Liburan ke Padang, Ini 10 Tempat Wisata yang Bisa Dikunjungi

KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) secara resmi telah membuka pariwisata di seluruh kabupaten atau kota sejak Jumat (17/7/2020), termasuk Kota Padang.

Apabila kamu tertarik untuk dolan ke sana montok pada waktu dekat, bersama daftar 10 dunia berpiknik di Kota Padang yang asri dikunjungi yang telah Kompas.com rangkum, Kamis (27/8/2020):

1. Pantai Air Manis

Salah satu kisah paling natural di Indonesia adalah Malin Kundang yang dikutuk bekerja semen oleh ibunya berkah durhaka.

Baca juga: Asyik, Seluruh Destinasi Wisata di Sumbar Sudah Dibuka Kembali

Apabila ingin menenok semen Malin Kundang, kamu bisa bertandang-berlanglang ke Pantai Air Manis di Kecamatan Padang Selatan. Di sana, ada juga beberapa semen lain yang dikatakan seolah-olah barang-barang yang dibawa Maling Kundang.

Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera BaratKOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat

Selain semen tersebut, daya tarik pantai ini adalah gelombang airnya yang rendah sehingga kamu bisa berenang di tubir pantai sambil menikmati pemandangan Gunung Padang.

Usai berenang, kamu bisa menyebelah ke pulau Pisang Kecil atau Pisang Besar sambil menikmati hamparan anginribut laut.

2. Pantai Pasumpahan

Pantai Pasumpahan bertindakberkelas di Pulau Pasumpahan, tepatnya di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Untuk terbang ke sana, kamu bisa menyewa speed boat semenjak Teluk Bungus.

Setibanya di sana, kamu akan langsung disambut dengan hamparan semen cermat yang dikeliingi oleh perbukitan yang dipenuhi pepohonan rindang.

Pulau Pasumpahan di Sumatera BaratBARRY KUSUMA Pulau Pasumpahan di Sumatera Barat

Source Link

Penyu Sisik Terlilit Sampah di Perairan Kota Padang, Setelah Dibersihkan Lalu Dilepasliarkan

Laporan Wartawan TerasPadang.com, Rezi Azwar

TRIBUN-VIDEO.COM – Satu Penyu langka jenis sisik ditemukan terperangkap tali kemudian putar dilepasliarkan tewas pantai Ulak Karang, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Senin (20/7/2020) lalu.

Sebelumnya, Penyu tersebut ditemukan oleh komunitas reptil di kategori pantai Ulak Karang, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Senin (20/7/2020).

Pengelola Koonservasi Penyu, Pati Hariyose memerintah tertangkapnya penyu jenis sisik tersebut secara tidak sengaja.

“Saat itu dia sedang mencari ikan hias, dan saat pasang surut lalu ditemukan seekor Penyu yang terlilit tali dalam keadaan lemah,” tutur Pati Hariyose, Rabu (22/7/2020).

Pihaknya menyerahkan Penyu tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

Selanjutnya, penyu tersebut dilihat kondisinya dengan menitipkannya di Konservasi Penyu yang dinamakan Jambak Sea Turtle.

“Secara umum dalam keadaan sehat, usia sekitar 4-5 tahun, dan biasanya suka berada di pulau-pulau,” sebutnya.

Penyu Sisik, tutur dia, umumnya suksesantgagal pada usia 25-30 tahun, sehingga penyu tersebut diduga terbiasa mengejar bersantap di terumbu karang di kategori tersebut.

Ia beragan masyarakat tidak membuang sampah ke kali, kali akan membawa sampah tersebut ke laut.

“Akibatnya, penyu-penyu atau hewan yang ada di laut akan terganggu akinay sampah tersebut. Kami harapkan adanya kepedulian terkait sampah,” sebutnya.

Saat dilepasliarkan, juga dihadiri oleh Kepala Balai BKSDA Sumbar, Erly Sukrismanto bergandengan petugas BKSDA Sumbar lainnya.

“Hari ini (Senin lalu) kami mulai-sejak BKSDA berujar sama dengan konservasi penyu di Pasir Jambak untuk melepasliarkan satu ekor penyu sisik putar ke laut,” sebut Erli Sukrismanto.

Kata dia, sebelumnya penyu tersebut terjerat sampah di laut, sempat dibersihkan dan dilakukan pengecekan kesehatan.

“Setelah itu dilepaskan kembali agar dapat hidup sesuai di alamnya. Penyu init termasuk satwa liar yang dilindungi karena sudah langka,” ujarnya.

Kata dia, habitat penyu berkeputusan bertimbun terganggu, dunia sederhana penyu suksesantgagal berkeputusan dijadikan dunia melancong.

Selain itu, telurnya juga diburu oleh masyarakay sehingga populasinya berkisar.

“Sekarang juga ada masyarakat yang senang memeliharanya, tapi saat ini sudah dilindungi,” ujarnya.

Ia menyebutkan pas UU Nomor 5 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Siapapun tidak boleh memelihara satwa liar yang dilindungi, baik masyarakat biasa maupun pejabat silahkan dilaporkan ke BKSDA Sumbar,” katanya.

Source Link