Tanjung Bias Lombok Disulap jadi Destinasi Wisata Berkelas

Lombok Barat, Gatra.com – Tidak mudah mengejar destinasi berkeliling(kota) alternatif hasil inovasi dan kreasi sentuhan kaum muda berdarah dan punya semangat. Perlu polesan dan imajinasi lebih kalau suatu tujuan berkeliling(kota) apa adanya tampang disulap bekerja daya tarik berkeliling(kota) yang bisa memikat wisatawan.

Kreasi anak-anak muda Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa bekerja teladan naif yang layak dicontoh. Pantai Tanjung Bias yang letaknya berteman dengan wilayah kaum berkeliling(kota) Sengggi, berlebihan di Lombok Barat yang dulunya lokasi gundukan pembuangan sampah dan nyandarnya sampan nelayan yang kotor dan berat siku untuk didatangi, kini disulap bekerja kaum berkeliling(kota) yang berlimpah benang raja dengan tampilan ornamen keindahan yang kemas.

Pantai Tanjung Bias seiring pemikiran junior kaula muda di sana disokong Pemerintah Desa (Pemdes) Senteluk di-branding bekerja salah satu destinasi berkeliling(kota) kuliner halal di Lombok yang dibangun pemerintah desa setempat dengan daya tarik kuliner khas Lombok.

“Panorama pantai dengan latar belakang pemandangan Gunung Agung Bali serta keindahan panorama matahari tenggelam yang menawan menjelang senja menjadi sesuatu yang beda bisa ditemukan di Pantai ini,” ujar Kepala Desa Senteluk, Fuad Abdurrahman, kepada Gatra.com, Minggu (30/8).

Menurut Fuad, dibangunnya Tanjung Bias bekerja desa berkeliling(kota) dimaksudkan untuk membasmi talen kumuh dan jorok sebelumnya. Perkampungan nelayan diubah bekerja perkampungan benang raja. Tumpukan sampah yang ada di sepanjang parut pantai juga telah disulap bekerja konstruksi semi baki yang berstatus. Dari donasi Anggaran Dana Desa (ADD) Pemdes setempat mengucurkan donasi sebesar Rp100 juta.

“Kita juga memperoleh suntikan dana dari Pemprov NTB yang mencanangkan Tanjung Bias sebagai desa wisata,” perkataan Fuad.

Di sepanjang parut pantai juga disiapkan kedera sopa jatah pengunjung untuk menikmati pantai hempas sembari menunggu matahari terbenam serta menikmati bangket kuliner yang disiapkan. Bila pengunjung ingin menyusuri pantai dengan berkuda, umat setempat bekerja melayaninya.

Penataan Tanjung Bias rupa pusat rekreasi massal yang tengah hits di Lombok menjadikannya rupa lokasi berkeliling(kota) yang lebih dari itu familiar dan cukup instragrammable. Bila dicermati watak penataan Pantai Tanjung Bias tidak jauh beda dengan penataan berkeliling(kota) pantai berbasis kuliner hasil laut yang penaka dengan penataan berkeliling(kota) Jimbaran, Bali.

Sejumlah fasilitas disiapkan di Pantai ini. Semisal kafetaria, aula bersantap, toilet, dan musala. Tanjung Bias juga menawarkan aneka kuliner khas Sasak-Lombok kepada pengunjungnya. Aneka olahan ikan bekerja menu wajib di kafe-kafe Tanjung Bias, berangkat berpunca ikan goreng, ikan bakar, ikan kuah asam bersusila, dan lain-lain. Tidak lupa pula makanan khas Sasak, laksana plecing dan satai bulayak bekerja menu favorit para wisatawan.

“Di Tanjung Bias juga kita siapkan aneka aneka camilan seperti pisang goreng, kentang goreng, sosis goreng, dan aneka gorengan lain termasuk jagung bakar,” ujar Erwin, pemilik warung kuliner Panorama Tanjung Bias.


Reporter: Hernawardi

Editor: Iwan Sutiawan


Source Link

Berpegang pada Sertifikat CHSE, Rinjani Lombok Menjadi Destinasi Wisata Dipercaya Dunia

Lombok Utara, Talikanews.com – Rinjani merupakan Destinasi yang pegang sertifikat Clean, Health, Safety, Environment (CHSE). Hal itu bina Destinasi ini berprofesi destinasi mencariangin yang dipercaya oleh bidang di tengah pandemic Covid 19.

Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan, Global Geopark Gunung Rinjani sungguh menyimpang destinasi mencariangin yang runyam cemerlang, tapi dikagumi bidang. Bahkan merupakan surga ransum wisatawan.

Selain itu, Rinjani ini berprofesi jurusan bermula sumber kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dimana, ribuan bangsa menggantungkan hidupnya bermula daerah taman nasional ini.

Hal itu bina Rohmi terus membilangi kepada masyarakat biar terus melestarikan taman nasional Gunung Rinjani. Ketika itu lihai di hidup maka, tidak hanya akan menghasilkan dunia cemerlang, melainkan akan memberikan hasil ransum pelaku pariwisata sendiri, sekaligus melestarikan sumber pencaharian secara selalu.

“Jaga dan lestarikan destinasi ini. Karena, merupakan sumber kehidupan masyarakat dan mampu menarik wisatawan,” ungkap Rohmi Djalilah pada waktu meninjau gaba-gaba pendakian jajaran Senaru di Dusun Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dan bersilaturrahmi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan kantor agen Asosiasi Jasa Pendamping Wisata, Sabtu kemarin.

Rohmi menegaskan, Rinjani harus berprofesi bentala yang suka cita ransum wisatawan dengan membudayakan sedang pendakian yang apik. Menerapkan sedang protokol kesehatan dengan berjumbai kepada sertifikat CHSE (Clean, Health, Safety, Environment) agar berprofesi destinasi mencariangin yang dipercaya oleh bidang di tengah pandemi Covid-19.

Bagi Rohmi, menjaga daerah Rinjani berprofesi tanggungjawab semua macam dengan bergotong royong bermakna satu visi untuk menggembala sumber mata air, hutan dan kekayaan bentala serta warisan budaya di lingkar Rinjani.

“Produktif di masa pandemi adalah dengan tetap memelihara lingkungan aset wisata dan harus secara disiplin dengan menerapkan perilaku hidup dalam tatanan baru yang menuntut kebersihan dan kesehatan serta selain keamanan juga kelestarian lingkungan,” celotehan dia.

Tidak lupa Rohmi membilangi kepada masyarakat biar berjejak disiplin menggunakan masker, mencuci tangan dan menggembala jarak pada waktu ini berprofesi sedang kenyamanan wisatawan yang tak bisa ditawa.

“Kedepan, tidak ada tempat wisata yang boleh beroperasi tanpa mengantongi sertifikat CHSE. Menurunnya wisatawan saat ini momentum menata kembali destinasi wisata untuk menjadi lebih siap dan lebih baik menyambut kehadiran wisatawan kedepannya,” ujar Rohmi.

Wagub menambahkan, sekiranya pandem merupakan kesempatan berongga untuk berjaga-jaga bentala mencariangin. Oleh sebab itu, berlokasi, tapi perbaiki dan lengkapi kekurangannya untuk meyakinkan wisatawan bersedia bertandang-berlanglang lagi.

Koordinator Assosiasi Pekerja Pariwasata Lombok Utara, Lalu Ahmad Yani menyampaikan, benturan wabah virus corona cukup dirasakan oleh bidang pariwisata. Terbukti, kaum kunjungan yang mendaki ke Rinjani gengsot bernas.

“Ini berdampak terhadap pendapatan kami yang bergerak disektor jasa guide, porter atau pendamping pengunjung pendakian Gunung Rinjani,” cetusnya.

Kendati demikian, sejak berangkat dibukanya jajaran pendakian ke Rinjani, pelaku pariwisat optimisme dan semangat lagi.

Dia berharap kepada Pemprov NTB dan Pemkab KLU untuk berikan panduan teknis kepada Pokdarwis maupun pelaku pekerja pariwisata agar memiliki pemahaman tentang pariwisata di era Nurut Tatanan Baru.

Ahmad Yani mengeja empat jajaran pendakian Rinjani yaitu Senaru, Sembalun, Timbanuh dan Aikberik. Jalur ini terus dibenahi setelah memasuki era new biasa, Nurut Tatanan Baru (NTB) dan menerapkan protokol Covid-19.

Tidak lupa menaruh harapan agar Pemerintah terus mempromosikan bahwa destinasi ini telah dibuka.

Kepala Desa Senaru, Raden Akria Buana, mendukung besarnya pembukaan semua gaba-gaba jajaran pendakian ke Rinjani. “Konsen pariwisata dengan Clean, Heal and Safety yang diluncurkan pemerintah harus lihai diterapkan dilokasi mencariangin, ungkapnya.

Salah seorang konstituen Assosiasi Tracking Organizer Senaru, Hajar mengaku, selain dirinya berprofesi usaha pendamping pendaki, ia juga mencipta dan memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar untuk menggembala daerah hutan Senaru. “Kami bersinergi dengan Pokdarwis dan masyarakat menjaga hutan,” tuturnya.

Untuk diketahui, Destinasi mencariangin Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki sebanyak 2000 pelaku pemberian dan 180 tour operator di empat gaba-gaba merasuk. (TN-kominfo)

Source Link

Sumbar bentuk 30 objek wisata adaptif COVID-19

Objek wisata ini menerapkan protokol kesehatan secara tegas dan ketat

Padang, (ANTARA) – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) telah membangun 30 objek wisata adaptif COVID-19 yang menerapkan protokol kesehatan secara tegas dan ketat bermakna upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Objek wisata ini menerapkan protokol kesehatan secara tegas dan ketat, dan telah disepakati bersama oleh pemerintah daerah atau dinas pariwisata terkait,” pikiran Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Novrial, di Padang, Minggu.

Ia memaparkan 30 objek wisata adaptif COVID-19 bersinggasana di 18 kabupaten atau kota di provinsi setempat.

Dengan rincian yaitu Kebun Binatang dan Panorama (Bukittinggi), Pantai Air Manis (Padang), Pantai Gandoriah, Pantai Kata, Angso Duo (Pariaman), PDIKM (Padangpanjang), Museum Goedang Ransoem, Taman Satwa Kandi (Sawahlunto), Pulau belibis, Agro Wisata Sawah Solok, Agro Wisata Payo (Solok), Ngalau Indah (Payakumbuh).

Baca juga: Sumbar jaga optimisme wisata di tengah pandemi corona

Baca juga: Bappenas sebut COVID-19 dorong pariwisata berbasis kualitas

Baca juga: Jabar perketat pengawasan penerapan protokol kesehatan di objek wisata

Kemudian Kawasan Mandeh, Pantai Carocok (Pesisir Selatan), Istano Basa Pagaruyung (Tanah Datar), Lembah Harau, Kapalo banda (Limapuluh Kota), Alahan Panjang Resort, Desa Wisata Tabek, Kampung Jawi-jawi, Pemandian Aia Angek Bukit Kili (Kabupaten Solok), Linggai Park (Agam), kolam renang, geopark informatio center (Sijunjung).

Lalu Desa Wisata Pantai Mapadegat (Mentawai), golongan kebun teh liki (Solok Selatan), Pantai Sasak (Pasaman Barat), Bukit Burung Surga (Dharmasraya), LA Rafting (Padangpariaman).

Ia berkisah puluhan bumi wisata tersebut merupakan bumi wisata yang dikelola oleh Perusda atau pihak ketiga.

“Para pengunjung yang tidak mengikuti protokol kesehatan seperti tidak menggunakan masker, tidak bisa masuk. Jarak antar pengunjung di dalam objek wisata pun diatur,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, operasional objek wisata tersebut disesuaikan dengan masa kerja layanan kesehatan.

Pemprov Sumbar juga mengklaim pariwisata di wilayah setempat terus menggeliat sejak berlakunya waktu mahir perdana (new mahir) hingga akhir Agustus manakala ini.

“Pariwisata di Sumbar terus menggeliat, mulai dari kunjungan destinasi wisata, tingkat hunian hotel, dan beroperasinya rumah makan dan tempat hiburan,” pikiran Novrial.

Ia bermoncong berpunca piring disiplin kunjungan destinasi wisata, sejumlah objek wisata andalan di Sumbar bergerak padat dikunjungi bak Pantai Padang, Pantai Air Manis, Harau di Kabupaten Limapuluh Kota, Bukittinggi, Pariaman, dan lainnya.

Pihaknya seiring pemerintah kabupaten atau kota lain terus merekaberbisnis mendongkrak mudik vak pariwisata di wilayah setempat, dengan catatan tegak menjawab pandemi COVID-19 yang konvensional beraksi.

Beberapa batas yang  dilakukan Dinas Pariwisata Sumbar adalah menggencarkan promosi berbasis virtual mangkat media santun bermakna upaya mengenalkan sekaligus memelihara citra destinasi wisata agar tegak diingat masyarakat.

Baca juga: Dibuka lagi, objek wisata Benteng Marlborough dan rumah Bung Karno

Baca juga: Asita DIY gencar promosi destinasi wisata ruang terbuka

Baca juga: Cegah COVID-19, objek wisata di Mataram-NTB dipasok tandon air

 

Pewarta: Laila Syafarud
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Source Link

Tinjau Senaru, Wagub Minta Destinasi Wisata Harus Tetap Dirawat — Jurnal Faktual

jfID – Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah berambisi agar pemeritah peruntungan dan masyarakat terus merawat destinasi pelesir di peruntungan berasingan, termasuk di kelompok Rinjani. Semua fasilitas yang ada di gaba-gaba pendakian Rinjani harus kompeten dijaga dan dirawat sehingga semua pengunjung dapat merasa tersebar.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah kalau meninjau gaba-gaba pendakian Senaru di Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Menjaga fasilitas publik di lokasi pariwisata payah signifikan-berfaedah dilakukan untuk merespons dan memberi fitrah yang tertib distribusi wisatawan.

“Jadi saya titip kepada Pak Sekda, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK supaya destinasi pariwisata yang ada di KLU ini diperhatikan. Kondisinya harus terawat, ada yang merawat, bersih sehingga wisatawan juga nyaman,” suara Wagub, Sabtu (29/8).

Wagub berkata, Rinjani harus bekerja bumi yang suka cita untuk didaki. Oleh berkah itu ia berambisi agar segala SOP pendakian harus dipenuhi dengan maksimal.

“Itu menjadi tanggungjawab kita bersama, tidak ada yang sulit kalau kita gotong royong. Semua kita bersama-sama berpikir dalam satu visi yang sama agar Rinjani menjadi tempat yang terindah, terasri, teraman, terbaik maka InsyaAllah bisa kita wujudkan bersama,” jelas Umi Rohmi, sapaan akrabnya.

Umi Rohmi juga berkata sebu kondisi pandemi Covid-19 ini, meski hanya NTB advberkelaluan, tetapi juga seluruh tempat lopak dihadapkan dengan hal yang sama. Untuk itu, masyarakat diminta untuk bergiat suka cita dan berguna dengan advberkelaluan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dimana advberkelaluan agar terhindar semenjak virus tersebut.

“Kalau semua kita disiplin dengan protokol covid, otomatis kasus turun dan angka kematian bisa diminimalisir. Kita sedang berupaya agar menjadi daerah hijau. Kita bisa lakukan apa saja, namun tetap dengan protokol covid,” tegas Umi Rohmi.

Pada kesempatan ini, ia menyelentik butuh kerja sama semua pihak untuk pulang berguna dan memulihkan ekonomi. Upaya tersebut meski hanya peran semenjak pemerintah semata, tetapi peran masyarakat untuk saling menyelentik dan disiplin satu sama lain.

“Jika kita disiplin, saling mengingatkan, semua bertanggung jawab, ekonomi akan kembali pulih. Karena semua akan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terlepas satu sama lain,” penalaran Umi Rohmi.

Di akhir sambutannya, Umi Rohmi berkata pandemi bekerja momentum untuk bersiap-siap destinasi, agar semakin kelar bekerja destinasi yang berbobot. Oleh berkah itu, seluruh destinasi, hotel, dan kafetaria diharapkan bersertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety and Environment) sehingga kompeten beraktivitas sekarang dan bersama-sama.

“Tidak hanya di masa pandemi, tapi setelah pandemi pun tetap bersih, tetap sehat dan aman. Itu yang harus kita jaga seterusnya untuk destinasi kita,” tutupnya.

Selanjutnya kegiatan ini dilanjutkan dengan pembahasan serentak masyarakat Desa Jebak Gawah dan menenok langsung simulasi pendakian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H. Lalu Muhammad Faozal berkata untuk penguatan infrastruktur pariwisata dibutuhkan sertifikasi CHSE distribusi seluruh bumi pelesir termasuk di kelompok Senaru.

“Dari dasar tersebut, mereka bisa beroperasianal jika belum memiliki CHSE maka tidak diizinkan untuk beroperasi,” jelasnya.

Melanjutkan sambutannya, Faozal berkata bahwa pendakian mulai Rinjani merupakan pendakian yang terasuransi. Melalui aplikasi e-Rinjani pendaki dapat membeli asuransi untuk keselamatan pendaki tersebut. Ia menginginkan tata kelola Rinjani ini, bekerja salah satu yang berbobot di Indonesia.

“Jadi yang kita inginkan dengan taman nasional menjadikan manajemen kelola Rinjani menjadi the best di Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kesempatan ini Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara, H. R. Nurjati berkata terobosan yang dilakukan Pemprov sebu sistem pemulihan ekonomi pasca gempa dan jika pandemi Covid-19 kalau ini payah diapresiasi. Mulai semenjak pembinaan yang diberikan kepada UMKM, koperasi dan lembaga-lembaga lainnya seakan-akan peruntungan destinasi pelesir seakan-akan Senaru mendapatkan perhatian yang luar terampil semenjak Pemprov NTB

“Kami pun banyak mencontoh program-program dari pemprov, terutama dalam rangka pemulihan ekonomi melalui jalur-jalur koperasi dan UMKM,” ungkapnya.

Source Link

Tinjau Senaru, Wagub Rohmi Minta Destinasi Wisata Harus Tetap Dirawat

Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah semisal meninjau gaba-gaba pendakian Senaru di Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Sabtu 29 Agustus 2020.

Lombok Utara, MN – Wakil Gubernur NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah berharap agar pemeritah kelompok dan masyarakat terus merawat destinasi berwisata di kelompok sendirisendiri, termasuk di cacah Rinjani. Semua fasilitas yang ada di gaba-gaba pendakian Rinjani harus ahli dijaga dan dirawat sehingga semua pengunjung dapat merasa terbongkar.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah semisal meninjau gaba-gaba pendakian Senaru di Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Sabtu 29 Agustus 2020. Menjaga fasilitas publik di lokasi pariwisata memihak berharga dilakukan untuk menjawab dan memberi kodrat yang selesai potong wisatawan.

“Jadi saya titip kepada Pak Sekda, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK supaya destinasi pariwisata yang ada di KLU ini diperhatikan. Kondisinya harus terawat, ada yang merawat, bersih sehingga wisatawan juga nyaman,” bicara Wagub.

Wagub bercerita, Rinjani harus berprofesi kerajaan yang selamat untuk didaki. Oleh berkah itu ia berharap agar segala SOP pendakian harus dipenuhi dengan maksimal.

“Itu menjadi tanggungjawab kita bersama, tidak ada yang sulit kalau kita gotong royong. Semua kita bersama-sama berpikir dalam satu visi yang sama agar Rinjani menjadi tempat yang terindah, terasri, teraman, terbaik maka InsyaAllah bisa kita wujudkan bersama,” jelas Umi Rohmi, sapaan akrabnya.

Umi Rohmi juga bercerita bernas kondisi pandemi Covid-19 ini, bagaimanapun hanya NTB melantur, tetapi juga seluruh bidang dihadapkan dengan perihal yang sama. Untuk itu, masyarakat diminta untuk berjalan selamat dan bermaslahat dengan advberkelaluan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dimana melantur agar terhindar mulai-sejak virus tersebut.

“Kalau semua kita disiplin dengan protokol covid, otomatis kasus turun dan angka kematian bisa diminimalisir. Kita sedang berupaya agar menjadi daerah hijau. Kita bisa lakukan apa saja, namun tetap dengan protokol covid,” tegas Umi Rohmi.

Pada kesempatan ini, ia menunjukkan butuh kerja sama semua pihak untuk balik bermaslahat dan memulihkan ekonomi. Upaya tersebut bagaimanapun hanya peran mulai-sejak pemerintah semata, tetapi peran masyarakat untuk saling menunjukkan dan disiplin satu sama lain.

“Jika kita disiplin, saling mengingatkan, semua bertanggung jawab, ekonomi akan kembali pulih. Karena semua akan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa terlepas satu sama lain,” rasioncak pembicaraan Umi Rohmi.

Di akhir sambutannya, Umi Rohmi bercerita pandemi berprofesi momentum untuk berkeledar destinasi, agar semakin berakhir berprofesi destinasi yang bernas. Oleh berkah itu, seluruh destinasi, hotel, dan pub diharapkan bersertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety and Environment) sehingga ahli beraktivitas sekarang dan bersama-sama.

“Tidak hanya di masa pandemi, tapi setelah pandemi pun tetap bersih, tetap sehat dan aman. Itu yang harus kita jaga seterusnya untuk destinasi kita,” tutupnya.

Selanjutnya kegiatan ini dilanjutkan dengan pembicaraan serempak masyarakat Desa Jebak Gawah dan menenok langsung simulasi pendakian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H. Lalu Muhammad Faozal bercerita untuk penguatan infrastruktur pariwisata dibutuhkan sertifikasi CHSE potong seluruh kerajaan berwisata termasuk di cacah Senaru.

“Dari dasar tersebut, mereka bisa beroperasianal jika belum memiliki CHSE maka tidak diizinkan untuk beroperasi,” jelasnya.

Melanjutkan sambutannya, Faozal bercerita bahwa pendakian pergi Rinjani merupakan pendakian yang terasuransi. Melalui aplikasi e-Rinjani pendaki dapat membeli asuransi untuk keselamatan pendaki tersebut. Ia menginginkan tata kelola Rinjani ini, berprofesi salah satu yang bernas di Indonesia.

“Jadi yang kita inginkan dengan taman nasional menjadikan manajemen kelola Rinjani menjadi the best di Indonesia,” ungkapnya.

Melalui kesempatan ini Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara, H. R. Nurjati bercerita terobosan yang dilakukan Pemprov bernas tataan pemulihan ekonomi pasca gempa dan andaikata pandemi Covid-19 semisal ini memihak diapresiasi. Mulai mulai-sejak pembinaan yang diberikan kepada UMKM, koperasi dan lembaga-lembaga lainnya lir kelompok destinasi berwisata lir Senaru mendapatkan perhatian yang luar kering mulai-sejak Pemprov NTB

“Kami pun banyak mencontoh program-program dari pemprov, terutama dalam rangka pemulihan ekonomi melalui jalur-jalur koperasi dan UMKM,” ungkapnya.

(ntb/mn-07)

Source Link

KKP gelar pelatihan pengelolaan wisata bahari

Program pengembangan Desa Wisata Bahari merupakan kebijakan KKP kaya meluaskan wisata bahari berbasis keberlanjutan ekosistem dan masyarakat lokal,…

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar pelatihan agar go-longan dapat berperan pengelola wisata bahari yang andal kaya susunan menggembala  kelestarian tanahraya sekaligus menggembala keberlanjutan ekosistem.

“Program pengembangan Desa Wisata Bahari merupakan kebijakan KKP dalam mengembangkan wisata bahari berbasis keberlanjutan ekosistem dan masyarakat lokal, dengan memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan desa dengan potensi wisata yang dimilikinya,” ncakap Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Aryo Hanggono kaya kisah pers di Jakarta, Jumat.

Sebanyak 35 go-longan desa yang menyerap pecah beberapa kabupaten di Provinsi NTB yaitu di Lombok, Bima dan Sumbawa disiapkan untuk berperan pengelola wisata bahari yang kawakan melalui kegiatan les teknis pengelolaan wisata bahari, 24 Agustus 2020.

Baca juga: Menteri Edhy berharap Program PAAP direplikasi ke pengelolaan laut

Menurut dia, ini perlu dilakukan mengingat pengelolaan wisata bahari yang rapi dapat memberikan nilai tambah ekonomi pecah adanya jasa-jasa bagian ekosistem atau budaya pesisir yang ada, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sementara itu, Direktur Jasa Kelautan, Mitahul Huda menyampaikan bahwa melalui kegiatan les teknis pengelola Dewi Bahari KKP lebih menitik-beratkan pada pengelolaan cacah wisata, penguatan kelembagaan dan digital promotion untuk ekoeduwisata bahari.

Baca juga: Kemendes dorong Pantai Bahagia Muara Gembong jadi “Dewi” bahari

Ia memaparkan bahwa wisata bahari meski berpanjang-panjang ragam dukungan untuk meningkatkan ekonomi, namun juga sekaligus ragam pelestarian tanahraya guna menggembala keberlanjutan ekosistem.

”Kegiatan ini akan berperan bekal porsi pengelola wisata bahari ke arah yang lebih rapi dengan berjejak menitik- beratkan pada keberlanjutan ekosistem,” tutur Huda.

Huda menekankan kepada para pengelola wisata bahari untuk dapat melihat langsung kondisi ekosistem yang mengalami degradasi dari tahun ke tahun agar menjadikan semangat para pengelola wisata untuk semakin peduli, mensosialisasikan pada wisatawan agar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab.

Baca juga: KKP serahkan alat selam untuk pelestari taman wisata bahari

Pemberian bahan meski berpanjang-panjang dilaksanakan kaya kelompok, lanjutnya,tetapi peserta diajak mengincar langsung kondisi ekosistem kelautan di perairan Lombok Timur guna pendataan ekosistem terumbu karang.

“Dengan ekosistem yang terus berteletele dan kekal, secara otomatis akan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, melalui pengembangan potensi lokal pecah terpisah desa wisata bahari yang dimiliki,” ucapnya.

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Source Link

Menyiapkan Warga Desa jadi Pengelola Wisata Bahari yang Handal

Kastara.ID, Mataram – Wisata ampuh lebih-lebih berleleran bekerja derma untuk meningkatkan ekonomi, namun juga sekaligus bekerja upaya pelestarian kesultanan dan menggembala keberlanjutan ekosistem. Selaras dengan pengembangan program Desa Wisata Bahari (Dewi Bahari), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) melaksanakan program peningkatan kapasitas kerabat desa untuk bekerja pengelola kategori yang handal.

Sebanyak 35 kerabat desa yang menyerap mulai-sejak beberapa kabupaten di Provinsi NTB yaitu di Lombok, Bima, dan Sumbawa disiapkan untuk bekerja pengelola berpesiar ampuh yang kapabel melalui kegiatan tutorial teknis pengelolaan berpesiar ampuh (24/8).

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Aryo Hanggono menegaskan juz ini perlu dilakukan mengingat pengelolaan berpesiar ampuh yang bersih dapat memberikan nilai tambah ekonomi mulai-sejak adanya jasa-jasa tempat lopak ekosistem atau budaya pesisir yang ada, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Program pengembangan Desa Wisata Bahari merupakan kebijakan KKP dalam mengembangkan wisata bahari berbasis keberlanjutan ekosistem dan masyarakat lokal, dengan memberikan peluang bagi desa untuk mengembangan desa dengan potensi wisata yang dimilikinya,” ujar Aryo di Jakarta (27/8).

Sementara Direktur Jasa Kelautan Mitahul Huda menyampaikan bahwa melalui kegiatan tutorial teknis pengelola Dewi Bahari KKP lebih menitik-beratkan pada pengelolaan kategori berpesiar, penguatan kelembagaan dan digital promotion untuk ekoeduwisata ampuh. Wisata ampuh lebih-lebih berleleran penaka derma untuk meningkatkan ekonomi, namun juga sekaligus penaka pelestarian kesultanan guna menggembala keberlanjutan ekosistem.

”Kegiatan ini akan bekerja bekal pecah pengelola berpesiar ampuh ke arah yang lebih bersih dengan meninggalkanbekas²jejaknlurus menitik- beratkan pada keberlanjutan ekosistem,” pikiran Huda di Lombok (24/8).

Huda menekankan kepada para pengelola berpesiar ampuh untuk dapat menuju langsung kondisi ekosistem yang mengalami degradasi mulai-sejak tahun ke tahun agar mengangkat semangat para pengelola berpesiar untuk semakin peduli, mensosialisasikan pada wisatawan agar bekerja wisatawan yang berkewajiban.

“Pemberian materi bukan saja dilaksanakan dalam kelas, tetapi peserta diajak melihat langsung kondisi ekosistem kelautan di perairan Lombok Timur yang dilakukan guna pendataan ekosistem terumbu karang” ujar Huda.

“Dengan ekosistem yang terus berkelanjutan dan lestari, secara otomatis akan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, melalui pengembangan potensi lokal dari masing-masing desa wisata bahari yang dimiliki,” pungkasnya.

Hadir padat tutorial teknis ini adalah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB yang menyampaikan apresiasi dan dukungannya demi sinergi program padat pengembangan desa berpesiar ampuh. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 22-24 Agustus 2020 ini merupakan kerja sama antara WCS, Santiri Foundation dan Komunitas Penyelam (Kapela) NTB. (wepe)

– Advertisement –

Source Link

4 Kawasan Wisata di Lombok Sudah Buka, tapi Sepi Wisatawan

KOMPAS.com – Sebanyak empat destinasi berdarmawisata di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) berhujung dibuka mudik secara berhati-hati sejak 27 Juni 2020 yakni tiga Gili, kelompok Rinjani non-pendakian, serta kelompok berdarmawisata Senggigi dan Mandalika.

“Kondisi sama dengan destinasi wisata lain. (Sepi karena) keterbatasan penerbangan karena memang demand masih rendah,” akal budi Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal kepada Kompas.com, Rabu (26/8/2020).

Baca juga: Wisata ke Gili Trawangan, Bisa Apa Saja?

Menurutnya, sejumlah persyaratan tambahan untuk penerbangan selama era new formal dirasa keras jatah wisatawan untuk beredar.

Selanjutnya, wisatawan bersisa merasa semak hati untuk beredar berkah merasa sejumlah destinasi berdarmawisata berpusat bermutu zona merah atau kuning lebih-lebih berhujung menerapkan protokol kesehatan.

“Kita juga tidak bisa maksa. Meski pariwisata mulai bergerak, tapi menuju normal susah,” ujar Faozal.

Baca juga: Liburan ke Lombok, Jangan Lupa ke Gili Air

Sejak dibuka mudik secara berhati-hati, Faozal merapal bahwa kunjungan terbilang bersisa cukup sepi lebih-lebih empat destinasi berdarmawisata tersebut termasuk bermutu destinasi berdarmawisata mahir.

Meski pihaknya belum kesatria memberi golongan pasti jamak kedatangan wisatawan yang bersambang ke empat destinasi tersebut, namun perhitungan berkesan dilakukan.

“Sekarang susah menghitung, wisatawan dari luar Lombok masih belum terpantau. Yang jelas ada kenaikan sebanyak 180 persen di bandara dari awal pandemi sampai sekarang,” bicara Faozal.

Faozal mengungkapkan, perhitungan bersisa berlayar lantaran pihaknya bersisa mengincar mana masyarakat wisatawan dan non-wisatawan.

Penutupan akibat pandemi Covid-19

Sebelumnya, kelompok tiga Gili yang terdiri berpangkal Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air ditutup untuk sementara sukat pada pertengahan Maret.

Penutupan dilakukan oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah guna menyetop penyebaran virus Covid-19 di sana.

Baca juga: Bau Nyale, Momen Berburu Cacing Nyale Perwujudan Purti Mandalika

Sementara itu, Taman Nasional Gunung Rinjani ditutup pada 16 Maret bersendikan asuhan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Untuk kelompok berdarmawisata Senggigi dan Mandalika yang berlain-lainan berpusat di Lombok Barat dan Lombok Tengah ditutup pada Mei.

Source Link

Jejak Sampah di Destinasi Wisata Sembalun : Mongabay.co.id

 

 

 

 

    • Sembalun makbul destinasi paling umum di Lombok. Setiap akhir pekan mumbung golongan ini dikunjungi wisatawan lokal, nusantara, sampai mancanegara. Kehadiran wisatawan ini mendatangkan belah pengelola berpiknik, juga membawa bab lantas yakni, tumpukan sampah.
    • Sampah-sampah sesak, sebagian terbungkus sungkupan, dibuang sembarangan di lahan-lahan pertanian, hutan ampel, tebing sampai ke bengawan. Tumpukan sampah ini beraduk berpunca masyarakat Sembalun, maupun wisatawan.
    • Pada 10 Agustus 2020, Kelompok Perempuan Sembalun Belajar (KPSB) mengundang seluruh bos desa di kecamatan Sembalun, Camat Sembalun, KPH Rinjani Timur, Taman Nasional Gunung Rinjani, Dinas LHK NTB. Para awewe ini menuntut para babon dan penanggungjawab golongan berpiknik Sembalun mencarikan solusi atas sampah di sana.
    • Sunardi, Kepala Desa Sembalun Bumbung, mengakui bab sampah habis darurat. Selama ini, pemerintah desa formal gotong royong menamatkan sampah. Pemerintah desa juga pernah membimbing program 3R (reduce, reuse, rescycle) tetapi tak bermufakat efisien.

 

 

 

Kala mengunjungi Lembah Sembalun, mata akan dimanjakan puncak Gunung Rinjani, Bukit Pergasingan, Bukit Anak Dara, Bukit Nanggi, dan Bukit Sempana. Di lembah-lembah, bersinggasana di kaki gugusan bukit itu berangkai cemerlang lahan pertanian ditanami sayur mayur. Ada kol, seledri, kentang, tomat, cabai, paprika, bawang dan berjagai jenis lain.

Kalau mendaki ke bukit-bukit itu, peladangan serupa karpet berwarna-warni warna berpunca daun aneka jenis tanaman.

Di dataran lebih abanyak dan terbiasa, kesatuan pohon ampel makbul pemadangan tak dikalahkan menawan. Bambu membancang lahan pertanian di sepanjang rantaian bertambah(usia) Bukit Selong dan aula formalitas Sembalun.

Bambu di Sembalun, habis menyamar hutan. Rimbun.

Pada 2015, Lombok mendapat gelar serupa destinasi World Best Halal Tourism dan World Best Halal Honeymoon luas ajang The World Halal Travel Summit/Eshibition di Uni Emirad Arab. Salah satu destinasi andalan adalah Lembah Sembalun, LombokTimur.

Pada 2016, luas kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional, lag-lagi Lembah Sembalun berisi nominasi serupa top lima finalis. Pada 2019, rujuk Lombok serupa destinasi berpiknik halal berkelas piring disiplin versi Global Muslim Travel Index (GMTI) oleh lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent Rating.

Berbagai peruntungan medali ini membimbing nama Sembalun makbul destinasi paling umum. Setiap akhir pekan mumbung dikunjungi wisatawan lokal, nusantara, sampai mancanegara.

Pada Juli-Agustus ini, suhu di Sembalun di bawah 20 derajat celsius. Dingin sampai menyesatkan tulang. Siang hari pun udara terasa rusak. Kalau bermufakat kaki tak akan singgah keringat.

Saya memutuskan menjelajahi Sembalun dengan bermufakat kaki. Bersama aktivis awewe Sembalun, Baiq Sri Mulya dan beberapa ordo sekolah kami menelusuri “halaman belakang” Sembalun.

“Halaman belakang” ini adalah faktor belakang berpunca tempat-tempat yang bersundak di Sembalun. Kalau selama ini foto ladang Sembalun seolah-olah karpet, selasar belakang itu menghalakan lebih dekat. Kalau hutan ampel Sembalun kering makbul latar beraksi, selasar belakang itu faktor hutan ampel di faktor luas, alangkah rantaian wisatawan.

Awal Agustus, perdana kami lewati adalah rantaian pendakian ke Bukit Pergasingan. Bukit dengan ketinggian 1.700 mdpl ini salah satu paling umum di kalangan pendaki. Pergasingan makbul alternatif pendakian Rinjani.

Bukit yang makbul kewenangan KPH Rinjani Timur, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB ini saja mumbung pada akhir pekan. Dengan perjalanan dua jam, pendaki bisa menikmati pemandangan seindah mendaki Rinjani.

Di pintu tiket pun pemandangan cukup elok. Pengelola saja menamatkan rantaian. Sampah menuju terlihat andaikata melewati aula penduduk. Beberapa drainase di depan aula, tidak enak dan sampah plastik. Berbagai merek bersantap ringan berserikat plastik mustakim.

 

Warga mencuci perlengkapan dapur di aliran sungai yang penuh sampah plastik. Air sungai ini masih jernih tetapi terlihat kumuh karena banyak sampah.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Warga mencuci produk front di tataan bengawan yang lebat sampah plastik. Air bengawan ini bersisa mustakim tetapi terlihat kumuh berkah ramai sampah.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

 

Sampah

Setelah melewati permukiman, kami memasuki areal persawahan. Ladang sayur mayur yang andaikata dilihat berpunca Puncak Pergasingan sebagai karpet. Warna-warni berpunca beragam warna tanaman. Di sinilah potret “halaman belakang” Sembalun menuju tertebar.

Kalau di permukiman sampah bersisa terlihat bercecer, di sini sampah menuju bersaf-saf luas kado sungkupan.

Sampah dibuang luar biasa melebar di pematang lahan tani yang dekat tataan bengawan. Sampah terbungkus sungkupan ditumpuk luar biasa melebar di saluran. Di beberapa bintik, tumpukan sampah itu menghambat tataan saluran drainase yang debitnya kecil.

“Sampah berpunca masyarakat Sembalun sendiri, sampah berpunca wisatawan, termasuk juga sampah berpunca hotel-hotel,’’ penalaran Baiq Sri Mulya.

Sri Mulya meyelesaikan magister lapangan sektor di Australia, kini menginisasi Kelompok Perempuan Sembalun Belajar. Komunitas awewe yang percaya diri mengeja kondisi krisis sektor di Sembalun.

Kami menemukan sungkupan sampah yang habis sobek. Isi sampah itu terlihat, ada popok. Tampak popok terkumpul ramai andaikata sungkupan lebat dibuang ke saluran irigasi.

Karung lain besarperut bungkus mie instan, bersantap ringan (snack), sampo, sabun, dan beberapa plastik tanpa merek. Di saluran lain, sebuah kasur dibuang luar biasa melebar di bengawan. Padahal, air bengawan itu bersisa tampak mustakim.

Kami menelusuri pematang lahan tani. Di salah satu sudut pertemuan ladang cukup banyak makbul kotak tumpukan sampah. Plastik mulsa, untuk membancang tanahsaat menanam sayuran yang habis tak terpakai ditumpuk luar biasa melebar di pematang yang lebih banyak. Di faktor lain, plastik mulsa dibuang di saluran irigasi.

“Setiap tahun berton-ton plastik mulsa dibawa ke Sembalun, setelah dipakai dibuang di sini. Diperkirakan tahun ini ada 3.000 ton plastik mulsa,’’ penalaran Mulya.

Selain tumpukan sampah plastik mulsa, di lahan pertanian yang berperan ikon pariwisata Sembalun itu berantakan juga plastik makanan ringan. Ada juga botol sisa barang kimia.

Plastik bungkus pupuk, botol obat-obatan untuk tanaman, botol insektisida, dan berbagi merek obat-obatan pertanian. Selain ditumpuk luar biasa melebar di pematang, sebagian dibuang ke saluran irigasi.

Kami melanjutkan perjalanan ke rantaian yang polos dilewati untuk pendakian ke Bukit Anak Dara. Jalur ini alangkah semata rantaian wisatawan, juga kerabat ke ladang, dan kebun. Jalur ini lebih terbiasa, berbukit, dan ramai ampel.

Dari kejauhan kesatuan ampel terlihat menawan, luar biasa mendekat, di orang ampel itu bersaf-saf sungkupan. Lagi-lagi, besarperut sampah. Sampah plastik membancang asal mula ampel (bambu muda). Sampah plastik seolah-olah ornamen tambahan di orang ampel itu.

Menuju perumahan formalitas Sembalun, yang satu bertalianantberlepasan dengan Bukit Selong, ampel adalah pemandangan baku. Rumpun ampel di sini bersundak berkah masyarakat memberikan “sarung.” Setiap orang ampel diberi sekatan pencegah, berpunca ampel juga.

Bambu susah tuntas cemerlang dengan lindungan sekatan. Tidak sebagai kebun ampel polos, di Sembalun tuntas. Setiap orang saling berdepan-depan dan mencipta lorong.

Rumpun ampel juga berperan hiasan di congor habis, antara satu orang dengan orang lain bersatu faktor pucuk. Bagi pejalan yang melewati rantaian ini akan terlindungi berpunca kritis.

Pemandangan menawan itu hanya di rantaian yang dilewati wisatawan. Begitu berisi ke faktor lebih luas, tumpukan sampah melintangi habis. Bukan lagi sampah plastik luas sungkupan, tetapi sampah plastik dan organik bercecer.

Kebun ampel makbul lokasi pembuangan sampah. Layaknya kotak pembuangan akhir (TPA).

Sungai yang lewat di dekat ampel itu juga lebat tumpukan sampah plastik. Sampah plastik mencipta timbunan, sebagai gunung. Di atas timbunan itu seladang milik kerabat mengais makanan. Tampak perut sapi-sapi berbadandua. Tidak renggang seladang memakan plastik dan sisa sampah organik.

Kalau punah, sapi-sapi itu tidak perlu bermufakat jauh, atau pemilik repot menyiapkan air. Mereka berumah minum di tataan bengawan, yang bila sama dimanfaatkan kerabat setempat. Warga bersisa mencuci pakaian, jasad aula tangga di tataan bengawan itu. Air mustakim, menyedihkan ramai sampah.

Di rantaian pendakian Bukit Inspirasi, termasuk rantaian pendakian Rinjani, tidak luput berpunca tumpukan sampah. Sampah-sampah di luas sungkupan lalu ditinggalkan luar biasa melebar di congor habis.

Sebagian sungkupan tampak lantas, sebagian habis berkarat dengan isi utuh. Sandal dengan tulisan nama hotel pun ada di luas tumpukan sungkupan itu.

 

Pegiat terpuji Qudus mengacu paving blok yang dibuat berpunca sampah plastik. Dia pernah kecewa panen berkah sawahnya dipenuhi sampah plastik dan popok.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

 

Ciptakan bala

Abdul Qudus, pegiat literasi di Lombok. Dia bersisa ingat peristiwa memilukan itu. Qudus tanam kol dan lunas panen. Calon pembeli habis ada.

Dua hari sebelum panen hujan melantai berderet-deret. Qudus agak resah, jangan sampai air irigasi berisi ke kebunnya. Dia mengerti ramai saluran irigasi mampet berkah sampah.

Qudus membuang jauh-jauh omongan itu. Dia beragak-agak, petani lain akan membuka saluran kapan tersumbat sampah. Hingga pada hari H panen, Qudus membawa produk untuk panen.

Sesampai di kebun Qudus langsung tercengang. Dia menghalakan hamparan tanaman kol berperangai jernih. Sebagian melembak kol tertutupi popok tanda-tanda. Lutut Quduslemas. Qudus menitikkan air mata.

“Rusak semua. Sudah tercemari oleh popok,’’ katanya.

Kol kecewa panen, Qudus harus menamatkan ladang berpunca sampah plastik. Sebagian melembak popok. Ketika hujan meluap, sungkupan yang habis berkarat tertebar. Isinya singgah, itulah yang berisi ke ladang Qudus.

Pengalaman ugal-ugalan itu pula yang makbul motivasi Qudus dan teman-teman mengolah sampah plastik di Sembalun. Dia mengolah sampah plastik makbul paving blok. Bukan untuk bisnis, mereka ingin mengurangi tumpukan sampah.

Qudus mengerti, kapan metode pembakaran untuk menghasilkan paving blok itu tidak kemas, tetapi luas kondisi krisis perlu perfek aberupa. Sampah yang dibuang sembarangan habis mengkhawatirkan.

Qudus mengantar kami ke lokasi pembuangan sampah, di salah satu orang ampel. Dia bilang, sebulan lalu habis pernah dibersihkan. Dia mengambil sampah plastik dan jadikan paving blok. Tak perlu masa sakti, rujuk lebat dengan tumpukan sampah.

Dalam lima tahun segar wisatawan yang berpatroli ke Sembalun berimbuh pesat, paling ramai lokal. Mereka tidak mendaki, tetapi liburan menikmati keindahan negeri Sembalun.

Mereka berpangkal memetik stroberi, sekadar berpotret, bermalam di homestay. Ada juga wisatawan mendaki bukit-bukit di Sembalun. Di akhir pekan, bisa mencapai ribuan.

“Kemana sampah mereka?” tanya Qudus.

Selain sampah berpunca masyarakat Sembalun, sampah berpunca wisatawan juga menambah ongkos. Kabupaten Lombok Timur memiliki TPA di Ijobalit. Perlu masa 1.5 jam berpunca Sembalun.

Dengan habis curam, perlu masa lebih sakti. Tak ada jejeran pengangkutan sampah berpunca Sembalun ke TPA. Desa-desa di Sembalun, termasuk Kecamatan Sembalun, belum memiliki TPS. Akhirnya, sampah-sampah itu dibuang ke kotak yang mungkin luput berpunca pandangan mata.

“Area kuburan pun makbul lokasi pembuangan sampah,’’ penalaran Qudus.

Perputaran uang berpunca berpiknik di Sembalun, cukup melembak, bisa ratusan juta rupiah di akhir pekan melebar. Qudus juga memohon para pelaku berpiknik berikut bekerja. Sampah berpunca tamu mereka harus ada solusi. Bukan malah berikut membuang sembarangan.

Hotel, homestay, kantin, pengelola pendakian, termasuk juga Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, KPH Rinjani Timur harus berikut bekerja terhadap sampah. Mereka mendapatkan manfaat berpunca kehadiran wisatawan, tetapi tidak ada solusi atas sampah wisatawan.

Sampah hanya dibersihkan berpunca selasar mereka, tetapi ayun ke “halaman belakang” Sembalun.

“Jangan hanya pikirkan uang,” penalaran Qudus.

 

Puncak Sembalun terlihat tampan berpunca rantaian bertambah(usia) petunjuk Inspirasi, tapi sayang rantaian ini juga berperan lokasi pembuangan sampah, khususnya popok.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

 

Kelompok awewe tagih janji babon

Pada 10 Agustus 2020, Kelompok Perempuan Sembalun Belajar (KPSB) mengundang seluruh bos desa di kecamatan Sembalun, Camat Sembalun, KPH Rinjani Timur, Taman Nasional Gunung Rinjani, Dinas LHK NTB.

Para awewe ini menuntut para babon dan penanggungjawab golongan berpiknik Sembalun mencarikan solusi atas sampah di sana.

Hadiana, kantor agen awewe berpunca Desa Sembalun Bumbung bersuara, popok makbul bab melembak di Sembalun. Popok, katanya, pasti berpunca aula tangga. Selama ini, yang kering disalahkan ada ibu-ibu aula tangga. Mereka dianggap membuang popok sembarangan.

Ibu-ibu yang membuang popok di sembarang kotak itu berkah tak tersedia kotak pembuangan sementara. Selain itu, tidak ada petugas kebersihan di Sembalun.

“Setiap bengawan pasti ada sampah. Popok yang tidak bisa kami atasi,’’ katanya.

Sitradewi berpunca Desa Sembalun bilang, pemerintah dan pengelola berpiknik di Sembalun, jangan hanya saling menyalahkan. “Harus ada solusi.” Dia memohon, ada pelatihan pengolahan sampah, kemas organik dan plastik.

“Ibu-ibu perlu dilatih mengolah sampah,’’ katanya.

Sunardi, Kepala Desa Sembalun Bumbung, mengakui bab sampah habis darurat. Selama ini, pemerintah desa formal gotong royong menamatkan sampah. Pemerintah desa juga pernah membimbing program 3R (reduce, reuse, rescycle) tetapi tak bermufakat efisien.

“Setiap Rabu, gotong royong, tapi tidak menyelesaikan masalah.”

Sunardi bilang, selama tiga tahun berprofesi bos desa tidak mahir menyelesaikan bab sampah. Sampah di Sembalun Bumbung, alangkah semata berpunca kerabat desa, juga wisatawan.

Dia menunjuk Pusuk Sembalun. Di golongan milik KPH Rinjani Timur dan dipungut retribusi Dinas Pariwisata Lombok Timur itu lebat tumpukan sampah. Sampah berpunca pengunjung dibuang luar biasa melebar di tebing, saluran, dan congor habis.

Kadang sampah dikumpulkan luas kantong plastik, lagi-lagi dibuang ke saluran dan tebing.

“Ketika hujan, sampah itu dibawa melantai ke Bumbung,’’ katanya.

Saat ini, Pemerintah Desa Sembalun Bumbung menganggarkan pembelian tungku pembakaran sampah. Dia mengakui ada hantaman berpunca pembakaran itu, tetapi setidaknya bisa campin mengurangi tumpukan sampah sambil terus berburu alternatif mengatasi sampah luas jangka mancung.

Lalu Kanahan, Kepala Desa Sajang, juga mengeluhkan sampah. Di Desa Sajang ongkos berangkap, selain tak ada kotak pengolahan sampah, juga krisis air mustakim.

Setelah gempa 2018, ramai sumber mata air bobol. Akhirnya, Sajang mengambil air berpunca Sembalun.

Madani Mukarom, Kepala Dinas LHK NTB bilang, persoalan sampah di Sembalun tidak bisa segeh oleh satu pihak melebar. Masyarakat, pemerintah desa, termasuk pengelola berpiknik juga harus mengobrol sama mengatasi persoalan sampah.

Dinas LHK NTB memberikan asistensi fasilitas pengolahan sampah, tetapi ada keterbatasan. Dia bernafsu, pemerintah desa, terutama pengelola berpiknik ambil faktor luas mengatasi bab sampah.

Sejak Sembalun umum berperan destinasi berpiknik, harus diakui ada peningkatan kesejahteraan. Meski luar biasa, hantaman ikutan sebagai sampah harus dipikirkan. “Harus jadi prioritas.”

Dedy Asryady, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bilang, sampah di Rinjani makbul sorotan banyak. Sebagai objek berpiknik favorit, Rinjani saja makbul perhatian publik. Balai TNGR serupa pengelola mengajak pawai masyarakat untuk membantu mengatasi sampah. Secara formal mereka menamatkan sampah berpunca gunung, dan mengontrol sampah yang dibawa naik dan bawa melantai. Hanya, setelah sampah itu terkumpul di Kantor Balai TNGR kesulitan juga untuk mengolah.

“Harus dikelola dari hulu sampai hilir. Kami nanti kerjasama dengan satu kelompok untuk bawa turun sampah dari gunung, dan satu kelompok yang akan mengolah setelah dibawa turun.”

 

Keterangan foto baku:: Tumpukan sampah di kebun ampel, tak jauh berpunca aula formalitas Sembaun dan Bukit Selong. Setiap akhir pekan kotak ini mumbung dikunjungi wisatawan.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

 

Source Link

7 Tempat Wisata di Lombok, Cocok untuk Pencinta Alam

KOMPAS.com – Berwisata negara di Lombok merupakan bab yang menarik. Pasalnya, pulau tersebut menawarkan sejumlah bentala melancong negara yang indah dikunjungi.

Apabila beraspirasi untuk bersambang ke Lombok padat seumpama dekat, ikut daftar tujuh bentala melancong di Lombok yang bisa dikunjungi yang telah Kompas.com rangkum berpunca beranekaragam sumber, Rabu (26/8/2020).

Baca juga: Lombok Masuk Destinasi yang Lagi Trending di Dunia

1. Gili Trawangan

Terletak di Kabupaten Lombok Utara, angka melancong ini menawarkan beranekaragam kegiatan menarik, sekaligus pemandangan alamnya yang tampan.

Salah satu aktivitas wisatawan di sana adalah berenang di ucapan laut sambil menikmati airnya yang suci dan ekosistem lautnya yang bangun.

Usai berenang, pengunjung bisa berdayung di bibir pantai atau naik cidomo mengelilingi pulau. Cidomo adalah basa setempat untuk “delman”.

Ilustrasi Gili Trawangan.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Gili Trawangan.

2. Gili Air

Jernihnya air laut di Gili Air memperbaiki wisatawan bisa mengawasi bebatuan dan menghelat berpunca lambe pantai. Jika berbahasa sedikit ke tengah laut, kamu bisa mengawasi bermacam rupa ikan dan karang.

Untuk mengawasi bebatuan dan menghelat di lambe pantai, pengunjung bisa menyewa sepeda untuk berbelok. Sambil berdayung, mudahmudahan kamu akan mengawasi bulu kartu ceki atau teripang yang tersekat.

Saat bersambang ke Gili Air, jangan lupa dirikan hammock dan pesan es butir untuk dinikmati sambil mengawasi matahari terbenam.

Baca juga: Liburan ke Lombok, Jangan Lupa ke Gili Air

Source Link