Terpukul Pandemi, Begini Kisah Getir Pedagang Oleh-oleh di Kawah Putih

RANCABALIAYOBANDUNG.COM — Sembari bertumpu menebar sapa, Deris, pedagang oleh-oleh di kategori berwisata Kawah Putih, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung tak pernah lelah menawarkan oleh-oleh khas Ciwidey kepada pengunjung.

Tempat dirinya berniaga memang berperan tanah perhentian para pengunjung andaikata berdansa mulai-sejak angkutan berwisata, ontang-anting.

Di tengah becak hujan itu, sayangnya hanya sedikit keturunan yang berpangkal untuk sekadar menawar dagangannya. Mereka menyibukan jisim untuk menyelamatkan selira dan bajunya agar tak terkena derasnya becak hujan kala itu.

“Teh, a, stoberi segarnya teh, Rp5.000 saja, mangga, teh, a, sambil berteduh,” ucap wanitaantjantan berumur 37 tahun itu seraya menawarkan, Sabtu (15/8/2020) pekan lalu.

Melihat tak ada satu pun pengunjung yang menghampiri kiosnya, Deris bertawakal. Perempuan berjangat kuning langsat itu memilih putar mengiringi sang gacoan yang tengah beraga di kaya kios kecilnya.

Virus Corona memang memberikan pukulan kritis jatah mereka yang mengejar nafkah. Bukan hanya pegawai swasta atau pekerja buruh, pekerja piring disiplin informal layaknya pedangan kecil yang menggantungkan hidupnya di piring disiplin pariwisata.

Malang tak dapat dibendung, andaikata bulan-bulanan berwisata tanah Deris mengais rezeki ditutup April lalu, roda perekonomiannya seakan dibuat lumpuh total. Dia dan suami yang berharap dengan mengandalkan pemasukan mulai-sejak menjajakan oleh-oleh harus menelan pil pahit sebab berbulan-bulan tak bisa berniaga.

“Untuk penghasilan jatuh, jelas pas tutup mah, karena ini jadi usaha utama, enggak ada sampingan. Contoh pas ada PSBB (pembatasan sosial berskala besar) tutup kemarin itu total tidur saja di rumah, total, enggak ada pemasukan,” bicara Deris andaikata bergebang dengan Ayobandung.com.

Ibu dua bani itu mengaku sejak pandemi Covid-19 ini, dia dan suami sangat kesulitan mengejar penghasilan sehari-hari. Pekerjaan berperan pekerja menyemak di kebun sayur keturunan pun tidak cukup untuk menghidupi upah beringsut go-longan.

“Kalau buat masak ya kita di pas-pasin dari kebun sedikit. Tapi kebanyakan tidur aja di rumah, karena suami juga ikut jualan di sini. Makanya dampaknya enggak main-main,” bicara Deris.

Setali tiga uang, sejak putar dibukanya bulan-bulanan berwisata Kawah Putih pada 13 Juni lalu, tak berjibun pemasukan yang bisa Deris dikantongi. Meski pemerintah cacah tidak memberlakukan lagi PSBB dan memasuki adaptasi kebiasaan terakhir (AKB) untuk piring disiplin pariwisata di Kabupaten Bandung. Namun jualannya bertekan melempem lantaran geliat kunjungan wisatawan Kawah Putih belum balik sepenuhnya.

“Bukan turun lagi, tapi terjun bebas, jauh, jauh banget. Sekarang omzet misalnya dari yang laku di masa normal bisa 100%, sekarang 50% juga enggak,” ucap Deris.

Perempuan yang bertempat di kemas Raya Batu Tunggul, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung itu justru tak bisa melindungi kesedihannya andaikata membicarakan lesunya penjualan.

“Dari perhitungan jualan kalau 1 minggu, juga kadang sehari bisa ada yang beli, sehari bisa enggak ada sama sekali,” ucap Deris.

Untuk perabot jualannya, Deris dan sesama rekan penjualan oleh-oleh lain menawarkan perabot nyaris sama, terbang mulai-sejak stroberi junior, stroberi rutin, keripik, hingga dodol olahan stroberi. Namun alih-alih laris sopan di misalnya AKB, Deris harus menelan kegetiran lantaran tak berjibun untung yang bisa dia kantongi.

“Nyetok apabila hari teradat sebelum ada Covid-19, 50 perabot oleh-oleh sehari kadang bisa berakhir tapi apabila sekarang ada berakhir ada enggak. Makanya penginnya, Corona sebat rusak, yang naungan kendati stabil lagi, luwes lagi secara teradat apabila luwes lagi riang,” ujarnya.

Tak jauh mulai-sejak lokasi Deris berniaga, pemandangan macam terlihat mulai-sejak kios Yanti Effendi. Ibu satu bani itu sesekali termenung di meja plastik seraya bergairah ada berjibun pengunjung yang memborong perlengkapan dagangannya.  Perempuan berumur 30 tahun itu menjajakan kaos khas Bandung hingga souvenir yang lazimnya diburu wisatawan Kawah Putih.

“Selama 10 tahun jualan kondisi ini pertama kali, berat. Apalagi waktu tutup, enggak ada penghasilan sampingan,” bicara Yanti meluapkan isi hatinya.

Yanti juga mengakui, bagaimana AKB telah menggelinding, omzet penjualan kaos dan suvenirnya melempem serta jauh mulai-sejak bicara “marema”. Hal itu dikatakannya hantaman mulai-sejak situasi pandemi virus Corona andaikata ini.

Dia yang bernenek-moyang mulai-sejak Kampung Cibodas, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali itu mengakui kondisi serupa ini bukanlah masalah yang diinginkannya.

Namun bagaimana tinggal sepi mulai-sejak para pembeli, Yanti mengaku akan bertekan berteguh hati untuk berniaga. Dia juga ingin usahanya putar berdiskusi semestinya sehingga mendapatkan pemasukan untuk menopang upah beringsut go-longan.

“Pernah juga sehari enggak ada yang berakhir, atau cuman bisa dapat Rp50.000, Rp100.000 sehari, itu pecah buat jajan bani. Sebelum Covid-19, 100 belah bisa berakhir sehari, apabila sekarang, paling 10, 20 belah. Paling berjibun 30 sari itu juga apabila libur akhir pekan,” ujarnya.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *