Wisata ke Purwakarta, Bisa Dapat Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM Wisata edukasi di Kabupaten Purwakarta semakin bineka bergabung hadirnya Bale Panyawangan Diorama Purwakarta dan Bale Panyawangan Nusantara.

Bale Panyawangan Diorama Purwakarta diresmikan pada 2015 dan Bale Panyawangan Diorama Nusantara 2017 bersedekah besarnya kunjungan wisatawan ke Purwakarta setiap tahunnya.

“Dari awal berdiri hingga sekarang kedua diorama itu sudah menyumbang sekitar 400 ribu lebih wisatawan. Paling banyak anak sekolah dari luar kota,” ungkap Kepala UPTD Diorma Kearsifan Kabupaten Purwakarta Edi Rasidi, Kamis (27/8/2020).

Namun, setelah berderai virus corona, keramaian di dua wisata edukasi itu mendadak sepi.

Edi mengeja kapan ini belum menerima tamu untuk awam selain kunjungan dari dinas-dinas. “Itu juga jumlahnya dibatasi,” tutur dia.

Dia mengomong, kedua diorama ini didirikan untuk memberikan pengenalan gebung secara melacak.

Tidak hanya dibutuhkan kapan ini melebar, melainkan njenis media gebung statis yang dikemas berprofesi wisata edukasi secara digitalisasi agar mudah dipahami dan menarik untuk dikunjungi.

“Kan andaikan introspeksi di sekolah itu suka berlebihan, maka dibuatlah diorama itu njenis wisata edukasi introspeksi dan tidak membosankan berkat ada susunan digitalisasi,” ujar Edi.

Khusus untuk di Bale Panyawangan Nusantara wisatawan akan disuguhkan dengan gambaran munculnya peradaban manusia di Indonesia pada zaman Paleolithikum, Mesolithikum, Neolithikum, Megalithikum dan juga menghadirkan teknologi multimedia yang menyajikan proses kesultanan terbentuknya Kepulauan Nusantara.

Kemudian bertemu ada juga yang menggambarkan keanekaragaman budaya, etika istiadat, ikon cacah, kesenian, gedung, penaka hias, pakaian etika, makanan khas sampai kepada kekayaan kesultanan dan lainnya dari setiap provinsi yang ada di Indonesia.

“Sebelum dihadirkan di sini kami terlebih dahulu berkeliling ke berbagai provinsi yang ada di Indonesia, untuk mencari tahu dan meminta izin untuk memasukan ke dalam diorama ini. Lalu, ada juga barang-barang atau informasi dari sebagian budayawan atau sejarawan,” tutur Edi.

Source Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *