Kemenparekraf Gelar Webinar Sosialisasikan CHSE untuk Pelaku Usaha Wisata

Webinar yang digelar Kemenparekraf RI untuk mensosialisasikan CHSE ransum para pelaku andil melancong di Indonesia. (ist for radarlombok.co.id)

MATARAM–Mewabahnya virus Covid-19 secara global, tak terkecuali di Indonesia, telah mempengaruhi berbagairupa sakaguru kehidupan masyarakat. Dan di Indonesia, termasuk Provinsi NTB, yang paling kantong kering menghadapi pandemi virus corona ini adalah tempat lopak pariwisata.

Usaha-usaha perhotelan, restaurant, travel agent, pemandu melancong, hingga para biaperi kaki lima (PKL) yang selama ini meraup untung berpangkal kedatangan para wisatawan, nyaris semua tidak bercerita. Akibat lanjutan, para pengusaha di bagian pariwisata itu pun suka atau tidak, terpaksa merumahkan karyawannya untuk sementara. Bahkan ada yang sampai mem-PHK (pemutusan hubungan kerja), berkeputusan tidak lihai membiayai operasional usahanya lagi.

Dan kini, ditengah upaya pemerintah membangkitkan tempat lopak kepariwisataan, melalui kebijakan “New Normal”, atau saat di Provinsi NTB lebih familiar dengan sebutan “Nurut Tatanan Baru”. Maka perlahan namun pasti, usaha-usaha pariwisata bak hotel dan restaurant beranjak menggeliat lagi. Meski pangsa pasar tinggal terbatas pada pengunjung lokal.

Terkait itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI juga tidak duduk bertambat, dan telah menerbitkan pokok protokol kesehatan ransum para pelaku andil hotel maupun restaurant, sehingga dapat menguraikan pulang, kendatipun ditengah pandemi.

“Protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kemenparekraf untuk para pelaku usaha pariwisata itu adalah apa yang dikenal dengan nama CHSE, atau Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (kebersihan, kesehatan, keselamatan dan lingkungan yang berkelanjutan),” ucapan Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf RI, Frans Teguh, kaya Webinar yang digelar Kemenparekraf, Selasa sore (25/8/2020).

Selain Frans Teguh, Webinar dengan tema “Lebih Jauh Kampanye Indonesia Care dan Panduan Protokol Kesehatan untuk Restoran”, yang diikuti 80-an peserta berpangkal media leretan online maupun cetak berpangkal berbagairupa peruntungan di Indonesia, tak terkecuali radarlombok.co.id itu, juga menghadirkan dua narasumber lain, yakni Sekjen PHRI, Maulana Yusran dan Direktur F&B Cinema XXI, Doddy Suhartono, dengan pemandu (Host), Mo Sidik, Artis Komika prosais Indonesia.

Menurut Frans Teguh, CHSE untuk andil pariwisata dapat diartikan bak suatu keadaan yang preiantbertugas berpangkal hajat atau patogen, layanan wajib menerapkan protokol kesehatan bak menggunakan masker, menggembala jarak, membawa handsanitiser, dan menyemangati penggunaan teknologi bak alat pembayaran digital. Kemudian preiantbertugas berpangkal risiko penularan virus corona, dan juga upaya terpuji sisi untuk menciptakan ekosistem yang berkepanjangan.

“Keberadaan sertifikat CHSE ini sangat penting untuk dimiliki oleh para pelaku usaha wisata, maupun pengelola objek-objek wisata. Sehingga dengan beroperasinya kembali usaha-usaha pariwisata di Indonesia, bukan malah menjadi klaster baru penyebaran virus corona,” ulas Frans Teguh seraya menyampaikan, pokok protokol kesehatan melalui CHSE ini telah diterbitkan Kemenparekraf RI, dan telah disebarkan ke daerah-daerah di Indonesia melalui maktab pariwisata terpisah peruntungan.

“Kita tidak tau sampai kapan pandemi ini akan terjadi. Sehingga mau tidak mau, untuk kelanjutan kehidupan masyarakat, termasuk didalamnya usaha sektor pariwisata, kita harus bangkit kembali, hidup berdampingan dengan virus ini. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, atau CHSE ini,” ujar Frans Teguh.

Sementara Sekjen PHRI, Maulana Yusran, kaya pemaparannya berpendar soal kondisi naif mutakhir, atau saat di NTB, nurut aliran mutakhir, yang tinggal muskil diterapkan kepada seluruh masyarakat.

“Tentu ini menjadi kesulitan tersendiri bagi kami para pelaku usaha perhotelan dan restaurant. Apalagi ketika hotel atau restaurant banyak tamu atau pengunjung, yang belum tentu mereka mau menerapkan protokol kesehatan,” paparnya.

Untuk itu, pihaknya berazam selain para pelaku andil inayat pariwisata harus tegas menerapkan protokol kesehatan, dengan dibuktikan telah memiliki sertifikat CHSE. Maka pihak pemerintah, pusat maupun peruntungan, dengan dibantu asosiasi-asosiasi keparwisataan, grup mengerti melancong, dan lainnya, agar terus bercerita mensosialisasikan kepada masyarakat, agar beriman protokol kesehatan Covid-19 ini. “Dan kami (PHRI) siap membantu mensosialisasikan,” tegas Yusran. (gt)

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *