Bali Sepi seperti Era 1970-an, Bagaimana Wisata di Bali Saat Itu?

KOMPAS.com – Wabah pandemi telah berangkat hampir enam bulan dan menanggapi jurusan pariwisata salah satunya destinasi berpiknik Bali.

Adanya era adaptasi kebiasaan perdana (AKB) mengajak bagian pariwisata untuk melek bersuara mudik.

Bali pun telah membuka mudik pariwisatanya untuk wisatawan lokal dan wisatawan nusantara (wisnus) sejak 31 Juli 2020. Namun, kondisi pariwisata Bali makin bersisa terlihat sepi.

Laporan wisatawan yang bersurai bersumber ke sana bertutur, kantin dan hotel bersisa ada yang cabut. Begitu juga dengan benua berpiknik dan hiburan malam.

Baca juga: Kisah Traveler ke Bali, Tak Diminta Isi Aplikasi LOVEBALI dan Kaget Bali yang Sepi

Menanggapi kondisi ini, Ketua Asita Bali I Ketut Ardana bertutur, kondisi Bali jika ini seperti era 1970-an.

 

Sawah Indah di Ubud (Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)BIRO KOMUNIKASI PUBLIK KEMENPAREKRAF Sawah Indah di Ubud (Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Seperti apa Bali era 1970-an?

Ketut bekerja, pada era tersebut, bagian pariwisata Bali bersisa sepi. Hal ini Bali perdana berlarut-larut memulai pariwisatanya di era itu.

“Tahun ’70-an, hotel belum banyak seperti sekarang. Fasilitas pariwisata juga belum seperti sekarang. Biro Perjalanan Wisata (BPW) waktu itu ada sekitar 20 perusahaan, transportasi masih banyak yang non-AC,” kenangnya.

Baca juga: Cerita Wisatawan ke Bali, Menginap di Villa 9 Hari Cuma Bayar Rp 6,5 Juta

Bahkan, ia memiliki kenangan pada era tersebut misalnya mengantar wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia dan beberapa negeri Eropa berpiknik ke Bali.

Kata dia, wisatawan apabila itu ia ajak memintas ke Bali berpunca Jawa menggunakan transportasi darat, yaitu bus non-AC.

“Saya ke Jawa itu overland bawa rombongan dari Australia pakai bus non-AC,” terangnya.

Saat itu, ia mengajak serta para turis ke beberapa benua berpiknik yang reguler, seperti Kintamani, Besakih, Sangeh, Tanah Lot, Museum Bali, Museum Lukisan Ubud, dan lainnya.

Source Link

6 Tempat Wisata untuk Nostalgia Bali Sepi Seperti Tempo Dulu

KOMPAS.com – Pariwisata Bali belum seramai ragam sebelum pandemin Covid-19. Kondisi Bali yang sepi tersebut diungkapkan sejumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang habis melancong ke Bali di era pandemi, khususnya waktu Bali dibuka 31 Juli 2020.

Kondisi Bali yang sepi ini juga lantaran wisatawan mancanegara (wisman) yang belum bisa berawal. Seperti diketahui, pulau Dewata ini merupakan salah satu destinasi favorit wisman di Indonesia.

Kondisi Bali yang sepi andaikata ini, seakan-akan menasihati kondisi pariwisata Bali di era 1970-an.

Baca juga: Bali Sepi seperti Era 1970-an, Bagaimana Wisata di Bali Saat Itu?

Menurut Ketua Asita Bali, Ketut Ardana, pada andaikata itu, pariwisata Bali terakhir berangkat menggeliat dengan ditandai datangnya wisman asal Australia dan beberapa bumi Eropa lainnya.

“(Saat itu) sepi, (karena) pariwisata baru mulai menggeliat tahun itu,” pikiran Ketut andaikata dihubungi Kompas.com, Senin (31/8/2020).

Baca juga: Kisah Traveler ke Bali, Tak Diminta Isi Aplikasi LOVEBALI dan Kaget Bali yang Sepi

Ia pun sempat merasakan membawa legiun wisman asal Australia melalui legiun darat pada era tersebut.

Ia membawa legiun wisman ke beberapa buana berpiknik ragam Kintamani, Besakih, Sangeh, Tanah Lot, Museum Bali, dan Museum Lukisan Ubud.

Tertarik menjajal nostalgia berpiknik di Bali ragam era 1970-an, mendampingi Kompas.com rangkum buana wisatanya.

Jangan lupa untuk memakai kostum pakaian ala 70-an agar liburan nostalgiamu semakin terasa.

Pemandangan Gunung Batur di Kintamani, Bali. Ilustrasi Shutterstock Pemandangan Gunung Batur di Kintamani, Bali.

Bali tak melulu menawarkan keindahan pantainya. Wisatawan yang melancong ke Bali, sejak era 1970-an, habis tak asing mendengar nama kelompok Kintamani.

Lokasi ini terletak di dataran pol Bali yang tentunya, menawarkan keindahan daratan pegunungan disertai udara klise.

Kintamani berstatus di ketinggian sekitar 1.500 mdpl dan bertahap sekitar 2 jam perjalanan berpunca Kota Denpasar.

Baca juga: Menguak Pesona Kintamani, 4 Pilihan Wisata Seputar Danau Batur

Kamu bisa merasakan pariwisata Bali di era 1970-an yang bersisa sepi dengan mengunjungi Kintamani andaikata ke Penelokan.

Tempat ini menawarkan keindahan daratan dan suasana sederhana Bali. Udara klise dan daya tarik berwatak pemandangan gunung Batur serta danaunya, menjabat perpaduan istimewa yang tak bisa kamu lupakan.

Wisatawan Australia dan beberapa bumi Eropa lainnya di era 1970-an, menurut Ketut, memilih buana yang sederhana untuk melancong, salah satunya Kintamani.

Source Link

Cerita Wisatawan ke Bali, Menginap di Villa 9 Hari Cuma Bayar Rp 6,5 Juta

KOMPAS.com – Bali berhenti purbakala dikenal penaka destinasi pilihan wisatawan, putus wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Namun, kondisi pandemi mengubah segalanya penggal pariwisata Bali.

Bali yang ratarata luas wisatawan, kini terlihat sepi seakan-akan tak berengku. Bali yang ratarata luas wisman pun kini lebih luas oleh wisnus.

Sepinya kehidupan pariwisata di Bali memperbaiki hotel-hotel di Bali menawarkan sebagai promo menarik agar keluarga berpesiar putar.

Harga sewa petak hotel-hotel di Bali para era adaptasi kebiasaan hangat (AKB) ini dinilai wisatawan jauh lebih murah.

Baca juga: Ini 4 Syarat Wisatawan Domestik Masuk ke Bali

Salah satu wisatawan asal Jakarta bersimbol Yenni menceritakan bagaimanapun dirinya bersapar di bungalo Bali selama 9 hari dan hanya membayar total Rp 6,5 juta.

“Hotel ini benar-benar murah banget, saya dapat vila semua dengan private pool satu kamar. Sembilan hari cuma bayar Rp 6,5 juta,” bicara dia manakala dihubungi Kompas.com, Rabu (26/8/2020)

Ia melanjutkan bahwa di Nusa Dua, ada bungalo dua petak yang harganya, termasuk private pool  hanyalah Rp 2 juta .

Vila di Hotel Bali Niksoma, Legian Bali.MADE AGUS WARDANA Vila di Hotel Bali Niksoma, Legian Bali.

Dirinya yang pada manakala itu bersambang ke Bali sejak Sabtu-Senin (15-24 Agustus 2020) beriringan tiga keluarga temannya pun hanya membayar Rp 500.000 per keluarga untuk petak seharga Rp 2 juta.

Hal yang sama juga Yenni temui manakala bersapar di lingkaran Uluwatu. Kamar bungalo yang ratarata bisa mencapai harga Rp 9-12 juta per harinya, kini bisa didapatkan hanya dengan membayar Rp 2,25 juta.

“Kalau ditanya 9 hari hotel, saya di villa semuanya dengan satu kamar private pool. Saya cuma bayar Rp 6,5 juta,” ujar dia.

Baca juga: Industri Hotel di Bali Setuju Tunda Pariwisata untuk Wisman, Kenapa?

Source Link

Ayo Kunjungi Desa Sidan, Dikembangkan Desa Wisata Bali Kuno

RINGTIMES BALIDesa Sidan, Kecamatan Gianyar, Bali usai menyandang predikat desa wisata sejak hampir 10 tahun lalu, dimana pada bilamana desa wisata mutakhir manatahu dikembangkan.

Namun perkembangannya hanya beberapa bilamana, mengingat parade Desa Sidan hanya merupakan parade transit, sehingga hanya lebih berlebihan dilewati berleleran oleh wisatawan yang ingin ke Kintamani.

Agar desa wisata tersebut bercabang, maka Perbekel Desa Sidan berekspansi lebih jauh potensi desa, sehingga tidak hanya menyandang predikat desa wisata berleleran.

Baca Juga: Satu Lagi Destinasi Wisata dari Gianyar, Waterfall Uma Anyar Siap Saingi Air Terjun Tegenungan

Sebelumnya potensi yang dikembangkan hanyalah Stage Sidan dan kerajinan preman metal termasuk kerajinan lain. Sehingga potensi jni kurang memiliki daya tarik.

“Akhirnya saya berikrar lain, berekspansi desa wisata yang belum dikembangkan oleh desa lain,” jelas Perbekel Sidan, Wayan Sukra Suyasa, Kamis 27 Agustus 2020.


Desa berdarmawisata yang dikembangkan adalah Desa Wisata Bali Kuno, yang mana beberapa obyek yang ada di desanya merupakan peninggalan saga.

Salah satu obyek yang dijadikan maskot adalah Puri Sidan. Puri ini hanya sebagian kecil mengalami perubahan, selebihnya berlebihan utuh ukiran kuno khas Gianyar.

Baca Juga: Jangan Sampai Ketinggalan, Bulan Ini Bali Zoo Ada Diskon Tiket Masuk, Lho!

Obyek berdarmawisata lainnya adalah tulisan kuno di Bukit Camplung, yang letaknya dibelakang Pura Desa Sidan.

Source Link

Ini 4 Syarat Wisatawan Domestik Masuk ke Bali

KOMPAS.com – Sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali membuka rujuk pariwisatanya untuk wisatawan nusantara (wisnus) atau domestik, Jumat (31/7/2020), Bandara I Gusti Ngurah Rai mengalami peningkatan mumbung kedatangan.

Jika berharap untuk berpakansi ke Bali, pemerintah setempat berlakukan sejumlah syarat pecah asal mula wisnus yang akan bersambang.

Baca juga: Wisata Bali, Alas Kedaton Gratiskan Tiket Masuk untuk Turis Domestik

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 15243 Tahun 2020 tentang Persyaratan wisnus bersambang ke Bali, turut 4 syarat wisatawan domestik bernenek-moyang ke Bali, Selasa (25/8/2020):

1. Menunjukkan hasil uji swab atau rapid test

Sebelum bersambang ke Bali, wisatawan harus memiliki hasil uji swab PCR atau rapid test non-reaktif. Hasil ditunjukkan kepada petugas di pelabuhan atau pangkalan Bali.

Hasil uji Covid-19 harus memiliki waktu aktif paling baheula 14 hari sejak dikeluarkan. Jika tidak bisa menghalakan hasil uji swab PCR atau rapid test, wisatawan wajib turut tes sesampainya di Bali.

Jika hasil pada uji rapid reaktif, maka wisatawan wajib turut uji swab PCR di Bali. Mereka juga wajib turut karantina di tanah yang telah disediakan Pemprov Bali sambil menunggu hasil pensiun.

Baca juga: Harga Tiket Bali Safari Marine Park 2020, Begini Cara Belinya

Satu perihal yang perlu diperhatikan adalah, ongkos uji swab, rapid test, karantina, atau fasilitas kesehatan berperan tanggung jawab wisatawan.

2. Mengisi aplikasi LOVEBALI

Wisatawan wajib mengisi aplikasi LOVEBALI sebelum berjalan ke sana di laman https://lovebali.baliprov.go.id.

Source Link

Bali Masih Fokus Buka Akses Wisata untuk Wisatawan Domestik

Denpasar

Terkait pembukaan balik wisata Bali, Pulau Dewata berlebihan fokus menggaet wisatawan domestik daripada mancanegara. Ini berkat Bali dan Indonesia berlebihan berpupuh menangani virus Corona.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengungkapkan bahwa pihaknya bilamana ini kelesa tersanga-sanga membuka akses pelesir potong wisatawan mancanegara. Gubernur Bali I Wayan Koster bermutu sebuah pernyataan bermoncong perlu kesiapan matang sebelum mengizinkan lebih meruah turis merembes ke Bali.

“Pemerintah Pusat sangat mendukung rencana Pemerintah Provinsi Bali untuk memulihkan kepariwisataan, dengan membuka pintu untuk wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali,” katanya.




“Namun hal itu memerlukan kehati-hatian, tidak boleh terburu-buru, dan memerlukan persiapan yang sangat matang. Hal ini disebabkan posisi Bali sebagai destinasi utama wisata dunia, yang sangat tergantung dan berdampak pada kepercayaan masyarakat dunia terhadap Indonesia, termasuk Bali,” ia melanjutkan.

“Dalam upaya pemulihan pariwisata, Bali tidak boleh mengalami kegagalan karena akan berdampak buruk terhadap citra Indonesia termasuk Bali di mata dunia, yang bisa berakibat kontra produktif terhadap upaya pemulihan pariwisata,”ia merenjenglidah.

Saat ini, Indonesia berlebihan tergolong bermutu marga zona merah penyebaran Corona. Indonesia pun berlebihan berjuang menangani virus Corona kendatipun kelompok pariwisata domestik kiamat menginjak dibuka balik dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Situasi di Indonesia belum kondusif untuk mengizinkan wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia, termasuk berkunjung ke Bali,” ujar Koster.

Apalagi pada bilamana ini, negara-negara bagai Australia, China, Korea, Jepang, dan kontinen Eropa lainnya yang kerap pelesir ke Bali juga belum membuka akses potong warganya berpiknik ke luar tempat. Sehingga Pemprov Bali pun memilih memaksimalkan kunjungan wisatawan domestik untuk menasihati laju industri pariwisata.

“Oleh karena itu, sampai akhir tahun 2020 ini, Pemerintah Provinsi Bali akan mengoptimalkan upaya mendatangkan wisatawan nusantara berkunjung ke Bali dalam rangka memulihkan pariwisata dan perekonomian Bali,”perundingan Koster.

Bali sendiri menginjak membuka akses pelesir untuk wisatawan domestik menginjak 31 Juli 2020. Pada hari kontemporer pembukaan, Bandara I Gusti Ngurah Rai langsung dipadati wisatawan domestik yang berjumlah 2.128 go-longan. Tercatat berbuat peningkatan kunjungan wisatawan domestik antara 15-17 persen sejak Bali dibuka.

[Gambas:Video 20detik]

(pin/ddn)




Source Link

Pastikan kesehatan pekerja wisata di Bali, Kemenaker gelar tes cepat

Badung (ANTARA) – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencipta tes cepat (rapid test) COVID-19 secara gratis kepada para tenaga kerja keahlian pariwisata di lingkungan Provinsi Bali guna memastikan kesehatan mereka.

“Ini salah satu prorgam dari Kementerian Ketenagakerjaan untuk memastikan kondisi kesehatan teman-teman pekerja, terutama sektor pariwisata yang terdampak COVID-19, yang akan memulai adaptasi kebiasaan baru. Saya kira harus dipastikan bahwa mereka sehat, salah satunya dengan cara melakukan rapid test ini,” bicara Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah di area Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya juga ingin juga menyampaikan bahwa Bali rapi padat menggubris adaptasi kebiasaan aaktual (AKB) dengan umum protokol kesehatan yang cukup ketat.

“Mudah-mudahan teman-teman semua sehat dan produktif tapi aman dari COVID-19 dan pertumbuhan ekonomi pulih dan membaik,” katanya.

Kegiatan tes cepat COVID-19 secara gratis tersebut diikuti oleh sekitar 500 umat tenaga kerja yang bertutur di sejumlah industri padat keahlian pariwisata yang diselenggarakan selama dua hari.

Baca juga: Sebanyak 30 objek wisata di Buleleng-Bali tutup sementara

Baca juga: Bali Zoo tutup kunjungan wisata sementara antisipasi COVID-19

Baca juga: Pemandu wisata bahasa Mandarin di Bali terdampak penurunan wisatawan

Dalam kesempatan tersebut, Menaker meninjau langsung pelaksanaan tes cepat COVID-19 serta berapat dengan sejumlah tenaga kerja yang terdampak pandemi COVID-19.

Ia menambahkan, selain dilaksanakan di Bali, program tes cepat COVID-19 paruh tenaga kerja itu juga dilakukan di beberapa noktah lain, terutama di destinasi pariwisata andalan di Indonesia.

“Ini sebenarnya adalah program stimulus untuk mendorong teman-teman ketika mau melakukan kehidupan normal baru sehingga protokol kesehatannya juga harus dilakukan dan tentu saja memastikan mereka sehat,” katanya.

“Ini stimulus, tapi kami akan datang di berbagai provinsi, memang kalau dilihat dari jumlahnya tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhan pekerja yang akan bekerja kembali, tapi ini benar-benar menjadi stimulus,” bicara Menaker Ida Fauziyah.

Sementara itu, salah satu tenaga kerja pariwisata yang bertutur di sebuah hotel di lingkungan Canggu, Badung, Kadek Sukarta bermoncong, menurutnya kegiatan tes cepat COVID-19 tersebut vcenderung berdayaguna, berkah merupakan salah satu upaya padat menyendat penyebaran COVID-19, khususnya di keahlian pariwisata.

“Sangat bagus untuk masyarakat khususnya kami pekerja. Karena ada salah satu persyaratan untuk kembali bekerja adalah menyertakan hasil non-reaktif rapid test dan dengan program rapid test gratis seperti ini sangat membantu kami,” katanya.

Baca juga: Menteri PPN: Pariwisata Bali tidak pulih, seluruh destinasi RI lumpuh

Baca juga: Pemprov Bali tunggu kajian komprehensif soal buka wisata untuk wisman

Baca juga: Menteri PPN katakan Bali aman dikunjungi wisatawan saat pandemi

Baca juga: Gubernur Koster minta Bali diprioritaskan dibuka buat wisman

 

Source Link

Bali Live on Nature Kenalkan Pariwisata di Tengah Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, DENPASAR – Situasi pandemi Covid-19 tak membantut para seniman Bali untuk bekerja. MCast Pregina Showbiz Bali mempersembahkan sebuah garapan pertunjukan musik yang diberi nama Bali Live on Nature

Persembahan yang berbasiskan metode penggarapan tayangan Live Tapping ini diputar untuk dapat disaksikan oleh seluruh pemirsa. Persembahan seni yang disimpan di platform youtube ini, merupakan sebuah alternatif kemasan pertunjukan yang dibuat di sejumlah daerah destinasi pariwisata di Bali yang berbasiskan keindahan serta sektor yang alami dan heritage.

Bali Live on Nature ini telah menayangkan satu volume di channel Youtube Pregina Art and Showbiz Bali. Program Bali Live On Nature ini didukung oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparkraf RI), serupa upaya untuk bertapak semangat dengan spirit kebersamaan untuk mempromosikan pariwisata Bali. Baik untuk tujuan domestik maupun mancanegara, dengan branding terbarunya yaitu Thoughtfull Indonesia.

Bali Live On Nature ini rencananya akan digelar di beberapa Kawasan pariwisata di Bali. Tentunya dengan pinjaman banter pihak dengan spirit kebersamaan dan bertapak mengaplikasikan protokol kesehatan physical distancing .

“Tayangan ini akan berdurasi 60 menit yang akan berisi komposisi persembahan garapan musik oleh kelompok seni/band/duo trio dari Kawasan Live On Nature, serta sisipan talkshow mempromosikan destinasi Kawasan wisata, serta persiapan penerapan protokol kesehatan, saat menerima wisatawan mancanegara dalam berkunjung saat kondisi global telah dibuka,”  perundingan Agung Bagus Mantra, founder Bali Live In Nature, Rabu (12/8/2020). 

Sebagai info, Bali Live on Nature Episode 1 bertitel Pemuteran Bay Buleleng Northwest Bali. Episode ahijau yang proses produksi Live Tapping Multitrack & Multicamera pada 2 Agustus 2020 ini dipersembahkan berasal Desa Pemuteran Buleleng Bali Barat.

Desa pesisir ini sejak tahun 90-an menerapkan konsep pariwisata berbasis sektor dan berbasiskan masyarakat, yang telah memenangkan bermacam ragam peruntungan medali pariwisata dan Lingkungan tingkat lingkungan mewakili Indonesia. 

Penghargaan ini meliputi UNDP Equator Prize, UNWTO, WTTC, PATA GOLD AWARD, dan yang paling segar di tahun 2020 ini yang seharusnya diserahkan pada ITB Berlin 2020.

Pemuteran terpilih menyelap montok 3 jamak International Green Destination Award (Nature Award) berbantahan dengan ratusan destinasi pariwisata di seluruh lingkungan. Pemuteran memiliki perjalanan yang bangir montok meniti proses transformasi pariwisata berbasiskan sektor dan masyarakat.

Ratusan kerangka terumbu karang dengan metode biorock juga telah bersemi dan berganda di nomor ini melantik daerah ini berputar pulih dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat serta sektor itu sendiri.

Adapun artis/seniman yang akan tampil montok penggal ahijau yang akan di ambil di Kawasan Bukit Ser dan Bukit Kursi Pemuteran ini yakni Bali Blues Brothers, merupakan Band duta promosi  Bali serupa band founder Bali Blues Fest yang telah menggalang Bali Blues Festival sejak 2015, montok ajang festival international.

Band ini juga serupa badal beberapa band yang ada di Bali yang direform menjabat sebuah armada yaitu Bali Blues Brothers. 

Sejak 3 tahun lalu, kerap tampil di festival international ragam Byron Bay Blues Fest, International Bali Blues Fest, serta tour eropa ragam Belanda, Hannover, Berlin, Frankfurt, dan lainnya. Band ini membawa misi budaya melalui musik, dan mempromosikan beragam event/festival yang ada di Bali.

Dengan genre Blues dan World Music yang bertaut dengan Gus Teja seorang komposer musik tradisi di Bali yang telah mendunia dengan album world musiknya. Bali Blues Brothers terdiri berasal: Agung Bagus Mantra (Drummer), Krisna Dharmawan (Guitar), Sandi Lazuardi (Saxophone), Bobi Dinar (Vokalist), dan Gde Kurniawan (Bassist).  

Kemudian ada juga Agung Ocha adalah seorang biduanita yang ukuran dikenal di Bali dengan tembangnya yang bertitel Taksu. Dia berpadu dengan Dewa Budjana di leretan nyanyian dharma, kerap mengerjakan tour budaya di Kawasan India Gangga montok memperkenalkan budaya Bali secara spiritual untuk dikunjungi oleh wisatawan India. 

Selanjutnya, Gusagung Gautama adalah pendatang setelahitu di industri musik di Bali, yang setelahitu berlarut-larut memenangkan ajang pencarian talen The Voice Indonesia 2019 serupa runner up. Pria kelahiran Sanur ini berlebihan semester 2 di gerai kuliah Universitas Udayana Denpasar Bali.

Bali Live on Nature ini diharapkan terus dapat bergerak di beragam Kawasan yang cantik dan alami. Dengan kekuatan heritagenya di Bali dan beragam artis seniman di Bali, diharapkan akan berhasil sebuah formasi recovery kebangkitan semangat berkreasi dan beradab montok andaikan pandemi ini.  Sekaligus mempersiapkan raga untuk persaingan global berakibat pandemi Covid-19 rapi. “Tayangan ini akan berdurasi 60 menit yang akan berisi komposisi persembahan garapan musik oleh kelompok seni/band/duo trio dari Kawasan Live On Nature, serta sisipan talkshow mempromosikan destinasi Kawasan wisata, serta persiapan penerapan protokol kesehatan, saat menerima wisatawan mancanegara dalam berkunjung saat kondisi global telah dibuka,”

Source Link

  Alamnya Eksotik, Tibubiu Dikembangkan Jadi Desa Wisata

TABANAN, BALI EXPRESS – Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, akan dikembangkan berprofesi desa berpelesir dengan segala potensi tanah yang eksotik, laksana kelompok pantai, persawahan, hingga muara bengawan.

Anggota DPRD Tabanan asal Desa Tibubiu, I Ketut Arsana Yasa, bercakap, selama ini Desa Tibubiu dikenal dengan Pantai Pasut yang ada di Banjar Pasut, Desa Tibubiu. Namun, sejatinya Desa Tibubiu juga memiliki kelompok persawahan Subak Sungsang yang tak bertekuk lutut indahnya.

Menurutnya kelompok Subak Sungsang ini secara berdansa temurun dan hingga seumpama ini merupakan lokasi yang tertata untuk jogging, maupun berperahu. “Tapi itu belum digarap secara maksimal, dan saya yakin jika itu digarap masyarakat atau wisatawan yang ingin berolahraga ringan, bisa menikmati suasana yang luar biasa,” paparnya, Minggu (9/8).

Ditambahkannya, waktu berfungsi subak yang selama ini dimanfaatkan laksana jogging track tersebut panjangnya sekitar 4 sampai 6 kilometer membawadiri pantai. Dan, sejauh ini berfungsi subak tersebut berkesudahan bertimbun yang menggunakan untuk satuan berperahu maupun jogging, terlebih sebelum pandemi Covid-19. “Digunakan dari Belumbang sampai ke Pantai Pasut, banyak pengunjung lokal yang sudah tahu, tapi ada juga travel dan vila yang mempromosikan rute ini kepada wisatawan. Sekarang tinggal finishnya saja agar disambut dengan kuliner. Misalnya ada yang menjual es kuud di Pantai Pasut, sehingga perekonomian warga juga meningkat,”jelasnya.

Politisi yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan itu, menyebutkan, tak hanya pantai, Desa Tibubiu juga memiliki muara Sungai Yeh Ho sepanjang 1,5 kilometer. Dengan kondisi airnya pada musim kemarau laksana seumpama ini akan terlihat penaka danau. Dan, setiap akhir pekan muara bengawan ini berprofesi salah satu tanah favorit porsi para pemancing. “Lebih dari 200 orang yang memancing di sana, entah dapat ikan atau tidak, tapi viewnya itu yang perlu dikembangkan,” melantur pria yang akrab disapa Sadam tersebut.

Oleh berkah itu, pihaknya telah mengajukan usulan penataan ke Dinas PUPRPKP Tabanan yang nantinya akan terus dikawal ke Balai Penanganan Abrasi Sungai. Pihaknya mengusulkan penyenderan di sepanjang sempadan bengawan, sehingga lulus tanah layak untuk masyarakat dan wisatawan. Apalagi di muara Sungai Yeh Ho tersebut berbetukebetulankebetulan untuk berpelesir air. “Sepanjang jembatan yang menghubungkan Tibubiu Kelod dan Desa Beraban sekitar 1,5 kilometer sampai ke Pantai Pasut dengan lebar 150 meter bisa dijadikan wahana air, sehingga perlu digarap secara serius, agar kedua desa, baik Desa Tibubiu dan Desa Beraban bisa menjadi Desa Wisata,” imbuhnya. 

Sejatinya, celotehan dia, perencanaan Desa Wisata tersebut telah dibahas sejak tahun lalu bekerjasama dengan Universitas Warmadewa. Selain pembuatan site plan perencanaan dilakukan step by step dan bekerja sama dengan masyarakat.

Untuk seumpama ini, pengunjung yang berusul ke Pantai Pasut tidak dikenakan upah untuk lebih mempromosikan berpelesir yang ada. Di era new kering ini, Pantai Pasut yang sempat ditutup untuk formal berkesudahan bertolak dibuka per tanggal 1 Agustua 2020, namun dengan meninggalkanbekas²jejaknlurus menerapkan protokol kesehatan Covid-19. “Kita buka akses ke pantai, tapi dengan pengawasan ketat, ada tempat cuci tangan dan pengunjung yang tidak menggunakan masker kita minta untuk pulang,” tandasnya.

Source Link

Pejeng Kangin terapkan tur desa wisata virtual bagi turis asing

Gianyar (ANTARA) – Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Gianyar, Bali berangkat menerapkan tur desa wisata secara virtual bagi turis asing maupun domestik dengan sasaran, situasi di pedesaan tersebut.

“Pekan depan kita ada uji coba virtual tur dari agen yang membawa tamu asing asal Jepang. Kita menjelaskan objek lewat zoom meeting dan tamu nanti berinteraksi secara virtual,” rasioncak pembicaraan Kepala Dusun Banjar Dinas Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Gianyar, Made Astawa apabila ditemui di Gianyar, Minggu.

Baca juga: Desa wisata Penglipuran Bali disemprot disinfektan

Ia berperi bahwa tur wisata secara virtual ini dilakukan atas persetujuan para agen tamu asing. Sebelum diterapkan ke kliennya,sampai-sampai dulu akan diuji coba pada para agen.

Objek yang akan digambarkan bermakna tur wisata virtual tersebut, yaitu aktivitas pedesaan, persawahan, aktivitas petani, acara adab dan produksi tenun khas Desa Pejeng Kangin.

“Pertama kali diterapkan, jadi akan uji coba dulu ke staf agennya sebelum langsung diterapkan kepada klien atau tamu asing. Estimasi waktunya kira-kira 1,5 jam,” rasioncak pembicaraan Astawa.

Sebelum semisal pandemi COVID-19, Desa Pejeng Kangin membuka tur wisata pedesaan bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Yang ditonjolkan selama tur, yaitu pengalaman segar yang dialami langsung oleh tamu.

Astawa bertutur tur yang suguhkan itu menasihati kearifan lokal, mengarahkan aktivitas petani, bertutur filosofi pecah kantor Bali dan membarengi merasakan langsung kegiatan adab Bali di Desa Pejeng Kangin.

Baca juga: Desa Penglipuran Bali dinilai layak jadi model wisata edukasi

Wisatawan yang berpunca berdaya kategori asing, yang menyukai latar belakang budaya Bali, penaka wisatawan Jepang, Italia, Perancis dan tidak berhubungan kemungkinan tamu asal Rusia, India juga ada.

“Kalau tamu China tidak terlalu banyak yang berwisata ke sini. Biasanya para tamu asing ini kebanyakan couple travel atau family travel, makanya privat tour paling dicari,” papar Astawa.

Ia berperi memasuki semisal adaptasi kebiasaan segar, pihaknya berangkat mendirikan perencanaan tur pariwisata dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Masih banyak wisatawan asing yang berada di daerah Ubud, Bali, terkadang jenuh tinggal di villa, sehingga membutuhkan suasana baru, makanya kita tawarkan tur ini nantinya,” ucapnya.

Baca juga: Bali jadi destinasi wisata terbaik dunia pilihan wisatawan

Baca juga: Gubernur Koster minta Bali diprioritaskan dibuka buat wisman

Selain itu, pada perencanaan tur wisata pedesaan juga menyangkut-nyangkutkan masyarakat Desa Pejeng Kangin yang terkena PHK atau dirumahkan, sekaligus membantu memberikan kesempatan berbicara.

Source Link