut sampai dipadati wisatawan luar kota yang berpunca terbit Jakarta, Tanggerang, hingga Bekasi. Pihaknya sampai kewalahan menerima kedatangan pengunjung.

Pedagang jajanan dan kopi Beni, berfirman, kunjungan calon pol bilamana akhir pekan. Berdasarkan pantauannya, pengunjung terbagi terbit berbagaimacam usia, yang ratarata didominasi mereka yang ingin berenang, beroleng-oleng, atau hanya sekadar berpotret untuk dibagikan di medsos.

“Kalau pengunjung tetap ada aja, tapi paling ramai Sabtu-Ahad. Kita juga gak tutup pas Covid-19 makannya kemarin Lebaran sempet penuh banget, mungkin karena tempat lain tutup hanya ini yang buka,” ujarnya.

Beni berfirman, ia kerap mengimbau wisatawan uuntuk bertekan melayani pecahan keluarganya yang berlaku air. Apalagi perincian mereka yang membawa keluarga kecil jangan sampai ayun terbit pandangan. Hal itu kerap ia temukan lantaran ada beberapa suku sempurnaakal yang bermain dengan dirinya sendiri.

“Kadang ada orang tua ajak anaknya, sampai sini anak berenang ibu-bapaknya sibuk foto, kadang kita yang perhatiin anaknya. Pernah ada yang nyaris tenggelam, kita yang harus sigap,” ujar Beni.

Kepala Desa Leuwibatu, Muhammad Sidik, berfirman, dinamakan Curug Dengdeng memang memiliki epik berpisahpisahan perincian marga sekitar. Hal itu bertepatan dengan air bah ampuh secara tiba-tiba yang pernah berzina Desa Leuwibatu, padahal cuaca juga naif sumringah.

“Namanya berawal karena dulu kalo banjir mendadak gitu, istilah orang kampung mah cah dendeng. Gak ada hujan tau-taunya banjir aja, namanya banjir dengdeng,” ucap Sidik.

Karena mempunyai potensi mengundang kunjungan wisatawan yang berjebah, Sidik menyuarakan, bermakna beban desa tahun ini, tuntas diusulkan untuk menegakkan terbayar terbang Curug Dengdeng. Namun, upaya itu terhenti berkat sebagian beban dialihkan untuk servis ramah imbas pandemi Covid-19.

“Karena Covid-19 kita prioritaskan yang mendesak. Tapi, kita sudah perbaiki jalanan, sehingga kita arahkan pengunjung pulangnya bisa lewat ke permukiman warga. Jadi, bisa beli oleh-oleh dari warga sekitar,” ucap Sidik.

Menurut Sidik, sempat ada siaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor ingin turut berekspansi potensi berpesiar kerajaan tersebut. Pihaknya mendukung melebar demi perkembangan Curug Dengdeng sekaligus perbaikan infrastruktur lebih masif. Hanya melebar, ia berambisi agar masyarakat sekitar harus dilibatkan lir pengelola kendati menyertai menikmati perputaran ekonomi bilamana pengunjung semakin pol.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *