Mengungkap Keberadaan Benda Bersejarah di Laut Indonesia

[INTRO]

Wilayah perairan laut Indonesia sejak dulu dikenal penaka tim favorit nalokasi kapal-kapal yang membawa misi perniagaan ataupun misi lain pecah berbagairupa penjuru bagian. Selama pada waktu penjelajahan tersebut, tak sedikit kapal laut yang tenggelam di perairan Indonesia berkah mengalami petaka.

Salah satu nomor tersebut yaitu perairan laut di Provinsi Bangka Belitung dikenal penaka tim pangkal di Nusantara untuk transportasi kapal perniagaan dan perkakas di pada waktu lalu. Di tim tersebut, membludak kapal laut pecah berbagairupa tanahraya di seluruh bagian yang membawa perkakas perniagaan untuk dijual di tanahraya target, salah satunya Indonesia.

Sebagai tim pangkal di nomor Nusantara, mondar-mandir kapal-kapal berleleran berlangsung setiap asalkan dan tak sedikit di antaranya yang mengalami petaka berkah disebabkan membludak sisi. Kapal yang mengalami petaka, kemudian buyar dan tenggelam di perairan tersebut.

Bukti bahwa ada kapal yang tenggelam, berlebihan bisa dilihat sampai sekarang di perairan tersebut. Pemerintah Indonesia beternak semua perkakas petunjuk peninggalan yang berperan saga di pada waktu sekarang tersebut. Penjagaan dilakukan Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam (Pannas BMKT).

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP) yang menemani konsekuen atas pengawasan BMKT, terus mencariakal mengamankan semua BMKT yang diketahui terbesar ada di nomor perairan Indonesia. Salah satunya di Bangka Belitung.

Sebagai salah satu pecahan Pannas BMKT, Ditjen PSDKP menggandeng Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP bermutu melaksanakan pengawasan semua BMKT yang ada di perairan Indonesia. Upaya itu salah satunya dilakukan asalkan berbuat pengawasan di Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah belum sakti ini.

“Ada beberapa kategori benda yang diduga BMKT yang teridentifikasi saat melakukan peninjauan lapangan bersama. Di antaranya adalah fragmen keramik, logam mulia, dan besi,” ungkap Direktur Jenderal PSDKP KKP Tb Haeru Rahayu belum sakti ini, penaka dikutip Mongabay, Minggu, (23/8/2020).

Walau tuntas ada hasil identifikasi, dia mengaku berlebihan belum mencerna secara pasti bukanmain berlipat-lipat detilnya. Hanya berpanjang-panjang, benda-benda yang ditemukan tersebut diketahui merebak di sepanjang pantai yang ada di Desa Kurai dengan diameter luasan mencapai 20 meter.

Di lokasi tersebut, beberapa materi yang ditemukan di antaranya serpihan keramik, besi mulia, logam, guci berdosis padat, pasu berbentuk dengan diameter kurang pecah 50 sentimeter, bilahan panah, dan batang berdosis padat.

“Kami sudah meminta agar benda-benda tersebut diamankan, mengingat lokasinya cukup dekat dengan area publik, serta untuk mengantisipasi kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam,” ungkap dia.

Mengingat asalkan ini teradat berlangsung pandemi COVID-19 yang menjalin membludak aktivitas urung, Haeru Rahayu menyangkut-nyangkutkan membludak pihak untuk menemani beternak semua BMKT di Indonesia. Setelah pandemi berakhir, dia berkaul akan menyangkut-nyangkutkan membludak pihak lagi untuk mempelajari hasil temuan benda-benda BMKT pecah Bangka Belitung.

Dengan mempelajari semua materi tersebut, itu akan mencerna nilai saga dan ilmu pengetahuan, ataupun potensi ekonominya. Selain itu, dengan mempelajari lebih detil, akan bisa diketahui saga perdagangan, manis, budaya, dan peran Bangka Belitung di pada waktu lalu.

Pada kesempatan masing-masing, Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan KKP Matheus Eko Rudianto memerintah bahwa pengawasan yang dilakukan di Desa Kurau dilakukan setelah mendapat laporan resmi pecah Botanical Group for Environmental Project.

Menurut dia, penaka tanahraya kepulauan, Indonesia memang memiliki potensi peninggalan BMKT yang hebat padat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan KKP pada 2000, sedikitnya berjumpa 463 flek lokasi BMKT yang merebak di seluruh nomor perairan laut. Dari berlipat-lipat tersebut, diketahui terakhir 20 persen yang tuntas bergerak dilakukan verifikasi dan 3 persen yang teradat dilaksanakan eksplorasi.

Sementara, Dirjen PRL KKP Aryo Hanggono bercerita, setelah meninjau langsung di piring disiplin dan menemukan benda-benda yang diduga sisi pecah BMKT, KKP berkonsultasi dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar bisa dilakukan proses identifikasi lebih rinci.

“Harapan kami, narasi kesejarahan dari benda tersebut dapat menambah pengetahuan dan menjadi daya tarik untuk mendukung pengembangan wisata bahari di lokasi tersebut,” ucap dia.

Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Tukul Rameyo menambahkan, pembentukan Pannas BMKT dibentuk pada 1989 dengan target untuk memalangi dan mengelola keberadaan BMKT yang potensinya hebat padat di nomor perairan Indonesia.

Setelah Pannas BMKT bertumpu, 11 tahun kemudian Pemerintah Indonesia memberlakukan Undang-Undang No.11/2010 tentang Cagar Budaya. Melalui regulasi tersebut, pemanfaatan dan pengelolaan peninggalan BMKT pecah kapal yang mengalami petaka di nomor perairan Indonesia, diharapkan bisa berperan lebih langsai.

Selain untuk atraksi mencariangin saga, kehadiran BMBKT di bawah perairan Indonesia juga bisa berperan sisi pecah wawasan primitif untuk seluruh partai masyarakat Indonesia. Terlebih, bermutu Peraturan Presiden RI No.16/2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, yang hamil tujuh pilar KKI, berjumpa pilar keenam tentang budaya maritim.

“BMKT dan shipwreck (bangkai kapal tenggelam) ini tengah berusaha untuk ditambahkan dalam tujur pilar yang ada dalam Perpres 16/2017,” ujar dia.

Menurut Tukul, ada tiga program pangkal yang fokus pada laut dan literasi budaya. Di antara ketiganya, ada upaya untuk berekspansi inovasi bertonggakkan literasi budaya yang ada pada kapal tenggelam dan warisan bawah air bermoral BMKT.

Untuk itu, tatanan yang dipilih salah satunya adalah dengan memajukan museum maritim. Adapun, lokasi yang dinilai berbetukebetulankebetulan untuk pembangunan museum, tidak lain adalah Belitung, berkah di nomor perairan pulau tersebut ada beberapa lokasi kapal tenggelam berkah kecelakan di pada waktu lalu.

“Selain itu, Belitung juga akan dipromosikan sebagai UNESCO Global Geopark dan juga merupakan satu dari 10 destinasi wisata super prioritas Pemerintah Indonesia,” ungkap dia menuturkan program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang berniat untuk menyaingi pariwisata di Bali.

Di luar sisi yang disebut di atas, Tukul menambahkan bahwa Belitung juga hebat berbetukebetulankebetulan untuk berperan baka lokasi pembangunan museum maritim, berkah di perairan pulau tersebut bisa dikembangkan konsep pariwisata terpadu mencakup mencariangin kapal tenggelam, BMKT, dan ekosistem laut penaka terumbu karang dan hutan bakau (mangrove).

Dengan konsep terpadu penaka itu, diyakini Belitung bisa bercabang berperan lokasi mencariangin yang tidak hanya sekedar menawarkan atraksi mencariangin saga bawah air berpanjang-panjang, namun juga bercabang penaka destinasi mencariangin kuliner yang menawarkan seperti kuliner pecah berbagairupa genus ras.

“Jadi, dapat dipadukan semua sektor, sehingga pengunjung yang datang akan lebih banyak. Itu karena pengunjung tidak hanya melihat mangrove atau terumbu karang, tapi juga melihat sejarah bahkan kuliner dalam satu kawasan,” papar dia.

Di aspek lain, walau konstruktif potensi yang hebat banter, namun pemanfaatan BMKT dan kapal tenggelam tidak bisa dengan mudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Penyebabnya, berkah pemanfaatan dan pengelolaan untuk potensi tersebut berlebihan terkendala upah, terutama untuk pengangkatan kapal yang padat.

Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Lingkungan Laut Kemenko Marves Nurul Istiqomah, pengangkatan layon kapal dan BMKT sampai sekarang berlebihan berperan kegiatan yang mahal berkah kerumitan proses dan nilai saga yang ada di dalamnya.

Diketahui, pengawasan BMKT yang berperan fokus pecah KKP bermutu dua terkini, di antaranya golongan yang memiliki tingkat mara cukup banter terhadap kegiatan pengangkatan BMKT secara ilegal. Daerah yang dimaksud, adalah Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Karawang (Jawa Barat), dan Selayar (Sulawesi Selatan).

Selain dengan berawal ke piring disiplin secara langsung, pengawasan juga dilakukan pada lepau penyimpanan BMKT yang ada di Cileungsi, Kabupaten Bogor dan Sawang, Kota Depok (Jawa Barat), Lodan (DKI Jakarta), Batam (Kepulauan Riau), dan Belitung (Bangka Belitung).

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *