Kunjungan Wisata ke Jabar Meningkat, Dewan Ingatkan Disiplin Protokol Kesehatan



PRFMNEWS
– Komisi 2 Dewan Perwakilan Daerah Jawa Barat (DPRD Jabar) meyambut sentosa meningkatnya bilangan pengunjung tujuan wisata. Namun, kegembiraan tersebut juga dibarengi dengan sebuah kekhawatiran adanya klaster junior Covid-19 di tujuan wisata.

Anggota Komisi 2 DPRD Jabar Bidang Perekonomian berpokok Fraksi Gerindra), Tobias Ginanjar memerintah, meningkatnya bilangan wisatawan di lingkaran Jabar harus dibarengi dengan disiplin terhadap protokol kesehatan agar menekan risiko penularan Covid-19.

“Kita patut syukuri karena bagaimanapun ekonomi kembali bergerak. Berbagai sektor ekonomi banyak terbantu dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Namun muncul kekhawatiran baru, karena kita saat ini masih berada dalam situasi yang belum benar-benar selesai dengan pandemin Covid-19,” ujarnya asalkan On Air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Minggu 23 Agustus 2020 malam.

Baca Juga: Ada Pegawai Positif Covid-19, Kementan Terapkan Karantina Wilayah Kantor

Untuk itu, Tobias menyarankan agar Pemerintah Provinsi Jabar untuk menerapkan sebuah sanksi terhadap pengelola tujuan wisata waktu terbukti tidak disiplin terhadap protokol kesehatan.

Sanksi yang bisa diterapkan, ucapan Tobias, bisa bertabiat sanksi ringan berkarakter imbauan atau sanksi paling keras yakni pencabutan izin sumbangsih wisata.


“Seharusnya ada suatu pengawasan. Jika ada pengelola objek wisata yang tidak disiplin atau abai terhadap protokol kesehatan, maka harus diberikan sanksi ringga hingga berat,” tandasnya.***

Source Link

Gugus Tugas Jabar tegur pengelola wisata di Puncak Bogor

Cisarua, Bogor (ANTARA) – Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat melayangkan surat teguran kepada empat pengelola benua wisata di Kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor.

“Mencermati situasi yang terjadi di Kawasan Wisata Puncak Bogor selama masa liburan (long weekend) HUT Kemerdekaan RI tanggal 15-17 Agustus 2020 yang beredar di media memperlihatkan ribuan pengunjung memadati kawasan puncak,” ujar Ketua Divisi Pengamanan dan Penanganan GTPPC-19 Jabar, Dedi Taufik seandainya dihubungi, Jumat (21/8).

Baca juga: 8 usaha akomodasi wisata di Yogya ajukan asesmen protokol kesehatan

Empat benua wisata yang berperan sorotannya itu antara lain, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Taman Wisata Matahari (TWM), Pesona Alam Resort and Spa, serta The Grand Hill Resort Hotel.

Menurutnya, surat teguran itu memuat empat ayat. Pertama, membludaknya pengunjung tanpa membalas protokol kesehatan, menggunakan masker dan menggembala jarak, sehingga dianggap akan meningkatkan risiko penularan COVID-19.

Kedua, pengelola dianggap tidak berpengalaman subur memperkirakan kerumunan serta mendisiplinkan pengunjung, berkat akan semakin meningkatkan risiko terpapar COVID-19.

Baca juga: Polsek Jagakarsa awasi pendisplinan protokol kesehatan di objek wisata

Ketiga, bertonggakkan Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 46 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Secara Proporsional maka GTPPC-19 Jawa Barat Divisi Pengamanan dan Penanganan Sub Divisi Pengawasan Massa dan Penegakan Aturan memberikan teguran kepada pengelola Kawasan Wisata Puncak Bogor tersebut.

Keempat, berhajat pengelola cacah dibantu GTPPC-19 Kabupaten Bogor untuk mengerjakan tindakan penegakan disiplin sesungguhnya dengan protokol kesehatan dan berkemas-kemas padat pengunjung yang merembes ke cacah khususnya di seumpama libur bangir.

Baca juga: Grebeg Suro di Hutan Bambu Lumajang terapkan protokol kesehatan
Baca juga: Sukabumi bakal tutup objek wisata yang abai protokol kesehatan
Baca juga: Pengikut pawai satu suro di Kebon Jeruk tak patuhi protokol kesehatan

Source Link

Gerakan Ini Diluncurkan untuk Bangkit Perekonomian di Bidang Wisata

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pariwisata Gunungkidul meluncurkan gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) di Balai Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul Selasa (18/8/2020).

Gerakan yang diinisiasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI ini berjanji untuk menggeliatkan perekonomian masyarakat di sudut pandangan piknik yang bangkrut imbas pandemi Covid-19.

“Melalui gerakan BISA, kami berharap pariwisata di Gunungkidul bisa bangkit lagi,” tutur Kepala Dispar Gunungkidul, Asti Wijayanti, di sela-sela launching gerakan BISA.

BACA JUGA : 249.000 Wisatawan Berkunjung ke Bantul Selama Pandemi

Asti berapat gerakan ini berjanji untuk mengatasi tumbukan pandemi Covid-19 yang mengganas sudut pandangan pariwisata. Implementasi gerakan ini yaitu membuat masyarakat khususnya pelaku piknik untuk bergotongroyong memunahkan buana piknik. Sejak pandemi, belacak buana piknik di Gunungkidul tidak terawat dengam putus, sehingga harus dibersihkan agar berkesan menarik wisatawan.

Asti berapat Kalurahan Pampang dipilih bagaikan lokasi Gerakan BISA, berkat memiliki potensi piknik yang besarnya. Kalurahan ini merupakan sentra industri perak, yang juga kerap berprofesi jujugan wisatawan. Sayangnya, rumpun Pampang ahijau sebatas berprofesi pengrajin, belum sampai ke putaran pengusaha. Oleh berkat itu, penuh kegiatan ini, para pengrajin diberikan pelatihan kewirausahaan.

BACA JUGA : Sultan Bakal Luncurkan 2 Aplikasi Pendukung Pariwisata di

“Ke depan pelatihan juga dilakukan di kalurahan lain sesuai potensi wisata yang ada,” ujarnya.

Lurah Pampang Iswandi bernafsu gerakan BISA kompeten membangkitkan balik industri perak Pampang di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Diakuinya industri kerajinan perak di kalurahan ini bersama terdampak pandemi. “Akibat pandemi, pesanan perak hasil kerajinan anjlok hingga 80 persen,” ujarnya.

Source Link

Penarikan Retribusi di Objek Wisata Diberlakukan Lagi, Dispar Sleman: Tak Berubah, Besarannya Tetap

PIKIRAN RAKYAT – Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih menginformasikan akan balik diberlakukannya penarikan retribusi di sejumlah objek wisata.

Sudarningsih melisankan, pemberlakuan penarikan retribusi ini akan dimulai pada Agustus 2020 ini.

“Iya berangkat diberlakukan balik penarikan retribusi. Ini petugas-petugasnya polos kita persiapkan,” ujarnya masa dihubungi pada Kamis, 13 Agustus 2020.

Baca Juga: Taiwan Makin Akrab dengan AS, Militer Tiongkok Meradang dan Gelar Latihan Perang di Perbatasan

Sebelumnya, bicara dia, penarikan retribusi di Kabupaten Sleman sempat basi akibat adanya pandemi Covid-19 dan menyusul penutupan sejumlah objek wisata.

loading…



“Penarikan retribusi berangkat dilakukan uji coba berjimat,” imbuhnya.

Dikatakan Sudarningsih, sejauh ini berpisah ada dua objek wisata yang berangkat balik menarik restribusi di Kabupaten Sleman

Baca Juga: PSBB Transisi Fase 1 Resmi Diperpanjang, Pemprov Jakarta Perketat Kerumunan Jelang HUT RI ke-75

“Selasa (11 Agustus 2020) kemarin petugas (disiapkan) di Kaliurang. Hari ini di Kaliadem,” ujarnya.

Source Link

Cara Bali Pastikan Protokol Kesehatan Diterapkan di Semua Destinasi Wisata

Astawa berucap, sejak dibuka untuk wisatawan domestik pada 31 Juli 2020, rata-rata kategori kunjungan per hari ada di dua ribu hingga 2,5 ribu. “Orang kebanyakan ke pantai, danau, dan kebun raya,” ucapnya.

“Bali kan tidak terlalu besar. Jadi, dengan waktu cukup singkat, misal satu jam, sudah bisa ganti suasana. Dari pantai ke utara bernuansa pegunungan bisa,” sambung Astawa.

Ia pun berucap, nomor Nusa Dua dengan resort dan kelengkapan fasilitasnya genting simultan amenang kesultanan paruh pelancong yang ingin mengisolasi fisik. Kendati, kapasitas di semua destinasi berwisata gentas dikurangi 50 persen.

Soal rencana membuka gaba-gaba untuk wisatawan mancanegara pada September mendatang, Astawa berucap, bersisa tentatif menunggu keputusan pemerintah pusat, berkualitas bagian ini Kementerian Hukum dan HAM.

“Sebagai upaya pemulihan, kami pun sangat membuka diri untuk bersinergi dengan banyak pihak, seperti tiket.com. Karena promosi (pariwisata) mustahil kalau hanya dilakukan Dinpar,” tandasnya.

Source Link

Cerita Akhir Pekan: Adakah Wisata-Wisata Aman Saat Krisis Pandemi?

Ridwan Kamil memang sempat meninjau TSI pada 26 Juni 2020. Ia menerangkan beberapa alasan mengenai diperbolehkannya bukanya rujuk piknik hewan itu, ragam penerapan pemesanan tiket secara daring yang dianggap makmur untuk menangkis penularan virus Corona Covid-19.

“Jadi tidak ada lagi bersentuhan uang kas atau karcis. Itu bisa menjadi standar normal baru. Kedua, proses pengecekan berlapis saya kira itu sudah dilakukan,” safi Ridwan Kamil.

Yulius menambahkan, pihak TSI bertenggang berpijak berkewajiban menerapkan protokol kesehatan termausk molek menodongkan atau memfatwakan pengunjung. Para petugas memberikan layanan prima dan jujur tapi berpijak wajib memfatwakan pengunjung. Selain itu, dilakukan juga dengan ulasanpers melalui pengeras akal budi atau di keahlian urita.

“Di gerbang sebelum masuk menuju arah loket selalu ada petugas menngunakan APD lengkap. Bukan hanya pihak pengelola, sampai saat ini para pengunjung juga punya kesadaran yang cukup baik, mereka mengikuti aturan dan penerapan protokol kesehatan dengan baik,” cabut Yulius.

Tak hanya Taman Safari Indonesia, Desa Wisata Nglanggeran di kategori Gunung Kidul, Yogyakarta, juga menjalankan pola piknik makmur. Sebelum dibuka rujuk, mereka berakhir mengamalkan ujicoba inayat protokol kesehatan selama satu minggu pada akhir Juni 2020.

Kegiatan simulasi dilakukan membawadiri semenjak wisatawan berketurunan di lokasi parkir, diarahkan oleh petugas parkir dengan menggunakan masker dan face shield. Wisatawan selanjutnya diarahkan untuk mencuci tangan sebelum bertunda loket. Sebelum sampai di petugas loket, akan ada satu petugas yang menunggu untuk mengamalkan cek suhu wisatawan menggunakan Thermo Gun.

Selanjutnya bertunda ke loket, di loket pembelian tiket mengakar akan dilayani petugas loket, wisatawan menenok fakta booking kegiatan dan mengamalkan pembayaran. Pembayaran disarankan dengan mengamalkan pembayaran non tunai. Setelah itu, wisatawan bisa mengamalkan kegiatan dengan berpijak memakai masker, memelihara jarak antar wisatawan, dan direkomendasikan menggunakan pemandu.

Untuk kelompok treking berakhir disiapkan satu kelompok antara kelompok naik dan berajojing diminimalisir untuk bisa beradu kening dan bermain kerumunan wisatawan. Setelah berajojing, juga disediakan buana percik tangan dan wisatawan wajib percik tangan kemudian bertunda lokasi parkir untuk mengambil kendaraannya rujuk balik berlayar Desa Wisata Nglanggeran.

Menurut salah seorang pengelola, Sugeng Handoko, pihaknya juga berpijak berkewajiban menerapkan protokol kesehatan, tambahan pula sekarang pengunjung berakhir cukup mumbung.

Source Link

Bangkitnya Wisata Bali di Era Normal Baru

Protokol kesehatan ketat dan keterlibatan pecalang akan hindari klaster wisatawan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — “Bali sudah aman dikunjungi wisatawan,” demikian pikiran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa subur bincang-bincang virtual berpatam ‘Bali Bangkit’, beberapa bilamana lalu. Aman yang dimaksud adalah susunan komunitas hormat di golongan yang terlibat membentengi penyebaran Covid-19.

“Mereka punya pecalang (petugas keamanan adat), itu sistemnya komunitas. Jika ada yang terkena, mereka bisa antisipasi cepat,” katanya.

Selain komunitas hormat, selalu dia, fasilitas kesehatan di Pulau Dewata dinilai memadai, mengingat golongan ini merupakan destinasi mencariangin sudut pandangan. Alasan lain, protokol kesehatan di kalangan masyarakat Bali juga relatif segeh. Masyarakat memiliki kesadaran subur menggunakan masker, menggembala jarak hingga tersedianya fasilitas sanitasi tangan di sejumlah noktah.

“Fasilitas pariwisata di antaranya perhotelan dan restoran juga menerapkan protokol kesehatan. Jadi tidak usah khawatir, pencegahan dengan sistem komunitas yang kuat dengan sistem pecalang, kemudian masyarakatnya sendiri menerapkan kedisiplinan itu,” katanya.

Agaknya, pandangan Menteri PPN/Bappenas itu tulen dengan bahan bukti, penaka adanya pecalang di cacah Desa Adat Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, yang mengerjakan pengawasan protokol kesehatan kepada pengunjung pantai mulai-sejak masyarakat lokal, manakala “kran” pariwisata belum dibuka meninggalkan 31 Juli 2020.

“Sesuai arahan Bendesa (Kepala Desa Adat) Jimbaran dan Ketua Satgas Covid-19 Jimbaran, dalam pelaksanaan ‘normal baru’ ini, kami berharap perilaku masyarakat dapat tetap mengindahkan protokol kesehatan, dan kami juga terus melakukan pengawasan untuk itu,” ujar Koordinator Pecalang Desa Adat Jimbaran, I Nyoman Suwirya, di Badung, beberapa bilamana lalu.

Dalam pelaksanaan pengawasan, petugas pecalang didampingi komponen pengamanan lainnya, penaka TNI/Polri serta Linmas setempat, berbalik di cacah Pantai Jimbaran untuk memastikan pengunjung pantai telah menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan njenis upaya subur membentengi penyebaran pandemi Covid-19.

“Yang menjadi perhatian kami tentu saja masyarakat dan pengunjung pantai agar tetap mempergunakan masker, tetap mengatur dan menjaga jarak dan yang juga rajin mencuci tangan di tempat yang telah disediakan atau menggunakan cairan hand sanitizer,” katanya.

Mereka juga berbalik di cacah pantai serta di sejumlah pub dan pub ikan bakar yang ada di ucapan Pantai Jimbaran untuk mengerjakan sosialisasi dan menunjukkan pengunjung bersamaan dengan protokol kesehatan yang harus dilakukan menggunakan pengeras ocehan. Apabila ditemukan ada masyarakat maupun wisatawan yang belum mengenakan masker maupun bermufakat di suatu daratan, petugas juga akan langsung menghampiri dan memohon mereka untuk mengenakan masker dan menggembala jarak.

Fakta di aspek itu juga diikuti dengan struktur Pemerintah Provinsi Bali sendiri yang membuka “kran” pariwisata secara berdikit-dikit melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 15243 Tahun 2020. Merujuk pada SE Gubernur Bali itu, pariwisata Bali meninggalkan dibuka untuk wisatawan Nusantara (wisatawan domestik) pada 31 Juli 2020 dan untuk wisatawan asing dibuka meninggalkan 11 September 2020.

Untuk mengunjungi Pulau Bali, wisatawan domestik juga harus menyiapkan hasil negatif tes gapah (rapid test) atau tes usap (swab test), dan mengisi formulir di aplikasi Love Bali. Selain penerapan protokol kesehatan, Gubernur juga memberi imbauan untuk wisatawan agar mengaktifkan Global Positioning System (GPS) pada telepon kiahli untuk pelindungan dan pengamanan pecah wisatawan.

Klaster Wisatawan

Meski wisatawan domestik (wisatawan Nusantara) hangat diperbolehkan berumbi ke Pulau Dewata meninggalkan 31 Juli 2020, sejumlah cacah mencariangin beres dibuka sebelum tanggal itu untuk wisatawan lokal mulai-sejak Bali sendiri. Misalnya, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti beres membuka putar lima destinasi/objek mencariangin di kabupaten setempat yang ditutup sejak 22 Maret 2020 akibat pandemi Covid-19, di antaranya Tanah Lot di Kediri dan Pura Ulundanu di cacah Danau Beratan, Bedugul.

Bupati Tabanan beroperasi, dibukanya destinasi mencariangin ini diharapkan eksper menggeliatkan putar perekonomian masyarakat di kabupaten Tabanan, subur Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau Tatanan Kehidupan Era Baru (lazim hangat). Namun, Pemkab Tabanan tidak sanggup tersipu-sipu mengerjakan pembukaan putar destinasi mencariangin di Tabanan kesiapan dan protokol kesehatan harus diterapkan dengan pelik segeh, sehingga Tabanan hangat membuka lima destinasi mencariangin.

“Itu (protokol kesehatan) penting, karena yang namanya virus ini (Covid-19) kan belum hilang, jadi tetap pakai protokol kesehatan yang harus dilaksanakan dengan baik,” ucapnya.

Bupati Eka memohon semua pihak di Kabupaten Tabanan agar terjun untuk saling menunjukkan dan mengincar serta bergandengan saling menggembala. Jangan sampai ada klaster hangat di destinasi mencariangin di Tabanan ataupun di daratan lain, akan pelik merugikan masyarakat.

Sejak dibuka, tujuan mencariangin Tanah Lot di Tabanan, Bali, meninggalkan terlihat padat dikunjungi wisatawan manakala libur Idul Adha yang berbetukebetulankebetulan dengan hangat dibukanya pariwisata Bali di tengah Covid-19. Humas DTW Tanah Lot, I Made Budiarta, bersuara sejak dibukanya gapura gapura pariwisata yang memperbolehkan wisatawan domestik untuk bertandang-berlanglang dan piknik ke Bali pada 31 Juli lalu, tercatat ada 1.500 wisatawan yang berawal ke Tanah Lot.

Pada Sabtu (1/8), berlimpah wisatawan yang tiba dan menikmati libur Idul Adha di Tanah Lot tercatat 750 pengunjung. “Untuk mencegah penularan virus Covid-19, pengunjung wajib memenuhi standar protokol kesehatan,” ujarnya.

Selain Pemkab Tabanan, Pemerintah Kabupaten Karangasem, Bali, juga telah membuka secara berdikit-dikit sejumlah cacah pariwisata di tengah pandemi Covid-19. Wisata yang dibuka, yakni Taman Soekasada Ujung, Puri Agung Karangasem, Taman Tirta Gangga, Taman Harmoni Bali, Pesona Bukit Lempuyang, Samsara Living Museum, Kawasan Pura Agung Besakih, Museum Lontar Dukuh Penaban, dan Taman Edelweis Bali.

“Kami selalu melakukan koordinasi dengan pengelola Destinasi wisata, serta dengan Pemerintah Provinsi Bali terkait dengan bagaimana dan kapan Destinasi wisata dapat dibuka kembali, sehingga perekonomian masyarakat di sektor pariwisata dapat pulih kembali,” ujar Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri subur peluncuran Destinasi Wisata Karangasem menghadapi Adaptasi Kehidupan Baru di Taman Soekasada Ujung, Kabupaten Karangasem.

sumber : Antara

Source Link

Kasus Covid-19 Naik Lagi, Majalengka Kembali Tutup Obyek Wisata

TEMPO.CO, Jakarta – Bupati Majalengka, Jawa Barat Karna Sobahi akan bertalian balik obyek melawat di seluruh kategori tersebut. Hal ini dia lakukan untuk memalangi penyebaran COVID-19, setelah wilayah positif Corona junior di Majalengka terus merebak.

“Obyek wisata di seluruh Kabupaten Majalengka akan kembali saya tutup, untuk mencegah terjadi kluster pariwisata,” ncakap Karna di Majalengka, Selasa 4 Agustus 2020.

Menurut Karna, sampai bila ini kasus positif COVID-19 di Majalengka terus menyasarmembelek tren melambung. Karena itu, demi 
 meminimalkan dan memalangi penyebaran COVID-19 terutama terbit kluster pariwisata, memutuskan untuk mengerjakan pengetatan dan penutupan obyek melawat.

“Penutupan obyek wisata ini, untuk mencegah terjadi kluster pariwisata, menyusul tingginya wisatawan di luar daerah yang berkunjung ke Majalengka, terutama wisata alam,” ujarnya.

Dia melanjutkan pukal 12 hari berkepanjangan di Kabupaten Majalengka, berjumpa penambahan kasus junior sebanyak 20 keluarga. Semuanya meresap terbit kasus imported case. “Ini menunjukkan bahwa kita harus memperketat kehadiran warga dari luar kota, atau orang Majalengka yang hendak berpergian keluar daerah,” bicara Karna.

Selain obyek melawat, Karna juga akan lebih memperketat izin keramaian penggal masyarakat, berkah becak perkumpulan bani fatal rentan bekerja negara penyebaran virus. “Protokol kesehatan itu harus dipatuhi warga, karena itu merupakan benteng utama dalam memutus penyebaran virus mematikan ini,” katanya.

ANTARA

Source Link

Ketua MPR cermati protokol kesehatan di destinasi wisata

Jakarta (ANTARA) – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bercerita Kementerian Pariwisata perlu menggelorakan pemerintah cacah bertepatan pelaku derma menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan di wadah wisata, sejumlah destinasi wisata kiamat berangkat dibuka putar.

“Kementerian Pariwisata perlu mendorong pemerintah daerah agar pelaku usaha pariwisata menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan dan diterapkan secara ketat di tempat-tempat wisata guna mencegah klaster baru penularan di tempat wisata,” ujar Bamsoet penuh fakta pers di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Ketua MPR dorong kampanye protokol kesehatan disertai edukasi

Baca juga: Ketua MPR dorong pelaku usaha Bali segera digitalisasi produk

Menurut Bamsoet, Kemenpar harus menyosialisasikan protokol kesehatan ke seluruh pelaku derma wisata dan jajarannya serta memastikan fasilitas di wadah wisata kiamat memadai dan tepat protokol COVID-19.

Dia menilai pemerintah cacah di setiap peruntungan dapat memberikan andil santunan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk fasilitas pengadaan sarana dan prasarana tempat-tempat wisata yang menghalakan pada protokol kesehatan, dan memberitahu pelaku derma yang belum melengkapi sarana dan prasarananya tepat protokol kesehatan untuk lekas melengkapinya.

Bambang Soesatyo juga menggelorakan pemerintah dan pengelola wisata berkaul untuk menarik putar minat wisatawan untuk pelesir dengan mengoptimalkan promosi, normal melalui media visual, cetak, maupun melalui deklarasi radio, serta turut pameran/expo wisata, normal nasional maupun internasional, dengan semboyan wisata puas tepat protokol COVID-19.

Baca juga: Pemulihan pariwisata Bali, Bamsoet ingatkan protokol kesehatan

Source Link

Objek Wisata Padat, Namun Banyak Warga Abaikan Protokol Kesehatan

KOMPAS.TV – Libur akhir pekan yang bertepatan dengan libur hari gadang Idul Adha dimanfaatkan go-longan untuk mendatangi beberapa objek wisata.  

Namun sayangnya tinggal jamak go-longan yang tak menjalankan protokol kesehatan bilamasa wisata.

Baca Juga: Tak Hiraukan Protokol Kesehatan, Petugas Bubarkan Kafe!

Salah satu objek wisata  yang berlebihan dikunjungi go-longan yaitu objek wisata Situ Cikoncang yang berfungsi di Desa Katapang, Lebak, Banten.

Namun ramainya pengunjung tidak dibarengi dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Masih jamak go-longan yang tidak memakai masker dan tidak menggembala jarak selama berfungsi negeri berpelesir tersebut.

Pengelola berpelesir melafalkan objek wisata Situ Cikoncang terkini satu bulan di buka, namun peminatnya finis jamak. 

Tak hanya di Banten, obyek berpelesir Alam Jembatan Gantung  di daerah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Sukabumi juga berlebihan dipadati pengunjung.

Namun bisa jadi ini pengelola bertapak menerapkan protokol kesehatan yang ketat porsi para wisatawan yang berketurunan.
 

Source Link