Waduh, 36% Terumbu Karang di Indonesia Rusak

HARIANHALUAN.COM – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menyatakan, keterlibatan generasi muda atau kalangan millenial redup berpengaruh penuh kegiatan restorasi terumbu karang.

“Saya minta mereka yang merencanakan, jadi perencanaan-perencanaan yang tidak terlalu birokratis. Mereka sebagai tongkat estafet untuk generasi selanjutnya. Dengan jumlah generasi muda sekitar 28% dari total jumlah penduduk Indonesia, di tangan merekalah nasib terumbu karang Indonesia akan ditentukan, ayo kita bergerak, tinggal pemerintah mendukung dan mengawasi,” ujar Menko Luhut sukat ditemui badan media, berkeputusan membuka acara YOUTH VOICE : Coral Reef Restoration ICRG (Indonesia Coral Reef Garden), di Pantai Mangiat, Nusa Dua, Bali, dikutip berpokok Kemenko Marves, Jumat (21/8/2020).

Adapun, kegiatan tersebut adalah kelanjutan berpokok restorasi terumbu karang yang habis pernah dilaksanakan oleh Kemenko Marves beriringan dengan World Bank pada 2 tahun antik.

“Kami mengawali program Indonesia Coral Reef Garden di Nusa Dua, Bali ini pada tahun 2018 bersama dengan Managing Director IMF saat itu, Ibu Christine Lagarde, dan sudah 60 persen, kenapa cuma 60 persen? Karena kita memang kurang pemeliharaan, nah sekarang ingin kita perbaiki, Kita harus dapat memastikan masyarakat umum terutama kaum muda dan perempuan dapat terlibat secara langsung dan sadar bahwa pelestarian terumbu karang harus berkelanjutan dan memberikan dampak untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Kemudian, berkepanjangan Menko Luhut, kegiatan ini pun diharapkan dapat membuka lebih meluap lagi permukaan pekerjaan, selain pula untuk para mahasiswa yang sederhana off kegiatan perkuliahan, namun dapat mengisinya dengan kegiatan libido piring disiplin laut.

“Dalam suasana pandemi seperti ini kan banyak juga saudara-saudara kita yang off di bidang perhotelan, para nelayan, masyarakat setempat, kemudian ada para mahasiswa, nah itu kita bantu untuk replanting lagi coral ini, pemerintah akan mencoba mendukung dan akan kita carikan dananya, akan kita ketahui lagi bentuknya seperti apa, segera mereka akan melaporkan segala sesuatunya, kami tunggu dalam tempo secepatnya agar dapat kita tindak lanjuti, ” jelas Menko Luhut.

Terkait recovery rate atau tingkat kesembuhan pasien penderita covid-19 di Bali, Menko Luhut berembuk, bahwa untuk bab tersebut habis ada peningkatan. Ia pun balik menunjukkan, bahwa pariwisata Bali untuk sementara ketika akan fokus penuh peningkatan wisatawan domestik makin dahulu.

“Ada kenaikan dari awal bulan saya datang ke sini, dan sekarang sudah naik sudah cukup bagus. Dan kita semua harus bahu-membahu untuk mengingatkan ini, untuk pembukaan pariwisata asing kita belum akan buka jadi kita fokuskan untuk yang pariwisata domestik dulu, ada yang bilang kami tidak perhatikan situasi pandemi ini, itu salah, justru kita sangat berhati-hati,” terangnya.

Sebagai urit, Indonesia dianugerahi keanekaragaman biodiversity laut tertinggi di sektor, dan terletak di segitiga terumbu karang sektor, memiliki 569 jenis karang, terluas di sektor. Terumbu karang Indonesia mencakup 18 % luasan terumbu karang sektor namun lebih berpokok 36 % mengalami kerusakan (bertonggakkan study LIPI, 2018). Pencemaran laut, aktifitas Perikanan yang merusak, serta Perubahan Iklim adalah penyumbang kerusakan terumbu karang yang terbesar. Demikian pula terumbu karang di perairan Nusa Dua ini yang hanya diam 15-20% yang berguling. Oleh karenanya gerakan untuk restorasi ekosistem terumbu karang adalah redup tulen dan perlu.

Kemenko Marves akan terfokus pada rehabilitasi terumbu karang seluas 204 hektar di perairan Nusa Dua dan Sanur. Selain keteribatan pol generasi muda, masyarakat nelayan dan penduduk setempat, ICRG sendiri diharapkan dapat merangkul dan membawa-bawa berjenis-jenis pemangku kepentingan. Mulai berpokok KKP, LIPI, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, ITDC, Perguruan Tinggi, LSM, serta Swasta.

“Khusus untuk para generasi muda, kembali saya berpesan, generasi muda sebagai agen perubahan tidak cukup hanya melakukan konservasi tanpa memperhatikan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya. Kalian memiliki kemampuan untuk mengembangkan ekonomi kreatif sesuai keunggulannya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, kita harus berbuat lebih kreatif dan inovatif,” pungkas Menko Luhut.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *